Adaptasi dan Stabilitas Hasil Genotipe Jagung Hibrida dengan Uji Multi Lokasi di Jawa Tengah

LAKSMAWATI, WIDYA KARTIKA (2017) Adaptasi dan Stabilitas Hasil Genotipe Jagung Hibrida dengan Uji Multi Lokasi di Jawa Tengah. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (510Kb)

    Abstract

    Jagung merupakan sumber bahan pangan penting setelah beras di Indonesia. Kebutuhan jagung dalam negeri terus meningkat. Produksi jagung dalam negeri masih belum dapat memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri sehingga pemerintah melakukan impor. Nilai impor jagung tercatat dalam data BPS tahun 2016 menunjukkan bahwa pada bulan Agustus 2016 impor jagung menduduki nilai tertinggi yaitu sebesar 46.571.550kg setelah diikuti beras sebesar 38.490.002kg. Upaya untuk menanggulanginya perlu dilakukan perakitan varietas unggul berdaya hasil tinggi seperti varietas jagung hibrida. Varietas jagung hibrida tersebut harus memiliki kemampuan adaptasi dan stabilitas yang baik sehingga mampu tumbuh optimum didaerah budidayanya. Kemampuan adaptasi adalah kemampuan suatu genotip untuk tetap hidup dan melakukan perkembangbiakan dalam keadaan lingkungan yang beragam. Stabilitas hasil merupakan karakter yang diwariskan melalui daya sangga populasi yang secara genetik heterogen. Sesuai dengan peraturan mentri pertanian nomor 61/Permentan/OT.140/10/2011 bab II pasal 4 bahwa tanaman semusim hasil pemuliaan perlu dilakukan uji kemampuan adaptasi. Informasi kemampuan adaptasi dan stabilitas hasil dari calon varietas merupakan salah satu syarat dalam pelepasan suatu varietas di Indonesia. Kemampuan adaptasi dan stabilitas suatu genotipe dapat diketahui melalui uji multilokasi. Penelitian ini dilakukan adaptabilitas dan stabilitas delapan genotipe jagung hibrida baru pada empat lokasi percobaan di Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan dengan uji multilokasi pada empat lokasi di Jawa Tengah yaitu Grobogan, Boyolali, Purworejo dan Klaten. Genotipe jagung hibrida yang digunakan yaitu ADV777, P35, NK28, PACER, PAC132, PAC139, PAC164 dan PAC196. Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAKL) dengan empat kali ulangan. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, tingi letak tongkol, berat 1000 biji, rendemen biji, berat tongkol panen, hasil panen, adaptasi dan stabilitas. Penentuan kriteria kemampuan adaptasi dan stabilitas menggunakan tiga model yaitu Francis dan Kannenberg (1978), Finlay dan Wilkinson (1963) serta Eberharrt dan Russell (1966). Hasil penelitian meunjukkan lokasi Grobogan memiliki hasil rata-rata tinggi tanaman dan presentase rendemen biji tertinggi dibandingkan ketiga lokasi lainnya yaitu 240,81cm dan 83,56%. Tinggi letak tongkol pada kedelapan genotipe pada keempat lokasi penelitian berkisar antara 56,60-113,00cm. Lokasi Klaten memiliki berat 1000 biji tertinggi yaitu sebesar 439,29g sementara lokasi Purworejo memiliki berat 1000 biji terrendah sebesar 322,25g. Berat tongkol panen delapan genotipe diatas berkisar antara 5,75-10,67kg. NK28 memiliki berat tongkol panen terbesar, yaitu 8,95kg dan berbeda nyata dengan PAC139. Lokasi Klaten memiliki berat tongkol panen tertinggi dari ketiga lokasi lain yaitu sebesar 9,35kg. Lokasi Boyolali dan Purworejo dikatakan kurang produktif karena memiliki nilai indeks lingkungan -0,9 hinga -1,1 sedangkan lokasi Grobogan produktif dengan indeks lingkungan 1,6. Lokasi Grobogan memiliki rata-rata hasil 10,18ton/ha, hasil tersebut lebih tinggi dan berbeda nyata dari rata-rata hasil di lokasi Boyolali (7,69ton/ha) dan Purworejo (7,46ton/ha). Berat tongkol panen, rendemen biji dan berat 100 biji merupakan indikator yang mempengaruhi hasil. Uji korelasi meunjukkan adanya korelasi positif antara berat tongkol panen dengan hasil. Berdasarkan analisis ragam menunjuukan bahwa perbedaan lokasi dan genotipe memberikan pengaruh yang signifikan sedangkan pada interaksi genotipe dengan lingkungan tidak signifikan. Kemampuan adaptasi dan stabilitas hasil dapaat diukur melalui koefisien keragaman genotipe, koefisien regresi, nilai ragam lingkungan dan simpangan regresi. Francis dan Kannenberg (1978) menyatakan bahwa semakin kecil nalai koefisien keragaman genotipe dan nilai ragam lingkungan suatu genotipe maka semakin tinggi tingkat kestabilannya. PACER, PAC132, PAC164 dan PAC196 menunjukkan nilai koefisien keragaman genotipe yaitu masing-masing 9,19%; 6,45%; 19,13%; 7,77% dan nilai ragam lingkungan masing-masing 0,58; 0,33; 0,70; 0,49. Finaly dan Wilkinson (1963) suatu genotipe yang memiliki koefisien regresi sama dengan 1 dan rata-rata hasil lebih tinggi dari rata-rata total dapat dinyatakan sebagai genotipe stabil dengan kemampuan adaptasi tinggi di semua lingkungan. Genotipe yang memiliki koefisien regresi sama dengan 1 dan rata-rata hasil lebih rendah dari rata-rata total dapat dinyatakan sebagai genotipe stabil dengan kemampuan adaptasi rendah di semua lingkungan. Eberhart dan Russell (1966) menyatakan bahwa suatu genotipe dinyatakan stabil apabila memiliki nilai koefisien regresi mendekati 1 dan nilai simpangan regresi mendekati 0. Analisis adaptasi dan stabilitas pada model Francis dan Kannenberg, Finlay-Wilkinson dan Eberhart-Russell menunjukkan bahwa PAC132 merupakan genotipe yang stabil serta memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi di semua lingkungan. PACER, PAC164 dan PAC196 juga dinyatakan stabil pada ketiga model analisis tetapi memiliki kemampuan adaptasi yang rendah di semua lingkungan.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Fakultas Pertanian > Agroteknologi
    Depositing User: Annisa Fitri T
    Date Deposited: 26 Nov 2017 21:31
    Last Modified: 26 Nov 2017 21:31
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/36527

    Actions (login required)

    View Item