PENGARUH KEHARMONISAN DAN PENDAPATAN KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA SEMESTER I TAHUN AJARAN 2005-2006

Purnomo, Agus (2005) PENGARUH KEHARMONISAN DAN PENDAPATAN KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA SEMESTER I TAHUN AJARAN 2005-2006. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (545Kb)

    Abstract

    Negara yang maju adalah negara yang mempunyai sumberdaya manusia yang unggul, yaitu manusia yang cerdas dan pintar serta bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa yang dihasilkan melalui lembaga pendidikan formal maupun non formal. Oleh karena itu, pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dalam suatu negara, karena dengan pendidikan, negara dapat menentukan kehidupannya ke arah yang lebih baik. Selain itu, negara juga dapat meningkatkan dan mengembangkan sumberdaya manusia warga negaranya, karena dengan sumberdaya manusia yang berkualitas maka pembangunan nasional dapat berjalan dengan lancar, terlebih Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang besar. Sampai saat ini, jumlah penduduk Indonesia tercatat lebih dari dua ratus juta jiwa yang semuanya merupakan tantangan bagi pemerintah Indonesia untuk mengembangkan kemampuannya di segala bidang melalui lembaga pendidikan formal maupun non formal. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mencanangkan wajib belajar sembilan tahun bagi seluruh warga negara yang diselenggarakan dan dibiayai oleh pemerintah, seperti yang tertuang dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 2 yang berbunyi “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib untuk membiayainya” dan ayat 3 yang berbunyi “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang–undang”. Pasal tersebut menerangkan bahwa pemerintah wajib menyelenggarakan dan membiayai pendidikan dasar bagi rakyat Indonesia. Selain itu pasal tersebut juga menjelaskan bahwa pendidikan nasional tidak hanya mencerdaskan rakyat saja, tetapi juga disertai dengan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga dengan pendidikan warga negara Indonesia tidak hanya menjadi bangsa yang cerdas tetapi juga bangsa yang berakhlak mulia, seperti yang tercantum pada tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang RI no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Pasal 3 yang berbunyi: Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (hal: 7) Rumusan tersebut dimaksudkan bahwa pendidikan nasional tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan manusia saja tetapi tujuan yang sebenarnya adalah meningkatkan kualitas iman dan takwa manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena manusia yang pandai tetapi tidak beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa maka orang tersebut akan merasa bahwa tidak ada yang lebih hebat dibandingkan dengannya dan tidak ada yang ditakutinya, sehingga ia akan berbuat sesuka hatinya walaupun yang dilakukannya adalah sebuah kejahatan. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia ingin bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang cerdas dan beragama, karena negara yang mempunyai rakyat cerdas dan beragama akan menjadi negara yang makmur dan sejahtera. Namun, dengan wajib belajar yang telah dicanangkan pemerintah beberapa tahun yang lalu ternyata belum dapat merubah kualitas sumberdaya manusia Indonesia seperti yang diharapkan, terbukti dengan mundurnya target wajib belajar sembilan tahun yang semula pada tahun 2004 menjadi tahun 2008. Kemunduran tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah anjloknya nilai tukar mata uang Indonesia (rupiah) terhadap mata uang Amerika (dolar). Keadaan ini menjadikan semua harga kebutuhan pokok maupun sekunder melambung tinggi tanpa disertai kenaikan gaji dan upah yang sebanding dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Sehingga daya beli masyarakat terhadap kebutuhan sehari-hari turun drastis yang menyebabkan mereka tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi dan bahkan banyak dari anak-anak mereka yang putus sekolah karena mereka tidak mampu membayar biaya sekolah yang semakin tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah merencanakan anggaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemerintah sebelumnya guna menunjang keberhasilan pendidikan, seperti yang tertulis pada UUD 1945 Pasal 31 ayat 4 yang berbunyi “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang– kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”. Selain itu, pemerintah juga telah mengurangi subsidi BBM dengan maksud pengalihan subsidi BBM ke sektor kesehatan dan pendidikan, karena menurut pemerintah subsidi BBM tersebut lebih dari 70 %-nya dinikmati oleh konglomerat sehingga agar subsidi tepat