PELAKSANAAN PRINSIP BAGI HASIL DALAM PEMBIAYAAN DENGAN AKAD MUDHARABAH DAN HAMBATANNYA PADA PT. BANKPEMBIAYAANRAKYAT SYARIAHSUKOWATISRAGEN

S U T R I S, (2009) PELAKSANAAN PRINSIP BAGI HASIL DALAM PEMBIAYAAN DENGAN AKAD MUDHARABAH DAN HAMBATANNYA PADA PT. BANKPEMBIAYAANRAKYAT SYARIAHSUKOWATISRAGEN. PhD thesis, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

[img] PDF - Published Version
Download (210Kb)

    Abstract

    Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Ada kalanya masyarakat tidak memiliki cukup dana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karenanya, dalam perkembangan perekonomian masyarakat yang semakin meningkat muncullah jasa pembiayaan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank. Peranan perbankan yang sangat strategis dalam mencapai tujuan pembangunan ekonomi Indonesia dewasa ini memerlukan pengkajian yang seksama atas konsep-konsep perbankan yang selama ini dioperasionalkan, baik secara konseptual maupun dalam aplikasinya, sehingga tercipta suatu sistem perbankan yang tangguh di era-globalisasi pada masa yang akan datang. Keberadaan Bank Syariah di Indonesia belum sepenuhnya diterima, masih ada sebagian masyarakat yang menyamakan dengan bank konvensional Menurut Sofiniyah Ghufron dalam Operasionalnya, bank syariah berada dalam beberapa koridor prinsip: 1. keadilan sebagai ruh dan misi utama. Bank Syariah memberikan bagi hasil (mudharabah), transper prestasi dari mitra usaha sesuai dengan hasil kerjanya masing-masing dalam proporsi yang adil sesuai dengan fitrah alam. Fitrah alam dan fitrah usaha pada dasarnya harus selalu diupayakan, sedangkan hasilnya tidak pasti, kadang-kadang berhasil, kadang-kadang gagal. Aplikasi prinsip keadilan tersebut adalah pembagian keuntungan antara bank dan pengusaha atas dasar volume penjualan. Besarnya pembagian keuntungan tergantung kepada besanya konstribusi masing-masing. Demikian pula, semakin besar posisi resiko yang ditanggung, maka hasil yang diperoleh semakin tinggi. 2. kemitraan. Posisi nasabah, investor, pengguna dana, bank berada dalam kedudukan yang sejajar sebagai mitra. Kinerja keras dan waktu mendapatkan tempat yang sepadan dengan faktor modal. 3. transparansi. Transparansi adalah faktor yang inheren dalam sistem perbankan syariah. Melalui laporan keuangan yang terbuka secara berkesinambungan, nasabah dapat dengan segera mengetahui tingkat keamanan dana, situasi dunia usaha, kondisi perekonomian bahkan kualitas manajemen bank. 4. universal dalam kemitraan. Bank syariah harus menjadi alat yang ampuh untuk mendukung perkembangan usaha tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan.

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: H Social Sciences > HJ Public Finance
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister > Ilmu Hukum - S2
    Depositing User: Users 849 not found.
    Date Deposited: 13 Jul 2013 21:33
    Last Modified: 13 Jul 2013 21:33
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3378

    Actions (login required)

    View Item