PERBEDAAN PENGARUH ANTARA METHYLPREDNISOLONE INTRAVENA DAN PROGESTERON INTRAMUSKULER TERHADAP FUNGSI EREKSI SETELAH TRANSURETHRAL RESECTION OF THE PROSTAT (TUR-P) PADA PASIEN BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH)

P., Monica Yolanda U. (2017) PERBEDAAN PENGARUH ANTARA METHYLPREDNISOLONE INTRAVENA DAN PROGESTERON INTRAMUSKULER TERHADAP FUNGSI EREKSI SETELAH TRANSURETHRAL RESECTION OF THE PROSTAT (TUR-P) PADA PASIEN BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (157Kb)

    Abstract

    Fungsi ereksi merupakan faktor yang penting bagi semua pria pada kondisi seksual aktif, hal tersebut sekaligus bisa untuk menilai kualitas dari kehidupan sex dengan pasangannya. Transurethral Resection of the Prostat (TURP) merupakan tindakan gold standart untuk Benign Prostat Hyperplasia (BPH). Salah satu komplikasi setelah operasi yang dapat ditimbulkan setelah pasien mendapat tindakan tersebut adalah DE (Thorpe et al,1999; Florator et al,2001). Peneliti mencoba melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian kortikosteroid dan progesteron terhadap fungsi ereksi pada pasien BPH yang telah dilakukan operasi TURP dengan menggunakan Erection Hardness Score (EHS). Tujuan Penelitian.Mengetahui pengaruh pemberian metilprednisolon intra vena terhadap fungsi ereksi pasca operasi TURP pada pasien BPH. Mengetahui pengaruh pemberian progesterone intra muskuler terhadap fungsi ereksi pasca operasi TURP pada pasien BPH. Mengetahui perbedaan pengaruh antara metilprednisolon dan progesteron terhadap fungsi ereksi pasca operasi TURP pada pasien BPH. Subyek dan Metode.Subyek semua penderita BPH yang dilakukan operasi TUR-P di sub bagian urologi RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah insidental sampling. Penelitian ini merupakan studi eksperimen klinis dengan menggunakan rancangan penelitian Pre and Post test-Only Control Design. Dimana dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan, kelompok pertama diberi metilprednisolon, kelompok kedua diberi progesterone dan kelompok ketiga diberi protokol terapi TURP saja. Hasil. Setelah 1 bulan tindakan TURP pada pasien BPH,didapatkan EHS dengan skala 2 dan 3 dimana EHS skala 2 pada kelompok metilprednisolon ada 9 pasien (69.2%), pada kelompok progesteron ada 6 pasien (46.2%), dan pada kelompok kontrol ada 8 pasien (66,7%). Sedangkan dengan EHS skala 3 pada kelompok metilprednisolon ada 4 pasien (30,8%), pada kelompok progesteron ada 7 pasien (53,8%), dan pada kelompok kontrol ada 4 pasien (33,3%). Setelah 3 bulan tindakan TURP pada pasien BPH,dimana EHS skala 2 pada kelompok metilprednisolon ada 2 pasien (15,4%), pada kelompok progesteron ada 0 pasien (0,0%), dan pada kelompok kontrol ada 6 pasien (50,0%). Pasien dengan EHS skala 3 pada kelompok metilprednisolon ada 9 pasien (69,2%), pada kelompok progesteron ada 4 pasien (30,8%), dan pada kelompok kontrol ada 6 pasien (50,0%). Sedangkan pasien dengan EHS skala 4 pada kelompok metilprednisolon ada 2 pasien (15,4%), pada kelompok progesteron ada 9 pasien (69,2%), dan pada kelompok kontrol ada 0 pasien (0,0%). Simpulan. Pemberian metilprednisolon akan memperbaiki fungsi ereksi pasien pasca operasi TURP .Pemberian progesterone akan memperbaiki fungsi ereksi pasien pasca operasi TURP .,dimana progesterone lebih baik dibandingkan metilprednisolon. Kata Kunci : Disfungsi ereksi, Metilprednisolon, Progesteron.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Pascasarjana > Magister > Magister Kedokteran Keluarga
    Depositing User: Arief Atmojo
    Date Deposited: 11 Dec 2017 14:39
    Last Modified: 11 Dec 2017 14:39
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/37044

    Actions (login required)

    View Item