Perkembangan Pariwisata Kabupaten Karanganyar tahun 1987 – 2000

Setyawan, Aris (2004) Perkembangan Pariwisata Kabupaten Karanganyar tahun 1987 – 2000. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (440Kb)

    Abstract

    Salah satu sifat dasar manusia adalah mobilitas, oleh karena itu manusia selalu bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Perpindahan itu semata-mata untuk meneruskan kelangsungan hidupnya. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang telah ditempatinya. Sifat mobilitas inilah yang menyebabkan manusia berpindah dan bergerak ke tempat lain. Ada beberapa sebab manusia melakukan mobilitas ini. Ada yang melakukan perjalanan arena sebab-sebab yang erat berkaitan dengan eksistensi dan keselamatan hidup manusia. Misalnya untuk melarikan diri dari bencana alam, peperangan, dan musibah lainnya. Ada yang melakukan perjalanan karena didorong oleh alasan-alasan pragmatis yaitu mencari nafkah, misalnya berburu, membuka ladang, bekerja, dan sebagainya. Semua kegiatan di atas, memerlukan suatu kegiatan perjalanan yang disebut travelling. Namun demikian, ditinjau dari maksud dan tujuannya menurut batasan atau definisi secara umum, perjalanan yang dilakukan itu tidak dapat dikategorikan sebagai kegiatan wisata. Sedangkan jenis perjalanan lain, yaitu jenis-jenis perjalanan untuk memenuhi rasa ingin tahu, untuk keperluan rekreatif dan edukatif, dikategorikan sebagai kegiatan wisata yang kita kenal dewasa ini. Mengacu pada jenis perjalanan tersebut maka perjalanan yang dikategorikan sebagai kegiatan wisata yaitu perjalanan dan persinggahan yang dilakukan oleh manusia di luar tempat tinggalnya untuk berbagai maksud dan tujuan, tetapi bukan untuk tinggal menetap di tempat yang dikunjungi atau disinggahi, atau untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mendapatkan upah1 . Perjalanan yang dilakukan manusia, dalam kaitannya dengan pengertian pariwisata merupakan kegiatan konsumtif. Selama kegiatan itu dilakukan, orang yang melakukan kegiatan tersebut membelanjakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumtif. Maksudnya, selama dalam perjalanan wisatawan tersebut mengeluarkan biaya untuk memenuhi berbagai kebutuhan, tanpa mendapatkan penghasilan di tempat-tempat yang dikunjungi 2 . Sebelum revolusi industri (1760-1850), perjalanan banyak dilakukan untuk keperluan-keperluan pragmatis seperti perjalanan dinas, ziarah, dagang, dan sebagainya. Namun perjalanan yang dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu dan untuk keperluan-keperluan rekreatif, juga telah dilakukan sejak beberapa abad sebelum masehi. Pariwisata yang kita kenal sekarang merupakan suatu fenomena yang relatif baru sejak pertengahan abad ke-19, yang pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Cook dengan menyelenggarakan paket wisata. Dia menyelenggarakan perjalanan pergi pulang dengan kereta api dari Leicester ke Loughborough untuk melihat sebuah pameran yang diselenggarakan. Keberhasilan penyelenggaraan paket wisata yang pertama mendorong Thomas Cook untuk mendirikan sebuah perusahaan perjalanan yang diberi nama Thomas Cook, dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan wisata serupa ke berbagai daerah di Inggris. Pada tahun 1855, Thomas Cook memperluas penyelenggaraan paket wisata ke daratan Eropa dengan memasarkan sebuah pameran di Paris, Perancis. Ia kemudian melebarkan usahanya ke negara-negara lain seperti Eropa, Amerika, dan negara-negara lain. Usaha Thomas Cook kemudian ditiru orang lain dengan mendirikan perusahaan-perusahaan serupa. Mula-mula di Inggris kemudian menyebar di Eropa, Amerika, dan negara-negara lain termasuk Indonesia. Meskipun ada beberapa variasi, namun pada dasarnya pola yang dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan