HUBUNGAN ANTARA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DENGAN TERJADINYA VERTIGO DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA

Ari Wiranita, Hardiyanti (2010) HUBUNGAN ANTARA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DENGAN TERJADINYA VERTIGO DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (741Kb)

    Abstract

    Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah radang kronis mukosa telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluar sekret dari telinga tengah lebih dari 2 bulan baik terus menerus maupun hilang timbul, sifat sekretnya mungkin serous, mukus atau mukopurulen (Soepardi, 2001). Pada orang awam, penyakit ini lebih dikenal dengan istilah congekan. Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di Poliklinik THT rumah sakit di Indonesia (Aboet, 2007). Jumlah penderita ini kecil kemungkinan untuk berkurang bahkan mungkin bertambah setiap tahunnya mengingat kondisi ekonomi yang masih buruk serta kesadaran masyarakat akan kesehatan yang masih rendah. Akibatnya, banyak penderita yang tidak tuntas dalam menjalani pengobatan bahkan ada yang menganggap bahwa penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Tidak sedikit penderita yang baru memeriksakan diri ke dokter setelah timbul komplikasi dari OMSK. Komplikasi pada OMSK sering diakibatkan oleh suatu proses penyebaran infeksi. Lima faktor yang dapat mempengaruhi penyebaran infeksi dari otitis media yaitu tipe dan virulensi dari organisme penyebab, terapi antimikroba, resistensi host, barrier anatomis, dan keberadaan fokus drainase (Stierman, 1998). Salah satu gejala dari komplikasi intratemporal otitis media yang dapat membawa pasien untuk memeriksakan diri ke dokter yaitu vertigo. Vertigo bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala dari penyakit penyebabnya. Vertigo ialah ilusi bergerak, penderita merasakan atau melihat lingkungannya bergerak, padahal lingkungannya diam, atau penderita merasakan dirinya bergerak, padahal tidak (Lumbantobing, 2007). Vertigo diakibatkan oleh terganggunya sistem vestibular yang terbagi menjadi vertigo perifer (akibat gangguan pada end organ) dan vertigo sentral (akibat gangguan pada saraf vestibular atau hubungan sentral menuju batang otak atau cerebellum) (Wipold II dan Turski, 2009). Vertigo dapat terjadi pada otitis media supuratif kronis yang telah mengakibatkan komplikasi berupa labirintitis (Stierman, 1998). Manifestasi ini dapat timbul pada otitis media supuratif kronis dengan atau tanpa kolesteatoma. Kolesteatoma dapat mengakibatkan erosi dari canalis semicircularis (Bruce, 2008). Canalis semicircularis berperan dalam mengatur dan menjaga keseimbangan sehingga gangguan pada saluran ini dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan. Kelainan pada labirin perlu mendapat perhatian penting mengingat adanya hair cell di dalam labirin yang berperan sebagai reseptor vestibuler. Reseptor vestibuler berperan sangat besar dibanding reseptor visus dan reseptor propioseptik dalam mempertahankan keseimbangan yaitu lebih dari 55% (Joesoef, 2006). Dominansi reseptor vestibular ini mengingatkan akan pentingnya menjaga labirin yang terletak di telinga dalam agar tidak terjadi kelainan yang dapat disebabkan oleh OMSK. Oleh karena itu, seberapa besar hubungan otitis media supuratif kronis dengan vertigo periferal ini penting untuk diketahui agar terapi dini dan pencegahan terhadap timbulnya komplikasi dapat segera diterapkan. Berdasarkan uraian di atas, penulis akan melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan otitis media supuratif kronis dengan terjadinya vertigo di RSUD Dr.Moewardi Surakarta.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran
    Fakultas Kedokteran > Pendidikan Kedokteran
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 13 Jul 2013 22:49
    Last Modified: 13 Jul 2013 22:49
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3459

    Actions (login required)

    View Item