PEMIKIRAN KOMUNISME TAN MALAKA (Analisis Sosiologi Pierre Bourdieu Terhadap Polarisasi Paham Komunisme Tan Malaka)

Zahid, A. (2017) PEMIKIRAN KOMUNISME TAN MALAKA (Analisis Sosiologi Pierre Bourdieu Terhadap Polarisasi Paham Komunisme Tan Malaka). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (386Kb)

    Abstract

    A.Zahid. S251508001. Tesis. Pemikiran Komunisme Tan Malaka (Analisis Sosiologi Pierre Bourdieu Terhadap Polarisasi Paham Komunisme Tan Malaka). Pembimbing I: Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si, Pembimbing II: Dr. Argyo Demartoto, M.Si. Program Studi Sosiologi. Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret. 2017. ABSTRAK Tan Malaka, bukalah sosok yang asing lagi di dalam perhelatan revolusi Indonesia, pemikirannya serta gaya revolusinya berlandaskan pada apa yang dia pelajari selama hidupnya, rasionalitas serta empirisme menjadi landasan berfikirnya. Salah satu ketua Partai Komunis Indonesia yang kerapkali berlawanan arus dengan anggota elite politik partai, hingga kongres besar komunispun tak luput dari kritikan Tan Malaka. Berawal dari pemberontakan 1926 hingga konsepsi eloborasi komunisme dengan Pan-Islamisme untuk mengusir kaum imperialis, membuat Tan Malaka tak heran dikatakan sebagai penghianat partai oleh kalangan komunis khususnya di Indonesia. Jauh dari pemahaman tentang komunisme ala Tan Malaka yang terpenting dalam cita-citanya adalah menutup buku harian kaum imperialisme yang bertumpu pada kesadaran masyarakat untuk berjuang merebut kemerdekaan Indonesia, inilah yang disebut dengan merdeka 100%. Tentu, perlu adanya pemahaman akan kekuatan dalam diri masyarakat yang berindikasi terhadap kesadaran masyarakat untuk berfikir secara logis, dan dialektik, dengan demikian masyarakat akan terhindar dari paradigma mistik yang telah berakar rumput pada masyarakat Indonesia. Adapun jenis penelitan yang digunakan adalah penelitan kualitatif dengan metode deskriptif, karena penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendapatkan jawaban yang terkait dengan persepsi, serta pendapat sehingga memerlukan pembahasan yang terperinci secara kualitatif berdasarkan pada karya Tan Malaka. Dalam menganalisis data, menggunakan pendekatan Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dalam mengukur keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber untuk mengecek ulang data yang telah ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran komunisme Tan Malaka tertulis di dalam kariayanya yaitu Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Cara pandang Madilog adalah elaborasi pemikiran filsafat Marx yang dikontekstualisasikan pada konteks keindonesiaan yang pada waktu itu masih diselimuti paradigma magis. Kehadiran Madilog menjadi jalan keluar untuk berfikir dengan ilmiah dan penyelidiakan yang mendalam guna mendapat sebuah jawaban akhir, tujuannya bukan pada hasil penemuan tetapi pada cara berfikir untuk dapat sampai pada jawaban. Keberhasilan Tan Malaka di dalam pemikiran komunismenya tidak lepas dari perkembangan masa kehidupan Tan Malaka. Periode pertama saat Tan Malaka berada di Minangkabau yang menjadi titik tumpu terbentuknya habitus dalam konsepsi Pierre Bourdieu. Kurtur Minangkabau dan kuatnya ajaran Islam sebagai landasan berfikir saat melangkah, hingga pada pemikiran komunisme di dalam Madilog. Kedua, saat Tan Malaka berada di Belanda. Masa ini sebagai masa pengukuhan habitus baru Tan Malaka pada ranah praktek dan perkembangan keilmuanya, sehingga melahirkan tiga cara berfikir di dalam revolusi sosial, revolusi ekonomi dan revolusi pendidikan, inilah praktik yang dihasilkan dari akumulasi habitus Tan Malaka dalam konsepsi Pierre Bourdie untuk melihat sebuah praktik sosial. Kata kunci: Tan Malaka, Pemikiran Komunisme, Habitus Baru. A. Zahid. S251508001. Thesis. Tan Malaka’s Sociological Communism Thought (Pierre Bourdieu’s Sociological Analysis on Polarization of Communism Tan Malaka Thought). First Counselor: Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si, Second Counselor: Dr. Argyo Demartoto, M.Si. Department of Sociology. Postgraduate Program, Sebelas Maret University. 2017. ABSTRACT Tab Malaka is no longer a stranger in Indonesian revolution arena; his thought and revolution style built on what he learnt during his life; rationalism and empiricism were the foundation of his thought. He was one of Indonesian Communist Party (Partai Komunis Indonesia, thereafter called PKI) chairpersons often in opposition to party’s political elites and even the big communist congress was not escaped from his critique. Departing from a rebellion in 1926 and the conception of communism elaboration with Pan Islamism to expel the imperialist, it unsurprisingly that Tan was called the party traitor by communists, particularly in Indonesia. Far away from ala-Tan Malaka communism thought, the most important thing in his ideal was to close the imperialist’s daily standing on the society’s awareness of struggling for seizing Indonesia’s independence; it is that is called “being independent 100%”. Of course, there should be an understanding among the society suggesting the society’s awareness of thinking logically and dialectically; thus, the society will be avoided from mystical paradigm rooted in Indonesian society. The type of research used was a qualitative research with descriptive method, because this research aimed to get answer to perception, and argument thereby requiring detailed discussion qualitatively based on Tan Malaka’s work. Data analysis was conducted using Miles and Huberman’s approach consisting of data reduction, data display and conclusion drawing. Data validation was carried out using source triangulation to recheck the data found. The result of research showed that Tan Malaka’s communism thought was written on his work entitled Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Madilog’s view was the collaboration of Marx’s philosophical thought contextualized into Indonesian context that at that time was still enclosed with magic paradigm. The presence of Madilog became the solution to think scientifically and to conduct an in-depth investigation in order to get a final answer, aimed not at the finding result but at the way of thinking to arrive at the answer. Tan Malaka’s successful communism thought was inseparable from his life development. The fist period was when Tan Malaka was in Minangkabau, becoming the foothold of habitus creation in Pierre Bourdieu’s conception. Minangkabau’s culture and strong Islamic tenet served as the foundation of thinking when stepping toward the communism thought in Madilog. The second one was when Tan Malaka was in Netherlands. This period was the inauguration of Tan Malaka’s new habitus in his scholarship practice and development, thereby resulting in three mindsets in social revolution, economic revolution, and education revolution. It is the practice resulting from Tan Malaka’s habitus accumulation in Pierre Bourdieu’s conception to see Social Practice. Keywords: Tan Malaka, Communism thought, New Habitus

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: H Social Sciences > HM Sociology
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister > Sosiologi - S2
    Depositing User: Arief Atmojo
    Date Deposited: 14 Oct 2017 07:50
    Last Modified: 14 Oct 2017 07:50
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/35085

    Actions (login required)

    View Item