SENGKETA TANAH BEKAS PERKEBUNAN TEMBAKAU BANDAR CHALIPAH, KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 1947 - 1960

LESTARI, SUTRISNA (2010) SENGKETA TANAH BEKAS PERKEBUNAN TEMBAKAU BANDAR CHALIPAH, KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 1947 - 1960. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (522Kb)

    Abstract

    Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu (1) Apa yang menjadi penyebab timbulnya sengketa tanah bekas perkebunan tembakau Bandar Chalipah tahun 1947-1960? (2) Bagaimanakah bentuk sengketa yang terjadi selama tahun 1947 sampai dengan tahun 1960 di perkebunan tembakau Bandar Chalipah? (3) Bagaimanakah proses penyelesaiannya konflik tanah bekas perkebunan Bandar Chalipah oleh pihak-pihak yang bersangkutan? Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui penyebab timbulnya sengketa tanah bekas perkebunan tembakau Bandar Chalipah tahun 1947-1960. (2) Mengetahui bentuk sengketa yang terjadi selama tahun 1947 sampai dengan tahun 1960 di perkebunan tembakau Bandar Chalipah. (3) Mengetahui proses penyelesaiannya konflik tanah bekas perkebunan tembakau Bandar Chalipah oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahap yaitu heuristik, kritik sumber baik intern maupun ekstern, interpretasi dan historiografi. Sumber-sumber utama atau data yang digunakan berupa arsip-arsip yang pernah dimiliki oleh AVROS. Tehnik analisis data yang digunakan bersifat deskriptif, menghasilkan penelitian yang bersifat deskriptif analitis. Paska kemerdekaan sekitar tahun 1947 merupakan masa-masa yang sulit bagi rakyat yang tinggal di sekitar perkebunan tembakau Bandar Chalipah. Satusatunya cara yang dapat dilakukan rakyat untuk mempertahankan hidup adalah dengan menempati lahan-lahan perkebunan tembakau yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya (DPV/AVROS). Lahan-lahan bekas perkebunan tembakau Bandar Chalipah mereka gunakan untuk menanam tanaman bahan pangan seperti padi, jagung, ketela dan sebagainya. Kedatangan kembali para pengusaha perkebunan tembakau di perkebunan Bandar Chalipah tahun 1950 membuat para rakyat harus tersingkir dari lahan-lahan yang telah mereka tempati. Inilah yang menjadi awal kemunculan sengketa antara pengusaha perkebunan dan rakyat. Pemerintah menjadi penengah dalam sengketa tanah di perkebunan tembakau Bandar Chalipah dengan beberapa kali mengeluarkan peraturan perundangundangan yang sifatnya belum permanen. Akan tetapi sengketa terus terjadi sampai dengan tahun 1958. Sengketa terus terjadi karena rakyat sangat membutuhkan tanah dan dari hasil tanahlah mereka menggantungkan hidupnya. Kondisi yang demikian mendorong pemerintah untuk segera melakukan nasionalisasi perkebunan tembakau Bandar Chalipah dan menyusun undangundang agraria yang sifatnya permanen. Dari analisis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor status kepemilikan tanah menjadi penyebab utama terjadinya sengketa tanah di perkebunan tembakau Bandar Chalipah.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: D History General and Old World > D History (General)
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa
    Fakultas Sastra dan Seni Rupa > Ilmu Sejarah
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 14 Jul 2013 00:20
    Last Modified: 14 Jul 2013 00:20
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3494

    Actions (login required)

    View Item