PENGARUH SUBSTITUSI KONSENTRAT DENGAN TEPUNG DAUN WORTEL DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN

Wiqar, Auliya (2009) PENGARUH SUBSTITUSI KONSENTRAT DENGAN TEPUNG DAUN WORTEL DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN. Other thesis, Universitas Negeri Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (345Kb)

    Abstract

    Pola konsumsi masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menuju ke arah gizi berimbang. Faktor-faktor tersebut yaitu pertambahan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan dan pengetahuan masyarakat tentang gizi. Hal tersebut yang kemudian mendorong peningkatan permintaan pangan yang berkualitas. Salah satu pangan yang mempunyai nilai kandungan gizi yang tinggi yaitu daging. Daging merupakan sumber protein hewani. Salah satu ternak pensuplai daging yaitu kelinci. Kelinci dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging. Menurut Kartadisastra (1994), ternak kelinci adalah salah satu komoditas peternakan yang dapat menghasilkan daging berkualitas tinggi, serta ditambahkan pula oleh Kartadisastra (1997), dengan struktur dagingnya lebih halus dengan warna dan bentuk yang menyerupai ayam. Daging kelinci mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan ternak lainnya seperti sapi, kambing dan babi. Kelinci pun mempunyai kandungan kolesterol yang rendah. Menurut Sarwono (2008) ternak kelinci ini bila dikelola secara intensif dapat beranak 4-6 kali setahun. Sekali melahirkan menghasilkan 6-8 ekor anak. Peternakan kelinci secara intensif, pakan yang diberikan 60% hijauan dan 40% konsentrat. Kelinci yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kelinci lokal jantan. Kelinci lokal merupakan kelinci yang diperkirakan awalnya berasal dari kelinci jenis Nederland dwarf. Kelinci tersebut telah mengalami persilangan dengan kelinci setempat di daerah. Keuntungan dari kelinci lokal yaitu telah mengalami adaptasi dengan lingkungan. Sedangkan pemilihan kelamin jantan didasarkan pada tingkat pertumbuhannya. Kelinci jantan memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan kelinci betina. Usaha peternakan kelinci sebenarnya memiliki peluang yang cukup besar di Indonesia, untuk dipilih sebagai lapangan pekerjaan. Hal ini disebabkan melimpahnya limbah pertanian. Pemanfaatan sumber daya pakan lokal dalam budidaya kelinci akan memudahkan peternak memperoleh pakan 18 18 yang ketersediaannya terjamin dan harganya murah, sehingga biaya produksi menjadi rendah dan akhirnya akan memperbesar pendapatan peternak kelinci. Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi kelangsungan produktivitas peternakan. Hal ini disebabkan pakan merupakan komponen pemenuhan kebutuhan gizi pada usaha peternakan khususnya konsentrat buatan pabrik pakan yang harganya relatif mahal, sehingga untuk mencukupi kebutuhan ternak tersebut maka digunakan alternatif bahan baku pakan ternak yang berasal dari limbah pertanian. Di samping itu pakan merupakan biaya terbesar yang dikeluarkan oleh usaha peternakan. Pada pola pemeliharaan intensif, biaya produksi terbesar berasal dari pakan yaitu sebesar 60-70%. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan peternakan adalah dengan upaya peningkatan efisiensi pakan atau penurunan biaya pakan. Didukung oleh Suprijatna et al (2005), produksi efisien akan tercapai bila tersedia pakan murah, tetapi kebutuhan nutrien ternak terpenuhi. Pakan yang baik yaitu pakan yang mengandung nutrien lengkap. Untuk meminimalkan biaya pakan maka digunakan pakan murah, tetapi masih mempunyai kandungan nutrien yang tinggi. Salah satu bahan pakan alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak yaitu daun wortel. Untuk saat ini daun wortel umum digunakan sebagai pakan ternak didaerah Tawangmangu. Tanaman wortel dapat tumbuh dengan baik karena didukung letak geografis Tawangmangu yang bersuhu sejuk. Wortel merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24 °C), lembab, dan cukup sinar matahari. Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya terdapat di daerah berketinggian antara 1.200-1.500 m dpl (BPPTP, 2007), Daun wortel adalah limbah pertanian yang berasal dari tanaman wortel. Satu tanaman wortel didapatkan 162,3 gram, yang terdiri dari umbi sebanyak 135,1 gram (83,24%) dan daun wortel 27,2 gram (16,76%). Sedangkan untuk persentase daun wortel dari umbi wortel adalah 20,13%. Menurut Data Statisktik tahun 2002 (Anonimus, 2009), luas panen wortel untuk Jawa Tengah adalah 2.467 hektar dengan produksi umbi wortel 26.034 ton. Produksi umbi wortel tersebut akan menghasilkan 3.879,08 ton daun wortel. Ketersediaan 19 19 daun wortel cukup melimpah sehingga saat panen banyak sekali daun wortel yang tersisa meskipun telah dipergunakan untuk pakan ternak. Daun wortel yang tersisa banyak dibiarkan di ladang yang akhirnya membusuk. Untuk itu perlu adanya suatu penanganan agar daun wortel yang ketersediaannya cukup banyak bisa dimanfaatkan secara maksimal. Menurut Sartika, et. al, (1988) cit Wicaksono, (2007) daun wortel mengandung Protein Kasar 18,71%; Serat Kasar 15,69%; Lemak Kasar 3,19%; dan Abu 33,58%. Dalam penelitian Wicaksono (2007), dapat diketahui bahwa campuran IRk (Isi Rumen kering) dan DWk (Daun Wortel kering dapat menggantikan wheat pollard hingga 60% dalam ransum (30% IRk dan 30% DWk). Berdasarkan penelitian tersebut diharapkan tepung daun wortel dapat menggantikan konsentrat BR 1 hingga taraf 100%.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: Q Science > QL Zoology
    Divisions: Fakultas Pertanian > Peternakan
    Depositing User: Chrisstar Dini S
    Date Deposited: 14 Jul 2013 20:09
    Last Modified: 14 Jul 2013 20:09
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3925

    Actions (login required)

    View Item