KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GALERI SENI URBAN YOGYAKARTA DENGAN PENEKANAN PADA PENCITRAAN BENTUK BANGUNAN KONTEMPORER

Arief , Tomy (2010) KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GALERI SENI URBAN YOGYAKARTA DENGAN PENEKANAN PADA PENCITRAAN BENTUK BANGUNAN KONTEMPORER. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (2873Kb)

    Abstract

    Urban art atau seni urban telah menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Seni urban mulai muncul pada era 1990-an akhir dan terus berkembang meluas pada 2000-an. Pada awal kemunculan mutakhirnya, di era pemerintahan rezim otoritarian kapitalistik Orba masih berada pada puncak-puncak kekuasaan, dekade akhir 1990-an, seni urban masihlah berupa gerakan kecil-kecilan, sporadis, kurang massif dan hanya . Seni urban adalah karya seni yang galerinya ditampilkan pada ruang publik yang tidak terjamah, mengkritisi keadaan masyarakat sekaligus sebagai ajang komunikasi antar masyarakat. Lebih luasnya seni urban dapat dipahamai sebagai berikut: dikerjakan sebagai semacam kegiatan “gerilya” 1 “Urban art lahir karena adanya kerinduan untuk merespon kreativitas masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dengan segala problematikanya. Maka munculah usaha dari sekelompok orang untuk memamerkan dan mendatangkan seni ditengah-tengah masyarakat dengan cara melakukan kebebasan berekspresi di ruang publik. Ekspresi yang ditampilkan adalah ekspresi yang mencoba memotret permasalahan-permasalahan yang kerap terjadi dan mendominasi masyarakat urban mencakup masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya. Melalui media seni dan dilatarbelakangi oleh pertumbuhan dan kapitalisasi kota itu sendiri. Zaman sekarang seni bukan lagi sebuah representasi yang ditampilakan digaleri saja, tapi sebuah media ekspresi yang bertarung di fasilitas publik dengan media lainnya seperti iklan di TV, billboard iklan, poster promosi, baliho dan lainlain. Semua media ekspresi tersebut mendominasi dihampir setiap fasilitas publik. Urban art berhasil memangkas hubungan yang berjarak antara publik sebagai apresiator dengan sebuah karya seni. Menggantikan fungsi seni yang tadinya agung, klasik, murni, tinggi serta tradisional. Seni diposisikan sebagai sesuatu yang konservatif dan sarat dengan nilai pengagungan. Urban art berhasil meruntuhkan nilai-nilai tersebut dengan cara menghadirkannya ke tengah publik melalui media-media yang erat dengan keseharian masyarakat kota. Tujuan urban art lebih berakar pada perbedaan sikap politik, anti kemapanan, vandalisme dan perlawanan terhadap sistem dominan dimasyarakat”. Selain itu, seni urban juga dapat ditafsirkan sebagai perlawanan terhadap seni modern yang sudah diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi secara kapitalistik. Ketika seni rupa sudah masuk ke sistem pasar masyarakat kapitalistik, karya seni rupa diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi secara kapitalistik. Seni urban juga berusaha untuk melakukan pergeseran dari pengertian negatif seni rupa tinggi (high art). Seni rupa tinggi (high art) adalah seni rupa yang terpisah dengan publik luas yang hanya dipajang atau terisolasi di ruangan privat seniman, yang diasumsikan sebagai bukan ruang publik: seperti gallery, museum, art shop; tidak diarahkan untuk kepentingan membangun dialog dengan masyarakat tetapi lebih mengedepankan unsur estetik dan artistik yang diinginkan oleh individu pekerja seninya; lebih terkesan menjujung tinggi seni untuk seni dan tidak mencangkup persoalan ekstraestetik . Di Indonesia sendiri seni urban berkembang pesat khususnya di kota-kota besar dengan keheterogenitas penduduknya. Kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya menjadi telah pusat perkembangan seni urban di Indonesia. Diantara kota-kota besar tersebut, kota yang paling pesat perkembangan seni urbannya adalah Yogyakarta. Seperti diketahui, Yogyakarta telah lama dikenal sebagai kota dengan nuansa seni dan budaya yang kental. Di kota inilah lahir seniman-seniman terkenal Indonesia seperti Affandi, Rusli, Y.B Mangunjaya, Hendra Gunawan dan masih banyak lagi. Kota Yogyakarta juga merupakan contoh ideal dimana seni dan budaya modern kontemporer yang diusung oleh para pendatang dapat berafiliasi dan membaur dengan seni budaya tradisonal masayarakat setempat. Perkembangan seni urban di Yogyakarta dimulai sejak tahun 1997 dengan komunitas Apotik Komik sebagai pelepopornya. Komunitas Apotik Komik pertama kali menghadirkan seni ke ranah publik dengan menempelkan “mural” berupa komik pada kain dan triplek yang