Peran Hutan Pinus sebagai Pendukung Keberlanjutan Fungsi DAS di DAS Kedungbulus, Kebumen, Jawa Tengah

PRAMONO, IRFAN BUDI (2018) Peran Hutan Pinus sebagai Pendukung Keberlanjutan Fungsi DAS di DAS Kedungbulus, Kebumen, Jawa Tengah. PhD thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (803Kb)

    Abstract

    Irfan Budi Pramono, T741408001. Peran Hutan Pinus sebagai Pendukung Keberlanjutan fungsi DAS di DAS Kedungbulus, Kebumen, Jawa Tengah. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pembimbing: Prof. Dr. Ir. M. Th. Sri Budiastuti, MSi.(Promotor), Prof. Dr. Totok Gunawan, MS.(Ko Promotor I), Dr. Wiryanto, MSi (Ko Promotor II). Daerah Kabupaten Kebumen sering mengalami masalah tata air, banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Tutupan lahan di hulusungaisungai di Kabupaten Kebumen merupakan hutan pinus. Diharapkan hutan pinus di daerah hulu dapat mengatasi masalah banjir dan kekeringan. Namun kenyataan daerah Kebumen setiap tahun masih mengalami banjir dan kekeringan sehingga keberadaan hutan pinus dalam mengatur tata air masih dipertanyakan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi keragaman biogeofisik yang berpengaruh terhadap respon hutan pinus terhadap hidrologi pada setiap sub DAS, (2) Mempelajari tingkat aliran (debit dan volume) banjir, aliran dasar, aliran rendah, dan hasil air pada berbagai luas hutan pinus, (3) Mempelajari peran hutan pinus dalam aspek social dan ekonomi masyarakat desa sekitar hutan, dan (4) Menemukan peran hutan pinus sebagai pendukung keberlanjutan fungsi DAS di sub DAS Kedungbulus. Lokasi penelitian di DAS Kedungbulus, Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah dengan ketinggian tempat berkisar antara 80- 250 m dari permukaan laut (dpl). Luas hutan pinus pada setiap sub DAS bervariasi dari 7% sampai dengan 95% dari luas sub DAS. Penutupan lahan lain berupa tegalan, sawah tadah hujan, semak belukar, pemukiman, dan padang rumput. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratifdeskriptif dengan teknik pengukuran tata air dan wawancara secara langsung. Keragaman biogeofisik dilakukan dengan pengukuran karakteristik DAS seperti bentuk, kelerengan, geologi, tanah, serta tinggi, diameter, dan kerapatan tegakan pinus Penentuan luas hutan pinus dan tutupan lahan lain dilakukan melalui interpretasi citra World View dan pengecekan lapangan. Puncak dan volume banjir dipilih dari pemantauan tinggi muka air otomatis dengan logger “Hobo”. Pemisahan aliran dasar dan aliran langsung menggunakan program “Hydro-Office” paket software khususnya program BFI+ 3.0. Hasil air diukur secara langsung berdasarkan pemantauan debit harian dan prediksi dengan metode neraca air “Thorthwaite & Mather”. Setiap parameter hidrologi seperti puncak banjir, volume banjir, aliran dasar, dan aliran rendah dihubungkan dengan luas hutan dan dievaluasi hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas tersebut menggunakan persamaan regresi dengan menggunakan program “Microsoft Office Excel 2007”. Peran hutan pinus dalam peningkatan pendapatan petani sekitar hutan dilakukan dengan wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Keragaman biogeofisik pada setiap sub DAS hampir sama. Komposisi kelas lereng yang dominan yaitu kelas lereng 25% - 45%. Bentuk setiap sub DAS hampir sama yaitu bulat dengan nilai Rc sebesar 0,52 viii sampai dengan 0,68. Geologi di DAS Kedungbulus didominasi oleh formasi Waturondo. Jenis tanah hanya ada dua yaitu Dystropepts dan Tropudalfs. Tinggi pohon pinus bervariasi dari 20,2 m sampai dengan 24,93 m, kerapatan pohon bervariasi dari 388 pohon/ha sampai dengan 473 pohon/ha. Diameter pohon setinggi dada (DBH) bervariasi dari 27 cm sampai dengan 40 cm. Variasi kondisi biogeofisik DAS Kedungbulus terlihat bahwa setiap sub DAS mempunyai kondisi biogeofisik hampir sama menyebabkan respon hutan pinus dari air hujan menjadi