Proses Alih Bentuk Bahan Pustaka Langka ke dalam Mikrofilm di Perpustakaan Nasional RI

RT, Aulia (2017) Proses Alih Bentuk Bahan Pustaka Langka ke dalam Mikrofilm di Perpustakaan Nasional RI. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (251Kb)

    Abstract

    Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian dan rekreasi. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan perpustakaan dalam sejarah umat manusia yang mempunyai pesona tersendiri. Sebagai pusat informasi, keberadaan perpustakaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk menambah wawasan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, perpustakaan dituntut untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Potensi yang dimiliki perpustakaan adalah seluruh aset perpustakaan yang membantu penyelenggaraan perpustakaan, termasuk bahan pustaka di dalamnya. Penyelenggaraan kegiatan perpustakaan antara lain, perpustakaan mengelola koleksi bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemustaka. Salah satu fungsi perpustakaan adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan pemustaka. Hal ini berkaitan dengan pelestarian koleksi bahan pustaka yang menjadi salah satu tujuan pokok dalam penyelenggaraan perpustakaan, agar koleksi tersebutdapat terus dinikmatipemustaka. Pustakawan dituntut untuk bisa melestarikan bahan pustaka dengan baik dan menjaga dari kerusakan, karena pustakawan tidak dapat memperkirakan bagaimana kebutuhan pemustaka di masa yang akan datang. Koleksi bahan pustaka yang mahal dan langka, diusahakan agar awet, dapat dipakai lebih lama dan dapat menjangkau lebih banyak pemustaka. Koleksi yang dirawat dimaksudkan dapat menimbulkan daya tarik, sehingga orang yang tadinya segan membaca atau enggan memakai buku perpustakaan menjadi rajin berkunjung ke perpustakaan. Tujuan pelestarian bahan pustaka, Martoatmojo (1993 : 5) mengatakan sebagai berikut : 1. Menyelamatkan nilai informasi dokumen. 2. Menyelamatkan fisik dokumen. 3. Mengatasi kendala kekurangan ruang. 4. Mempercepat perolehan informasi : dokumen yang tersimpan dalam CD (Compact Disc) sangat mudah untuk diakses, baik dari jarak dekat maupun jarak jauh Berdasarkan buku Petunjuk Teknis Pelestarian Bahan Pustaka (1995 : 20) mengatakan tujuan utama pelestarian adalah “mengusahakan agar koleksi selalu tersedia dan siap pakai. Hal ini dapat dilakukan dengan melestarikan bentuk fisik bahan pustaka, melestarikan informasi yang terkandung dengan alih media atau melestarikan kedua-duanya (bentuk fisik maupun kandungan informasinya),” dengan pelestarian yang baik, diharapkan bahan pustaka dapat berumur lebih panjang, sehingga perpustakaan tidak perlu membeli bahan yang sama, yang dapat membebani pemesanan, pengolahan kembali, penempelan kartu-kartu, yang kesemuannya itu memerlukan uang. Dengan bahan pustaka yang lestari dan terawat dengan baik, pustakawan dapat memperoleh kebanggaan dan peningkatan kinerja. Lingkungan yang sehat, ruang kerja yang baik, rapi dan menarik, membuat kehidupan pustakawan menjadi lebih berarti dan menyenangkan. Hal lain yang perlu diketahui tentang kegiatan preservasi bahan pustaka adalah tentang kebijakan-kebijakan yang diperlukan dalam pelestarian bahan pustaka. Namun demikian, karena pelestarian bahan pustaka penulis tafsirkan secara luas meliputi kegiatan pemeliharaan, perawatan, pengawetan, perbaikan dan reproduksi, maka setiap perpustakaan minimal melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan sesederhana mungkin agar bahan pustakanya selalu tersedia dalam keadaan baik dan menarik untuk dibaca. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pada pasal 1 ayat 5, menyatakan bahwa “Perpustakan Nasional adalah lembaga pemerintah non departemen (LPND) yang melaksanakan tugas pemerintah dalam bidang perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian dan pusat jejaring perpustakaan serta berkedudukan di Ibu Kota Negara.” Program pelestarian bahan perpustakaan di Indonesia dipicu oleh program kerja sama dengan lembaga non-pemerintah. Pada tahun 1990 terdapat proyek pelestarian bahan perpustakaan secara bersama-sama antara Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI dan PDII-LIPI dengan penyandang dana dari The Ford Foundation. Proyek ini memberikan kesadaran akan arti penting pelestarian bahan perpustakaan di kalangan pustakawan dan akademisi. Salah satu program dari proyek ini adalah pemberdayaan manusia dengan beasiswa untuk preservator prfesional dan ahli bidang pelestarian untuk pendidikan strata 3. Pelestarian bahan pustaka mencakup unsur-unsur pengelolaan dan keuangan yang termasuk di dalamnya cara menyimpan, tenaga kerja yang diperlukan, kebijakan, serta teknik dan metode yang diterapkan untuk melestarikan bahan pustaka dan informasi yang terdapat di dalamnya. Harvey (Dalam Tarigan, Eka Evriza) menyatakan bahwa ada dua aspek yang harus diperhatikan dalam melakukan pelestarian yaitu : 1. Preventif atau tindakan pencegahan yaitu bentuk tindakan tidak langsung yang memiliki tujuan memperpanjang umur suatu dokumen, adapun mekanisme yang dilakukan adalah menjaga, merawat, dan pengawasan secara berkala dan melakukan pencegahan fisiknya yang rusak disebabkan oleh faktor kimia, biologi dan sebagainya. 