ANALISIS PENGARUH EFEKTIVITAS CARA BELAJAR TERHADAP KINERJA MAHASISWA (Survei Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi UNS)

WILUJENG SANTOSO, AYU (2003) ANALISIS PENGARUH EFEKTIVITAS CARA BELAJAR TERHADAP KINERJA MAHASISWA (Survei Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi UNS). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (323Kb)

    Abstract

    Tenaga kerja yang profesional merupakan syarat utama pengembangan bisnis yang bersifat kompetitif, sehingga mengarah pada tingkat penggunaan tenaga kerja yang optimal. Menurut Wahyuddin (2000), bahwa upaya untuk pengembangan profesionalisme tenaga kerja dilakukan selain melalui pendidikan juga pelatihan serta pengembangan di tempat kerja. Wahyuddin (2000), mengungkapkan pendidikan merupakan jalur peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang lebih menekankan pada kualitas dasar, misalnya keimanan dan ketaqwaan, kepribadian, kecerdasan, kedisiplinan, kreativitas dan sebagainya. Dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas perlu suatu proses yang salah satunya adalah proses dalam dunia pendidikan tinggi. Achmad (2001), menyatakan Perguruan tinggi adalah suatu lembaga yang memberikan atau menyelenggarakan pelayanan berupa pendidikan kepada pelanggannya (mahasiswa) dalam rangka menaikkan kualitas hidup melalui pendidikan yang diselenggarakan dengan cara yang sistematis dan konsisten. Perguruan tinggi diyakini mempunyai tugas yang sangat penting yaitu menyiapkan sumber daya manusia agar mampu bertindak sebagai agen perubahan dan transformasi sosial menuju terciptanya masyarakat yang positif serta lebih baik. Permasalahan kualitas dalam perguruan tinggi mempunyai arti yang sangat penting dalam memberikan kualitas belajar mengajar yang sesuai dengan kurikulum dan harapan mahasiswa yang nantinya akan menghasilkan sumber daya manusia intelektual yang berkualitas. Semakin ketatnya persaingan di dunia kerja terlebih lagi pada saat perdagangan bebas diberlakukan, lulusan jurusan akuntansi UNS harus mempersiapkan diri karena mereka tidak hanya bersaing dengan lulusan dari universitas di dalam negeri saja tetapi nantinya juga harus bersaing dengan lulusan universitas dari luar negeri. Para lulusan harus mempunyai pengetahuan dan kompetensi yang tinggi. Kompetensi yang dimiliki seperti 1) kemampuan berkomunikasi, 2) pemanfaatan informasi, 3) kemampuan dalam membuat keputusan, 4) mempunyai pengetahuan pada akuntansi, pajak dan pengauditan, 5) mempunyai pengetahuan pada bisnis dan lingkungan, 6) mempunyai sikap profesionalisme, 7) mempunyai jiwa kepemimpinan ( Deppe et.al, 1991). Untuk memperoleh kompetensi di atas, para lulusan harus mempersiapkannya sejak di bangku kuliah. Dengan belajar di perguruan tinggi, diharapkan seseorang mengalami proses belajar secara formal yang akan memberikan wawasan, pengetahuan, keterampilan, kepribadian dan perilaku tertentu sesuai dengan apa yang ingin dituju oleh lembaga pendidikan. Tenaga-tenaga akuntansi yang berkualitas sangat diharapkan dihasilkan oleh dunia pendidikan terutama dunia pendidikan tinggi. Machfoedz ( 1997 ) mengemukakan bahwa pendidikan akuntansi, pertama diarahkan untuk mendeliver berbagai macam pengetahuan dan keahlian agar para mahasiswa mengetahui banyak hal, kedua pendidikan akuntansi menuju pendidikan dengan hasil lulusan yang spesialist, dan ketiga yaitu membentuk lulusan sangat tinggi technical skillnya. Dunia pendidikan tinggi termasuk pendidikan tinggi S-1 akuntansi berkewajiban untuk mendukung terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas dalam bidang akuntansi. Upaya peningkatan kualitas pendidikan tinggi S-1 ini tidak lepas pula dari kualitas proses pendidikan sendiri. Salah satunya yang cukup berperan adalah proses belajar mengajar yang efektif. Dari proses belajar mengajar yang efektif maka apa yang seharusnya diketahui oleh mahasiswa dapat benar-benar tersampaikan dan diterima dengan baik oleh mahasiswa serta dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan suatu evaluasi yang mampu menilai kinerja mahasiswa. Pada dasarnya dalam proses belajar mengajar ( PBM ) itu terdiri dari 3 komponen yaitu pengajar ( dosen, guru, instruktur dan tutor ), siswa (yang belajar), dan bahan ajar yang diberikan oleh pengajar ( Soekartawi, 1999: 2 ). Bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pelaksanaan PBM ini menjadi lebih kompleks, karena ketiga komponen ( pengajar, siswa dan bahan ajar ) masih dipengaruhi oleh variabel yang lain. Dalam penelitian ini akan diteliti pengaruh efektivitas cara belajar atau cara belajar yang efektif terhadap kinerja mahasiswa (survei pada mahasiswa fakultas ekonomi jurusan akuntansi UNS). Menurut peneliti, mahasiswa akuntansi memerlukan cara belajar efektif untuk dapat benar-benar memahami bidang akuntansi. Tidak semua mahasiswa dapat menangkap isi bahan ajar dengan cepat, tidak semuanya rajin dan tidak semuanya