aliran juga hampir sama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa yang membedakan respon hidrologi antar sub DAS adalah luas penutupan hutan pinus. (2) Kemampuan hutan pinus untuk mengurangi puncak banjir terjadi pada saat curah hujan satu kali kejadian kurang dari 70 mm. Ketika hujan yang terjadi ≥70 mm, puncak banjir spesifik dari berbagai luas hutan memiliki hasil yang sama. Puncak banjir spesifik sama terjadi karena intensitas curah hujan tinggi dan kelembaban tanah sebelum (KTS) juga tinggi. Untuk volume banjir, makin luas hutan pinus dalam suatu DAS maka volume banjir spesifik makin kecil, namun pada hujan >70 mm makin luas hutan pinus, volume banjir spesifik makin besar. Hal ini terjadi karena hutan pinus sudah tidak mampu lagi menahan air hujan pada intensitas lebih dari 70 mm per kejadian hujan. Untuk hasil air, makin luas hutan pinus dalam suatu DAS maka hasil air makin sedikit. Hasil air dari sub DAS dengan hutan pinus seluas 7% sebesar 1.520 mm / tahun. Sementara, DAS dengan hutan pinus seluas 95% dari luas DAS menghasilkan air lebih rendah yaitu 1.289 mm/tahun. Untuk aliran dasar(base flow) , makin luas hutan pinus, aliran dasar cenderung makin kecil, namun pada hujan tinggi (>70 mm) makin luas hutan pinus aliran dasar makin besar. Untuk indek aliran dasar (BFI), makin besar luas hutan pinus maka BFI cenderung naik. BFI adalah perbandingan aliran dasar dan total aliran. Makin tinggi BFI maka kondisi DAS dalam menyimpan air makin baik. Pada luas hutan 43% nilai rata-rata BFI=0,55, sedangkan pada luas hutan 75% nilai BFI=0,75. Untuk aliran rendah, makin luas hutan pinus maka aliran rendah (low flow) makin tinggi, (3) Hutan pinus berpengaruh dalam aspek social dan ekonomi masyarakat desa sekitar hutan..Aspek social meliputi pengurangan penggangguran untuk mengerjakan penanaman, perawatan, penyadapan getah, dan penebangan pohon pinus. Selain itu, konflik lahan tidak banyak terjadi pada hutan pinus karena masyarakat sekitar hutan pinus tergantung pada penyadapan getah pinus. Pencurian kayu di hutan pinus tidak banyak terjadi karena kayu pinus kurang mempunyai nilai ekonomi. Hal ini disebabkan oleh adanya getah di dalam kayu pinus yang cukup tinggi sehingga tidak sesuai untuk kayu pertukangan. Aspek ekonomi meliputi peningkatan pendapatan masyarakat dari penyadapan getah pinus. Hasil dari penyadapan getah pinus ini memberikan tambahan pendapatan masyarakat di sekitar hutan pinus sampai 73% dari total pendapatan rumah tangga. (4) Hutan pinus mempunyai peran dalam mendukung keberlanjutan fungsi DAS yaitu mampu mengurangi puncak banjir sebesar 80%, mengurangi volume banjir sebesar 76%, dan meningkatkan aliran rendah sebesar 88% dengan penambahan luas hutan pinus sebesar 57% dari luas DAS. Namun demikian hutan pinus ternyata mengurangi hasil air tahunan sebesar 15% dengan penambahan luas hutan sebesar 87%. ix Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hutan pinus mempunyai peran dalam mendukung keberlanjutan fungsi DAS yaitu mampu mengurangi puncak banjir, mengurangi volume banjir, dan meningkatkan aliran rendah. Namun demikian hutan pinus ternyata mengurangi hasil air tahunan. Peran hutan pinus dalam mendukung keberlanjutan fungsi DAS dapat dioptimalkan dengan menerapkan tehnik-teknik konservasi air seperti rorak dan teras serta mengubah metode penyadapan dari system kowakan menjadi system sersan terbalik agar pohon roboh akibat penyadapan dapat dihindari. Kata kunci: peran hutan pinus, banjir, aliran rendah, hasil air, pendapatan petani

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: S Agriculture > SD Forestry
    Divisions: Pascasarjana
    Pascasarjana > Doktor
    Depositing User: Wahyu Trianingsih
    Date Deposited: 05 Jan 2018 21:19
    Last Modified: 05 Jan 2018 21:19
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/39009

    Actions (login required)

    View Item