Skor Fungsional Ankle pada Pasien Cerebral Palsy (CP) Spastic Diplegia yang Dilakukan Single Event Multilevel Surgery

Andryanto, Aryo Budiyogo (2017) Skor Fungsional Ankle pada Pasien Cerebral Palsy (CP) Spastic Diplegia yang Dilakukan Single Event Multilevel Surgery. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (255Kb)
    [img] PDF - Published Version
    Download (162Kb)

      Abstract

      Single Event Multi Level Surgery (SEMLS) merupakan penanganan yang paling sering digunakan untuk memperbaiki deformitas dan fungsional pada anak dengan Cerebral Palsy (CP) Spastik Diplegia. Belum ada penelitian di Indonesia yang menilai fungsi ankle pada pasien CP Spastik Diplegia yang telah dilakukan SEMLS. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh faktor umur, jenis kelamin dan jangka waktu operasi SEMLS dengan fungsional ankle pasien – pasien CP Spastik Diplegia yang telah dilakukan SEMLS di RSO. Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta (RSO). Metode. Penelitian ini merupakan studi cross sectional pada 43 pasien (25 laki-laki dan 18 perempuan) penderita Cerebral Palsy Spastik Diplegia yang telah dilakukan SEMLS di klinik pediatric orthopaedi RSO. Prof.dr.R.Soeharso Surakarta minimal 3 bulan pasca operasi, sejak 1 Januari 2013 hingga 31 Desember 2014. Fungsi ankle dinilai dengan The Oxford Ankle Foot Quissionairre for Children. outcome dalam prosentase di kelompokkan menjadi 4 : 91% - 100 % sangat baik, 81% - 90 % baik, 71 % - 80 % cukup dan jika lebih kecil dari 70% kurang. Kemudian dilakukan penilaian pengaruh umur, jenis kelamin dan lamanya evaluasi pasca operasi terhadap skor fungsional ankle pasien dengan pemeriksaan analisa model regresi linier. Hasil: Didapatkan 52 pasien dengan CP Spastik Diplegia telah dilakukan SEMLS namun hanya 43 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, pasien termuda berusia 5 tahun dan tertua 15 tahun dengan rerata usia 8,3 tahun. Dari 43 pasien, 25 orang (58 %) adalah laki – laki dan 18 orang (42%) adalah perempuanlamanya evaluasi paska operasi paling cepat adalah 5 bulan dan terlama adalah 26 bulan dengan rerata 14,3 bulan pasca operasi SEMLS. Dari 43 pasien didapatkan 11 pasien (25 %) fungsinya istimewa, 21 pasien (49%) baik, 8 pasien (19%) cukup, dan 3 (7 %) kurang. Faktor umur berpengaruh secara signifikan terhadap skor fungsional ankle (p =0,013) dan faktor lamanya evaluasi paska operasi juga berpengaruh secara signifikan terhadap skor fungsional Ankle dengan nilai p=0,04. Sedangkan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap skor fungsional ankle (p= 0,266). Kesimpulan. Didapatkan hasil yang cukup baik dalam penanganan pasien CP Spastik Diplegik yang dilakukan SEMLS di RSO. Prof. Dr. R. Soeharso. Umur dan lamanya evaluasi paska operasi berpengaruh secara signifikan terhadap skor fungsional ankle pada pasien CP Spatik Diplegia yang telah dilakukan SEMLS. Sedangkan jenis kelamin pasien tidak berpengaruh terhadap skor fungsional ankle pada pasien CP Spastik Diplegia yang telah dilakukan SEMLS. Kata Kunci : RSO. Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, CP Spastik Diplegia, SEMLS, Skor Fungsional Ankle

      Item Type: Thesis (Masters)
      Subjects: R Medicine > RZ Other systems of medicine
      Divisions: Fakultas Kedokteran
      Fakultas Kedokteran > Spesialis Orthopedi dan Traumatologi
      Depositing User: rifqi imaduddin
      Date Deposited: 25 Oct 2017 11:37
      Last Modified: 25 Oct 2017 11:37
      URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/35493

      Actions (login required)

      View Item