perjalan itu sama dengan yang dikembangkan oleh Thomas Cook3 . Dewasa ini banyak negara berkembang mengembangkan sektor pariwisata yang dianggap dapat menciptakan kemakmuran melalui pembangunan komunikasi, transportasi, dan ekonomi sehingga mengurangi pengangguran di dalam negeri. Selain itu pariwisata juga menjadi suatu faktor yang menentukan perkembangan daerah-daerah miskin akan sumber alam4 . Banyak negara berkembang yang membangun sektor pariwisata sebagai suatu industri ditandai dengan banyaknya program pengembangan kepariwisataan di negara-negara tersebut. Terkadang negara yang satu ingin melebihi negara lainnya untuk menarik kedatangan wisatawan untuk lebih lama tinggal dan lebih banyak membelanjakan uangnya 5 . Indonesia seperti halnya negara yang sedang berkembang lainnya, juga berusaha membangun industri pariwisata ini sebagai salah satu cara untuk menambah devisa negara, karena melalui industri ini diharapkan sekaligus mengurangi jumlah pengangguran dengan membuka peluang kerja baru. Dengan demikian, membuktikan bahwa Indonesia telah menunjukkan kemauannya yang semakin meningkat untuk membangun industri pariwisata ini 6 . Dilihat dari segi kelembagaan formal, pengembangan sektor pariwisata Indonesia mulai dirintis dengan terbentuknya bagian Hotel Negara dan Tourisme (HONET) dalam lingkungan Kementrian Perhubungan pada tahun 1947. Pada tahun 1955 didirikan Yayasan Tourisme Indonesia yang bersama pemerintah memikirkan dan menangani pelaksanaan pengembangan pariwisata Indonesia 7 . Setelah berlangsungnya Musyawarah Nasional Tourisme I muncul sebuah badan atau wadah tunggal swasta yang bergerak di bidang kepariwisataan yaitu Dewan Tourisme Indonesia (DTI). Pada tahun 1961 Dewan Tourisme Indonesia berubah menjadi Dewan Pariwisata Indonesia (DEPARI). Dan pada permulaan tahun 1966, c. q. Menteri Perhubungan Darat, Telekomunikasi dan Pariwisata dibentuk Lembaga Pariwisata republik Indonesia (GATARI), dan akhirnya menjadi Departemen Pariwisata 8 . Kemudian GATARI diganti dengan Lembaga Pariwisata Nasional. Tahun 1969 merupakan babakan baru dalam perkembangan pariwisata di Indonesia. Pada saat itu terbentuk berbagai lembaga yang menangani kepariwisataan, baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 30 tahun 1969, pariwisata ditetapkan sebagai salah satu sumber penghasil devisa yang membutuhkan penyempurnaan organisasi, tata kerja, dan pelaksanaannya. Oleh karena itu dibentuklah sebuah Dewan Pertimbangan Kepariwisataan Nasional yang terdiri dari 15 menteri yang diketuai oleh Menteri Perhubungan sebagai Ketua Sektor Pariwisata. Untuk dapat lebih memantapkan lagi kegiatan sektor pariwisata ini, pemerintah melalui Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 9 tahun 1969 memerintahkan Menteri Perhubungan selaku Ketua Sektor Pariwisata untuk melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam membina pengembangan kepariwisataan nasional yang merupakan faktor potensial dalam usaha pembangunan ekonomi dan masyarakat Indonesia. Sehingga segala kegiatan yang menunjangnya dapat diatur secara menyeluruh dan terkoordinasi 9 . Lebih jauh, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. IV/ MPR/ 1978 tentang GBHN10 menempatkan industri pariwisata dalam kebijaksanaan pembangunan ekonomi dalam urutan prioritas keenam setelah pertanian,industri, pertambangan, energi, dan prasarana. Dalam Ketetapan MPR 1978 ini ditetapkan bahwa kepariwisataan perlu ditingkatkan dan diperluas untuk meningkatkan penerimaan devisa, memperluas lapangan kerja, dan memperkenalkan kebudayaan. Pembinaan serta pengembangan pariwisata dilakukan dengan tetap memperhatikan terpeliharanya kebudayaan dan kepribadian nasional. Untuk itu perlu diambil langkah-langkah dan