kemudian dipamerkannya di luar ruangan. Selanjutnya Apotik Komik gencar mengadakan praktek berkesenian di ruang publik, tidak hanya berkegiatan sendirian, tetapi juga dengan melibatkan mayarakat setempat seperti dalam proyek Koe Pos Art Project dan Kampung Sebelah Art Project. Pada tahun yang sama juga lahir komunitas Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi yang merupakan gabungan dari para pekerja seni dan mahasiswa ISI Yogyakarta. Kelompok Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi adalah kelompok yang secara intens menciptakan karya-karya yang mereka tempatkan pada ruang publik. Tujuan mereka sangat jelas, memakai ruang publik untuk mempresentasikan karya-karya mereka yang sarat dengan pesan-pesan sosial, agar karya-karya tersebut bisa dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Mereka memakai seni rupa sebagai media untuk penyadaran kepada masyarakat. Aktivitas seni rupa LBK Taring Padi dibagi dalam dua kecenderungan, yaitu yang bersifat praksis yang biasanya dilakukan bersama masyarakat, dan kecenderungan lain adalah penciptaan karya-karya individual. Praksis adalah aktivitas antara seniman dan komunitas masyarakat yang mempergunakan media seni rupa. Aktivitas ini bertujuan untuk membangun kesadaran baru bagi masyarakat akan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya . Hingga saat ini komunitas seni urban Yogyakarta telah berkembang dengan pesat termasuk didalamnya para penggiat seni kontemporer. Tidak ada data yang pasti mengenai jumlah komunitas seni urban di Yogyakarta dikarenakan sifat komunitas ini yang tidak terikat dan bebas. Tapi berdasarkan dokumentasi yang dilakukan komunitas Gelaran Budaya yang kemudian dipublikasikan dalam Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009, setidaknya ada 101 komunitas seni yang masih aktif di Yogyakarta dengan perincian sebagai berikut: Tabel 1.1 Jumlah Komunitas Seni Urban Yogyakarta Jenis Kesenian Jumlah Komunitas 4 Seni Lukis 11 Seni Patung 1 Seni Grafis 8 New Media Art/Performance Art 6 Fotografi 11 Film 64 Jumlah 101 Data di atas belum mencangkup komunitas-komunitas yang bergerak secara ‘bawah tanah’ serta para penggiat seni yang beraktifitas secara individu. Festival serta acara-acara kesenian juga semakin banyak diadakan untuk merespon perkembangan komnitas-komunitas seni urban di Yogyakarta dan semuanya mendapatkan antusiasme besar dari mayarakat Yogyakarta sendiri. Tercatat ada 22 gelaran seni yang memiliki lingkup Kota Yogyakarta dan 6 diantaranya bersifat rutin (Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009, Gelaran Budaya, 2009). Gelaran yang bersifat rutin itu adalah Biannale Jogja, Perfurbance, Festival Kesenian Yogya (FKY), Jogja Art Fair, Beber Seni Yogyakarta dan Fetival Film Dokumenter Yogyakarta. Tapi perkembangan komunitas seni urban ini tidak dibarengi dengan perkembangan wadah yang dapat menampung ekspresi berkesenian komunitas ini. Galeri seni seharusnya cukup potensial untuk dapat menjadi wadah tersebut. Tapi galeri tersebut telah dimasuki oleh prinsip-prinsip komersialisme. Karya seni yang commit to user ditampilkan lebih bertujuan untuk mencari keuntungan tanpa memperdulikan adanya apresiasi dari masyarakat luas. Galeri-galeri tersebut didesain secara eksklusif, megah dan angkuh dimana hanya kalangan-kalangan tertentu saja yang dapat masuk ke sana. Padahal karya seni diciptakan untuk dinikmati dan diapresiasi oleh semua kalangan tanpa memperdulikan status, kedudukan dan strata sosial masyarakat. Hal inilah yang mendorong para penggiat seni urban lebih memilih melakukan kesenian di ruang publik. Tidak ada wadah legal yang dapat diajak bekerjasama dan berkompromi. Akibatnya, aktifitas berkesenian yang mereka lakukan sering mendapat cap buruk oleh sebagian kalangan. Salah satu bentuk seni urban, yaitu mural telah lama mendapat label negatif dari masyarakat yang lebih konservatif. Mural dianggap sebagai aktifitas yang merugikan, tidak tertib bahkan terkadang dikategorikan sebagai tindak kriminal. Padahal bagi penggiatnya, mural bertujuan untuk lebih memberikan warna bagi kotanya sendiri selain itu juga berfungsi bagai kritik sosial dan yang lebih penting adalah untuk membawa seni untuk lebih dekat kepada masyarakat sehingga dapat diapresiasi secara luas. Lain lagi dengan performance art yang diwakili oleh teater dan sajian musik jalanan. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia performance art jalanan jelas sekali kesulitan untuk dapat berkarya dan menampilkan karyanya kepada publik. Seandainya mereka terpaksa untuk pentas, mereka akan melakukannya di jalanan, tempat-tempat parkir, pelataran mall dan halaman-halaman bangunan publik. Masalahnya sama seperti pada mural, kegiatan yang mereka lakukan telah mendapat label “aneh”. Pemusik jalanan digeneralisasikan sebagai pengemen sedangkan pentas performance art harus “kucing-kucingan” dengan aparat. Disini diperlukan perubahan paradigma fungsi galeri dari sekedar sebagai runag pamer menjadi ruang untuk seni itu sendiri. Galeri tidak hanya mengemban misi dokumentasi saja tapi juga misi eksplorasi dan edukasi. Artinya galeri seni harus dapat mengakomodasi kegiatan-kegiatan berkesenian seperti penciptaan karya, mendokumentasikannya dan kemudian mengapresiasikannya. Di Yogyakarta sendiri terdapat sekitar 47 galeri seni dimana 28 diantaranya merupakan bangunan yang murni berfungi sebagai galeri seni dan sisa 19 lainnya adalah ruang pamer yang bergabung dengan fungsi bangunan lain. Diantara 47 galeri terebut 11 diantaranya dikategorikan sebagai galeri yang teraktif dan hanya 7 galeri yang merupakan galeri publik (bukan kepunyaan pribadi). (Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009, Gelaran Budaya, 2009). Ruang publik dalam arti yang sungguh-sungguh murni adalah ruang yang memang tidak boleh dikuasai oleh pihak atau kelompok tertentu siapapun. Karena itu dengan sendirinya bersifat terbuka, sekuler dan non-partisan. Di ruang-ruang bersifat sepertiinilah seni urban tumbuh dan berkembang. Hal tersebut dikarenakan seni urbanbukanlah merupakan hasil pemikiran pribadi saja, tetapi ada proses dialog, komunikasidan brainstorming dalam proses penciptaanya yang kemudian karyanya harus dapat diapresiasi oleh masyarakat luas Image galeri saat ini yang cenderung tertutup, eksklusif dengan target segmentiftidak sesuai dengan semangat seni urban. Untuk itu galeri seni harus dapat menjadi atau setidaknya memiliki sifat seperti ruang publik. Sifat interaktif ruang publik yangdihadirkan melalui ruang-ruang eksterior terbuka, elemen pembentuk ruang yang fleksibel serta tidak massif dan penempatan lokasi yang familiar dengan kehidupan urban masyarakat setempat. Semua hal tersebut dimaksudkan agar galeri seni dapatdikunjungi oleh lapisan masyarakat manapun tanapa ada batasan strata sosial sehingga tercipta dialog antara seniman--melalui karya seninya--dengan masyarakatlewat proses apresiasi. Suatu galeri seni yang merefleksikan apa yang dipamerkan di dalamnya haruslah memiliki jiwa dari seni yang diwadahinya. Jiwa dari seni urban adalah ’kekinian’,universal dan kebebasan apresiasi. Sama dengan jiwa yang diusung oleh bentukbentuk kontemporer. Kontemporer memiliki jiwa pencarian bentuk, jati diri dan ciri khas. Dalamarsitektur sendiri, kontemporer dapat diartikan sebagai ’kekinian’. Sebagai bagian darigerakan post modern yang merupakan counter culture dari paham modern, bentukkontemporer memiliki kekhasan pada bentuk yang mengundang berbagai macamekspresi bagi yang mengapresiasikannya. Bentuknya tidak terikat oleh langgamtertentu dengan pemahaman bentuk yang bervariasi Ciri-cirinya mengacu padapluralisme, dekonstruksionisme, multikulturalisme, post-kolonialisme den feminisme(Yasraf Amir Piliang, 2006: 75). Hal ini selaras dengan jiwa seni urban itu sendiri, jiwa seni yang bebas dengan apresiasi yang bebas dari para penikmatnya dan tidak memiliki kekhususan ataupun keberpihakan pada aliran seni tertentu. Seni urban jugasiap menerima masukan-masukan baru baik dalam bentuk dan ciri khas gunamenentukan jati dirinya sendiri. Bentuk-bentuk kontemporer mungkin belum dapat diterima dan diapresiasi olehbudaya Indonesia, tapi setidaknya bentuk kontemporer yang terkesan aneh, baru dantidak lazim akan menarik minat masyarakat serta memberikan ciri khas dan hal yang akan menjadi ikon bagi suatu karya arsitektural. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa perkembangan seni urban Yogyakarta belum diimbangi oleh adanya wadah untuk menampung kegiatan berkesenian para pelakunya. Oleh karena itu diperlukan suatu galeri seni urban yantidak hanya memiliki misi dokumentasi saja, tetapi juga berperan dalam poses penciptaan, memamerkan dan pengapresiasian suatu karya seni. Galeri seni yanmemiliki sifat ruang publik sehigga tidak segmentif serta dapat menciptakan suatdialog yang bebas dan demokratis.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
    Divisions: Fakultas Teknik
    Fakultas Teknik > Arsitektur
    Depositing User: Ardhi Permana Lukas
    Date Deposited: 14 Jul 2013 19:02
    Last Modified: 14 Jul 2013 19:02
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3853

    Actions (login required)

    View Item