mampu melakukan penyesuaian dengan situasi di lingkungan mereka belajar. Peneliti beranggapan bahwa saat mencapai usia dewasa khususnya di perguruan tinggi maka mahasiswa memiliki tanggung jawab yang besar atas belajarnya sendiri misalnya ia harus bisa memilih program, memotivasi diri atau kalau perlu memecut diri sendiri untuk mencapai hasil yang diharapkan. Walaupun ada penanggung jawab seperti dosen misalnya, akan tetapi pada akhirnya hasil belajar itu akan ditentukan oleh kerja keras mahasiswa itu sendiri. Sebagai seorang siswa, belajar merupakan kewajiban yang mau tidak mau harus dikerjakan dalam usaha meraih belajar yang tinggi, kesungguhan seseorang untuk belajar sangat dibutuhkan. Cara belajar yang dilakukan seorang siswa berpengaruh besar terhadap prestasi belajar yang dalam hal ini kinerja seseorang. Cara-cara belajar yang efektif menurut Suparno (2001: 93), yaitu (1) membuat rangkuman konsep penting (2) membuat situasi yang kondusif (3) membaca secara efektif (4) memanfaatkan sumber-sumber belajar lain dan (5) menganalisis soal atau tugas. Peneliti menambah satu cara belajar yang efektif lagi menurut Porter & Hermacki (1999) yaitu (6) menggunakan hafalan. Secara umum pengukuran kinerja dalam perguruan tinggi didefinisikan sebagai proses yang digunakan untuk menentukan dampak atau efektivitas suatu aktivitas, sesi, kuliah, program (De Mong et.al, 1994). Manfaat dari pengukuran kinerja suatu program adalah 1) peningkatan prestasi akademik sehingga mendekati apa yang sebenarnya mahasiswa butuhkan 2) adanya persetujuan yang jelas pada ekspetasi pada pemahaman mahasiswa 3) meningkatkan perhatian pada pengalaman mahasiswa 4) mengumpulkan informasi yang dibutuhkan di masa yang akan datang (Hutching et.al, 1994 seperti yang dikutip De Mong et.al, 1994). Dari manfaat yang diperoleh maka pengukuran kinerja sangatlah diperlukan agar tidak terjadi penyimpangan dari tujuan yang telah ditentukan. Tetapi yang terpenting untuk mencapai program yang berkualitas adalah mahasiswa itu sendiri, faktor-faktor lain merupakan faktor pendukung. Jika tidak ada kemauan dari mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan kompetensi, program yang dirancang sebagus apapun tidak akan berhasil, karena mahasiswa merupakan masukan yang penting untuk menilai suatu program. Maka skripsi ini akan meneliti keberhasilan program dari aspek mahasiswa, sedangkan untuk metode pengajaran dan efektivitas perkuliahan merupakan faktor pendukung keberhasilan. Menurut Glueck (1978) dalam Suprihatiningsih (2000), evaluasi kinerja merupakan kegiatan penentuan sampai pada tingkat mana seseorang melaksanakan tugasnya secara efektif. Ada berbagai cara yang dapat digunakan untuk menilai kinerja seseorang yang salah satunya adalah penilaian kinerja yang dilakukan oleh diri sendiri seperti dalam penelitian ini dimana mahasiswa menilai sendiri untuk dapat menentukan seberapa besar tingkat kinerja mereka. Natour Group dalam Muthmainah (2000) menyebutkan dua faktor yang dievaluasi dari kinerja. Faktor yang pertama yaitu faktor-faktor teknis meliputi (1) kehadiran di kelas (2) penguasaan tugas (3) pelaksanaan tugas (4) partisipasi di kelas (5) kedisiplinan (6) pemanfaatan waktu (7) perolehan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) (8) kegiatan di luar kampus (extra kurikuler). Faktor yang kedua yaitu faktor-faktor pribadi meliputi (1) kemampuan menyesuaikan diri (2) kemampuan dan kemauan belajar (3) kemampuan bekerjasama (4) sopan santun (5) penampilan diri (6) tanggung jawab (7) kepercayaan diri (8) wawasan. Peneliti akan mengambil beberapa point yang dipandang perlu dan jika perlu akan melakukan penambahan. Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa pelaksanaan pendidikan tinggi yang berkualitas berkaitan dengan kualitas proses dan produknya. Kualitas proses akan tercermin pada proses belajar mengajar yang efektif dan peserta didik yang mengalami proses pembelajaran yang bermakna. Secara sederhana proses pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan produk yang berkualitas pula. Namun berbagai upaya yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan tinggi akuntansi ini tidak akan efektif dalam menghasilkan calon-calon akuntan yang profesional, intelektual dan berpendidikan kecuali mahasiswa benar-benar mempelajari dan memahami akuntansi melalui cara- cara belajar yang efektif. Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti “Analisis Pengaruh Efektivitas Cara Belajar terhadap Kinerja Mahasiswa (Survei Pada Mahasiswa fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi UNS)”

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HB Economic Theory
    Divisions: Fakultas Ekonomi
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:10
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:10
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3495

    Actions (login required)

    View Item