sasaran maka harus ditempatkan pada sektor yang tepat pula yaitu sektor pendidikan dan kesehatan. Namun pengalihan subsidi tersebut belum cukup terasa bagi rakyat kecil karena pendapatan mereka tetap saja tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang semakin tinggi apalagi untuk membayar biaya pengobatan dan sekolah yang tetap saja semakin tinggi walaupun subsidi BBM telah dihapuskan beberapa waktu lalu. Pemerintah pernah berjanji akan membebaskan biaya pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, namun pada kenyataanya pemerintah hanya memberikan bantuan yang disebut Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang jumlahnya sangat kecil bila dibandingkan dengan biaya yang harus ditanggung setiap siswa. Oleh karena itu, setiap siswa masih dibebani biaya yang tinggi karena setiap sekolah cenderung menaikkan biaya sekolah setiap tahunnya sehingga dengan adanya bantuan tersebut belum berpengaruh terhadap program pendidikan murah apalagi gratis. Namun, keberhasilan pendidikan nasional tidak hanya bergantung pada faktor anggaran yang besar saja, tetapi juga faktor–faktor yang lain, baik dari pihak sekolah, keluarga, maupun masyarakat, seperti: sarana dan prasarana sekolah, guru, siswa, kondisi sekolah, kondisi keluarga, ekonomi keluarga, pergaulan, dan sebagainya. SMA Muhammadiyah 2 Surakarta adalah salah satu sekolah yang mempunyai mayoritas siswa dari golongan ekonomi menengah dan tinggi. Selain itu, mereka juga mempunyai sumberdaya manusia yang dapat dihandalkan, terutama guru dan siswanya. Guru dan siswa merupakan faktor terpenting dalam pendidikan, karena berhasil tidaknya pendidikan dapat dilihat dari dua faktor ini. Sehingga sebagian masyarakat berpandangan bahwa kualitas siswa tergantung pada kualitas gurunya. Pandangan tersebut sangat tidak obyektif dan terkesan menyudutkan guru, karena pada kenyataannya, sebagian siswa mendapat prestasi atau nilai kurang memuaskan pada setiap mata pelajaran terutama akuntansi, padahal akuntansi merupakan mata pelajaran yang tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan ilmu hitung lainnya, seperti: matematika, fisika, kimia. Hal tersebut dikarenakan masalah dari pihak siswa, baik itu dari diri siswa itu sendiri maupun keluarga siswa yang bersangkutan. Kondisi rumah sangat berpengaruh terhadap perilaku siswa, karena dari lingkungan inilah siswa mulai berinteraksi dengan orang lain, baik keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Apabila kondisi keluarga berantakan atau disharmonis maka akan membuat siswa berperilaku tidak sewajarnya dan cenderung menjadi pemarah dan berani melawan kedua orang tuanya, sehingga banyak siswa yang merasa jenuh berada di rumah karena kondisi kelurga yang tidak mendukung siswa untuk belajar, lain halnya jika keluarga tergolong harmonis maka siswa akan senang belajar di rumah karena situasi dan kondisi rumah yang sangat mendukung siswa untuk belajar, selain itu siswa juga mempunyai perilaku yang baik dan mudah dikendalikan oleh orang tua. Kondisi keluarga harmonis dan tidak harmonis atau berantakan akan mempengaruhi perilaku siswa sebagai anak didik di dalam keluarga yang berimbas terhadap prestasi siswa di sekolah. Prestasi siswa juga dipengaruhi oleh sarana dan prasarana yang menunjang siswa untuk belajar, baik secara kualitas maupun kuantitas dan yang dimiliki pihak sekolah maupun siswa. Pandangan masyarakat umum menyatakan bahwa siswa yang mempunyai banyak sarana dan prasarana penunjang belajarnya akan mempunyai prestasi lebih baik dari pada siswa yang minim sarana dan prasarana. Namun untuk membeli sarana dan prasarana dibutuhkan dana yang besar sehingga hanya siswa dari keluarga berpendapatan besar saja yang mampu membelinya sedangkan siswa dari keluarga berpendapatan sedang dan bahkan kecil hanya dapat berusaha mengatasi masalah tersebut dengan jalan alternatif meminjam atau belajar dengan sarana dan prasarana seadanya. Langsung atau tidak langsung, keharmonisan dan pendapatan keluarga akan berpengaruh terhadap prestasi siswa di sekolah. Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti seberapa besar pengaruh tingkat keharmonisan dan pendapatan keluarga terhadap prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, penelitian ini diberi judul: “PENGARUH TINGKAT KEHARMONISAN DAN PENDAPATAN KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI SEMESTER I SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2005-2006”.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HF Commerce > HF5601 Accounting
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:05
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:05
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3897

    Actions (login required)

    View Item