Model Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelayanan Peduli Kesehatan Reproduksi (Studi Kasus Pada Remaja Paguyuban X)

nur djannah, sitti (2017) Model Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelayanan Peduli Kesehatan Reproduksi (Studi Kasus Pada Remaja Paguyuban X). Other thesis, sebelas maret university .

[img] PDF - Published Version
Download (850Kb)

    Abstract

    MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELAYANAN PEDULI KESEHATAN REPRODUKSI DAN SEKSUAL REMAJA (Studi Kasus pada Remaja Paguyuban X) Sitti Nur Djannah, Bhisma Murti, Yayi Suryo Prabandari, Sapja Anantanyu RINGKASAN Pada zaman modern ini, remaja telah mengalami pergeseran moral, pola pikir dan perilaku. Hal ini terjadi karena kemajuan transportasi dan telekomunikasi yang menyebar secara global pada budaya remaja, sehingga mereka terpengaruh oleh budaya asing. Perilaku negatif pada kesehatan remaja, salah satunya adalah aktivitas seks pada remaja yang cenderung meningkat. Perilaku negatif berupa aktivitas seks pada remaja tersebut, antara lain tergantung pada personal remaja, teman sebaya, peran media pornografi dan keluarga, serta lembaga terkait yang peduli pada pelayanan kesehatan reproduksi remaja, baik dari pemerintah maupun non pemerintah. Berdasar hasil studi pendahuluan, terdapat sekelompok remaja yang terorganisir pada suatu paguyuban bidang seni tari tradisional, yaitu jathilan yang bernama Paguyuban X, yang remaja anggotanya telah berperilaku seksual yang berisiko terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, kejadian aborsi dan pernikahan usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku seksual remaja Paguyuban X tersebut, untuk mengetahui dimensi peran internal, meliputi tumbuh kembang dan kemampuan kesehatan reproduksi, dimensi peran faktor eksternal, seperti pengaruh teman sebaya, media pornografi, pengaturan orang tua dalam hubungannya dengan perilaku seksual, dimensi peran integratif eksternal terhadap personal remaja, peran lembaga terkait pelayanan peduli kesehatan reproduksi remaja, serta untuk merumuskan suatu model untuk merubah perilaku seksual yang sehat remaja Paguyuban X dengan partisipasi semua pihak, baik dari remaja sendiri dengan kemampuan lokalnya, maupun semua pihak yang terkait dengan kesehatan reproduksi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus pada remaja Paguyuban X yang merupakan suatu paguyuban di bidang seni tari tradisional jathilan. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, dan pengambilan data menggunakan in-depth interview dan FGD. Penelitian dilakukan di Kecamatan Wirobrajan dengan waktu penelitian April 2014 – Maret 2017. Strategi analisis data studi kasus yang digunakan adalah strategi analisis data studi kasus yang mendasarkan pada proposisi teoritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku seksual remaja anggota Paguyuban X, hampir semuanya telah mempunyai teman dekat (pacaran), dari 47 informan ada 32 remaja yang telah melakukan hubungan intim, perilaku yang lainnya, di antaranya meraba organ sensitif ada lima orang, berciuman dua orang, berpelukan dan bergandengan tiga orang, dan hanya lima remaja yang menyatakan belum berpacaran/hanya melakukan onani. Peran internal dalam hubungannya dengan perilaku seks pranikah remaja adalah adanya kemampuan menahan emosi yang rendah sehingga timbul perilaku di luar batas, tingkat kedisiplinan yang rendah, cita-cita yang belum dapat menjadi tujuan hidup untuk mencapainya, penyelesaian masalah yang belum baik dan praktik keagamaan dalam menjalankan sholat wajib yang rendah. Kemampuan KRR pada remaja dapat dikatakan masih rendah, mereka belum mengetahui definisi sehat yang menyeluruh, sehat menurut mereka hanya dari kesehatan fisik, kemampuan dalam organ reproduksi, mereka mengetahui hanya pada organ reproduksi luar, kemampuan dalam menjaga organ reproduksi hanya untuk menjaga kebersihan saja, serta kemampuan penyakit menular hanya mengetahui dua penyakit yaitu, sifilis dan HIV/AIDS. Dimensi peran eksternal meliputi : peran teman sebaya, media akses situs pornografi dan fungsi keluarga, terutama orangtua. Peran teman sebaya, di antaranya teman sebaya sebagai pemberi contoh pacaran, teman sebaya dalam paksaan perilaku seks, teman sebaya dalam pemberi media pornografi. Peran orangtua dalam hal fungsinya meliputi fungsi edukasi, fungsi afeksi, dan fungsi perlindungan yang masih rendah. Dalam fungsi edukasi remaja yang merasa orang tuanya yang berperan dan ada yang tidak berperan. Sebagian besar diskusi yang dilakukan adalah yang berhubungan dengan permasalahan dengan teman dekatnya, yaitu hubungan antara remaja dengan pacarnya, bukan masalah fungsi dan proses reproduksi. Untuk peran orangtua dalam diskusi akil balig, hanya kelompok remaja yang menyatakan belum pacaran/hanya onani yang menyatakan orangtua berperan dalam diskusi akil balig dengan nasihat agar berperilaku hati-hati dengan lawan jenis. Fungsi afeksi, hanya remaja yang menyatakan belum pacaran/onani, sebagian