pengaturan-pengaturan yang lebih terarah berdasarkan kebijaksanaan terpadu, antara lain di bidang promosi, penyediaan fasilitas, serta mutu dan kelancaran pelayanan. Sedangkan pembinaan serta pengembangan pariwisata dalam negeri lebih ditujukan kepada pengenalan budaya bangsa dan tanah air. Kepariwisataan di Kabupaten Karanganyar sebenarnya sudah muncul sejak lama. Pada tahun 1960-an Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar telah mulai menangani objek wisata Grojogan Sewu. Saat itu Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar mulai menarik retribusi kepada pengunjung, namun belum diimbangi dengan penyediaan fasilitas-fasilitas yang mendukung seperti jalan trap, mushola, kamar kecil, warung makan, jembatan, dan sebagainya. Baru pada tahun 1969 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 305/ Kpts/ Um/ 8/ 1969 tanggal 22 Agustus 1969 pengelolaan objek wisata Grojogan Sewu diserahkan kepada Dewan Pariwisata Indonesia c. q. PT Duta Indonesia Djaya. Selanjutnya PT Duta Indonesia Djaya membangun sarana dan prasarana yang ada kaitannya dengan kebutuhan bagi wisatawan. Dan pada tahun 1974 bupati menunjuk sebuah badan untuk mengelola pariwisata di Kabupaten Karanganyar, namun secara yuridis badan tersebut masih bersifat informal. Prioritas Pembangunan Daerah Tingkat II Kabupaten Karanganyar di sektor pariwisata secara lebih intensif baru dimulai dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah No. 7/ 1984 tentang penyerahan sebagian urusan dari Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah dalam bidang kepariwisataan kepada Daerah Tingkat II Kabupaten Karanganyar. Pada tanggal 17 Maret 1986 dikeluarkan Keputusan Gubernur No. 556/ 82/ 1986 tentang pedoman pembentukan, susunan organisasi, dan tata kerja Dinas Pariwisata Daerah Tingkat II. Dan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Karanganyar No. 2/ 1987 dibentuklah susunan organisasi dan tata kerja Dinas Pariwisata Daerah Tingkat II Kabupaten Karanganyar. Kemudian sejak tahun 1992 pengelolaan sektor pariwisata lebih digalakkan lagi seiring dengan munculnya slogan INTANPARI yang menempatkan sektor pariwisata sejajar dengan sektor industri dan pertanian. Objek wisata memang pantas menjadi ciri khas dari Kabupaten Karanganyar, meskipun sumbangan terbesar dari nilai kegiatan ekonomi yaitu sektor industri dan pertanian. Potensi yang dimiliki daerah yang terletak di kaki Gunung Lawu ini bermacam-macam, seperti pemandangan indah, udara bersih dan sejuk, kebun bunga, kebun buah, peninggalan budaya beserta kisah yang menyertainya, wisata ziarah, dan sebagainya 11 . Objek dan daya tarik wisata alam yang menjadi andalan Kabupaten Karanganyar antara lain hutan wisata Puncak Lawu, Taman Wisata Grojogan Sewu, pemadian air hangat Cumpleng, dan wana wisata Gunung Bromo. Sedangkan objek dan daya tarik wisata sejarah antara lain Candi Sukuh, Candi Cetho, Situs Purbakala Menggung, Situs Purbakala Watu Kandang, Museum Fosil Dayu, dan sebagainya. Kabupaten Karanganyar juga menawarkan objek dan daya tarik wisata ziarah seperti Pertapaan Pringgondani, tradisi ziarah pemakaman raja, Jabal Kanil, dan sebagainya. Selain ketiga jenis wisata yang ditawarkan, Kabupaten Karanganyar juga menawarkan wisata minat khusus, di antaranya yaitu Taman Ria Balekambang, Camping Lawu Resort, Bumi Perkemahan Sekipan, dan Taman Semar.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: C Auxiliary Sciences of History > CB History of civilization
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa > Ilmu Sejarah
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:06
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:06
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3873

    Actions (login required)

    View Item