2. Kuratif atau tindakan pengobatan yaitu bentuk aksi langsung yang memiliki tujuan untuk mengembalikan dokumen yang telah rusak menjadi baik kembali, adapun mekanisme yang dilakukan adalah dengan perbaikan, pembenahan, fumigasi deasidifikasi, laminasi dsb. Dari kutipaan di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pelestarian meliputi tindakan preventif dan kuratif yang dilakukan guna menyelamatkan suatu dokumen atau bahan pustaka terutama kandungan informasi yang dimiliki. Sehingga diperlukan penanganan yang serius dalam kegiatan pelestarian bahan pustaka ini. Bahan pustaka pada umumnya terbuat dari kertas yang mudah mengalami kerusakan. Hal ini disebabkan bahan pembuat kertas yang bersifat asam merupakan bahan organik yang selalu bereaksi dan mengurai. Selain itu faktor lain yang menyebabkan kerusakan seperti kelembaban karena pengaruh uap air, atau kekeringan karena pengaruh panas terhadap ruangan koleksi yang dapat merusak koleksi yang ada di ruangan tersebut. Kemudian, polusi udara, manusia, serangga, binatang pengerat dan lain lain, juga merupakan faktor perusak bahan pustaka. Bahan pustaka yang belum rusak dapat dicegah kerusakannya dengan melakukan tindakan preventif, seperti melakukan fumigasi, melakukan pemeriksaaan gedung secara teratur, melakukan kontrol yang tepat pada koleksi bahan pustaka, dsb. Sedangkan, bahan pustaka yang sudah mengalami kerusakan dapat dicegah agar tidak lebih parah kerusakannya, sehingga proses kerusakan terhenti. Jenis bahan pustaka yang akan dibahas oleh penulis adalah bahan pustaka langka. Termasuk didalamnya, buku langka, koran langka, naskah atau manuskrip. Keadaan bahan pustaka langka yang sudah tua, lapuk dan mudah hancur membuat bahan pustaka langka harus segera dilestarikan, ditambah dengan informasi yang terdapat di dalamnya penting untuk pemustaka di masa yang akan datang. Hal ini diperparah dengan iklim Indonesia yang tropis, dimana memiliki temperatur dan kelembaban yang tinggi, sedangkan minimnya dana pelestarian membuat jamur dan mikroorganisme tumbuh subur sehingga dapat merusak bahan pustaka langka. Tidak semua perpustakaan memiliki bahan pustaka langka. Salah satu perpustakaan yang memiliki koleksi ini adalah Perpustakaan Nasional RI. Sebagai perpustakaan pembina, pelestarian merupakan salah satu tugas utama Perpustakaan Nasional RI. Hal ini dikarenakan, sebagian besar koleksi Perpustakaan Nasional RI merupakan koleksi yang sudah tua dan langka. Sehingga, memiliki nilai budaya yang tidak ternilai. Bahan pustaka langka ini perlu dilestarikan dan dipelihara sehingga kandungan informasi ilmiah maupun historis yang terdapat pada bahan pustaka langka tersebut dapat terus tersedia dan dipakai untuk pemustaka di masa sekarang maupun yang akan datang. Perpustakaan Nasional RI memiliki dua proses alih bentuk, yaitu mikrofilm dan CD. Mikrofilm merupakan hasil pemindahan atau alih bentuk dari bahan pustaka asli, seperti surat kabar, buku/majalah, dan manuskrip serta lontar. Setiap bahan pustaka memiliki metode alih bentuk yang berbeda. Misalnya, untuk surat kabar langka menggunakan proses alih bentuk mikrofilm karena banyaknya jumlah halaman pada surat kabar, sehingga lebih efisien jika menggunakan proses alih bentuk mikrofilm. Sedangkan, buku langka menggunakan alih media digital, hal ini dikarenakan pemustaka dapat dengan mudah mengakses informasi dengan jarak jauh sekalipun. Tujuan dari alih bentuk yaitu untuk melestarikan informasi pada bahan pustaka, sebagaimana definisi IFLA (International Federation of Library Association) dalam Pelestarian Bahan Pustaka (1997 : 1), bahwa “pelestarian (preservation) yaitu mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, ketenagaan, metode dan teknik, serta penyimpanannya.” Berdasarkan paparan latar belakang di atas, maka penulis memilih judul “PROSESALIH BENTUK BAHAN PUSTAKA LANGKA KE DALAM MIKROFILM DI PERPUSTAKAAN NASIONAL RI”

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: Z Bibliography. Library Science. Information Resources > Z719 Libraries (General)
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik > D3 - Perpustakaan
    Depositing User: Indrawan indra
    Date Deposited: 24 Nov 2017 19:56
    Last Modified: 24 Nov 2017 19:56
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/36316

    Actions (login required)

    View Item