besar menyatakan orangtua yang hangat dan ramah pada anaknya. Fungsi keluarga, khususnya orangtua, dalam hal perlindungan yang dilihat dari perannya dalam menjaga norma dan agama, ada kelompok remaja yang merasa selama pacaran hanya melakukan berciuman, berpelukan dan tidak pacaran/onani, telah merasakan bahwa orang tuanya selalu mengingatkan tentang norma dan agama, sedangkan pada kelompok remaja yang menyatakan telah berhubungan intim dan remaja yang merasa telah melakukan meraba organ sensitif pada saat pacaran sebagian besar belum mendapatkan nasihat tersebut, kalaupun ada hanya kadang-kadang saja. Hasil penelitian tentang peran integratif faktor eksternal seperti teman sebaya dan orangtua terhadap personal remaja, adalah teman sebaya berperan dalam ketidakmampuan remaja menahan emosi, ketidak mampuan remaja dalam kedisiplinan melasanakan kewajiban sholat lima waktu, ketidakmampuan remaja menyelesaikan masalah, karena permasalahan yang diatasi dengan perilaku minum minuman keras bersama teman sebaya, juga teman sebaya berperan dalam akses situs pornografi. Dari hasil peran integratif teman sebaya terhadap personal remaja, diketahui juga kemampuan remaja yang dapat mempertahankan perilaku reproduksi dan seksual yang sehat , yaitu kemampuan dalam memilih teman agar tidak terpengaruh dengan perilaku yang menyimpang. Selain itu, pada diri masing-masing remaja memiliki religuisitas terhadap agama dan adanya cita-cita yang mengarahkan remaja untuk mencapainya, sehingga dapat menghindari remaja dari perbuatan yang menuju ke perilaku seks bebas. Dengan demikian, peran teman sebaya terhadap personal remaja dalam hubungannya dengan perilaku reproduksi dan seksual tergantung pada personal remaja dalam hal religiusitas, cita-cita yang dapat menginspirasi untuk pencapaian, dan kemampuannya memilih teman sebaya yang dekat. Peran orangtua terhadap personal remaja dalam hal bimbingan masih rendah, seperti orangtua dalam fungsi perlindungan yang menasihati agar remaja tidak terlalu malam, tetapi peran ini tidak konsisten, beberapa penyebabnya adalah karena remaja merasa telah bekerja, orang tua yang tidak berani menasehati karena takut anaknya marah-marah, disebabkan kebiasaan minum minuman keras, atau karena personal remaja yang tidak patuh sehingga orang tua sudah bosan untuk menasehati. Bimbingan orangtua dalam hal kesehatan reproduksi masih menganggap tabu, orangtua yang menyebabkan anak takut mengutarakan masalah yang dihadapi, di antaranya tentang asmara, sehingga lebih memilih teman sebaya untuk memecahkannya. Orangtua yang rendah perhatiannya dalam masalah cita-cita remaja, karena masalah ekonomi, serta orangtua yang belum mampu memberi contoh dalam kedisiplinan menjalankan ibadah sholat lima waktu. Dalam peran integratif orangtua terhadap personal remaja, diketahui juga peran orangtua yang mampu membuat remajanya berperilaku seksual yang sehat, yaitu orangtua dalam fungsi perlindungan, orangtua selalu memberikan perhatian kepada anak-anaknya, disiplin dalam agama seperti memberikan contoh dalam menjalankan ibadah sholat baik sholat wajib atau sunnah, sekaligus mengingatkan remaja untuk melaksanakan shalat. Remaja merasa orangtua sangat memotivasi dalam hal kebaikan, bahkan ada orangtua yang memberikan pendidikan seks kepada remaja dan mengingatkan remaja untuk berhati-hati dalam memilih teman. Dalam penelitian ini didapatkan lembaga terkait dengan pelayanan kesehatan reproduksi remaja yang perlu diberikan masukan, terdapat target yang membutuhkan bimbingan dan edukasinya, yaitu remaja Paguyuban X, yang selama ini telah memberikan kontribusinya bagi wilayahnya, dengan kemampuan dalam usaha melestarikan budaya seni tari tradisional jathilan. Kemampuan dalam seni jathilan telah dimanfaatkan oleh kecamatan setempat dalam setiap kegiatan memperingati hari jadi kecamatan dan mewakili kecamatan dalam lomba kesenian tingkat provinsi. Kemampuan yang lain adalah kemampuan dalam seni pembuatan gerabah, serta adanya kegiatan pengajian yang dibimbing oleh pendidik sebaya dalam Paguyuban X, sehingga model pemberdayaan masyarakat dalam perubahan perilaku seksual yang sehat pada remaja Paguyuban X, memperhatikan modal sosial yang dimiliki untuk usaha melibatkan partisipasi aktif, baik pihak remaja melalui kemampuan lokal yang dimiliki yaitu seni jathilan yang dimodifikasi KRR dengan bermain peran, maupun dukungan pihak lain seperti Pemerintah Daerah, tokoh masyarakat, orang tua, Dinas Kesehatan Kota, Puskesmas PKPR, PIK-KRR, Posyandu Remaja, LSM:EL-PARKA, Dikpora, Depag, Dinas Pariwisata untuk dukungan dalam program pemberdayaan yang difasilitasi pihak akademisi. Kata kunci: pemberdayaan, kesehatan reproduksi dan seksual, remaja, model

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Pascasarjana > Magister > Penyuluhan Pembangunan
    Depositing User: Taufik A
    Date Deposited: 01 Jan 2018 11:07
    Last Modified: 01 Jan 2018 11:07
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/38800

    Actions (login required)

    View Item