KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DALAM FILM “GRAN TORINO” Studi Semiotik Komunikasi Antar Budaya Amerika dan Suku Hmong Dalam Film “Gran Torino”

TRIANDINI, ANINTIA (2010) KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DALAM FILM “GRAN TORINO” Studi Semiotik Komunikasi Antar Budaya Amerika dan Suku Hmong Dalam Film “Gran Torino”. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (946Kb)

    Abstract

    Suatu perang terjadi antara sebuah kerajaan Melayu di Indonesia dan sebuah angkatan perang penjajah karena perkara “sepele”. Ketika berkunjung ke kerajaan itu, komandan bule mencium tangan sang permaisuri sebagai tanda penghormatan. Raja Melayu marah karena menganggap pemimpin kolonial tersebut kurang ajar. Untuk budaya timur hal tersebut apabila dilakukan terhadap perempuan lain yang bukan pasangannya dianggap tidak sopan. (Condon dan Yousef, 1985:89) Cerita diatas merupakan salah satu contoh dari komunikasi antar budaya. Bila komunikasi terjadi antara orang-orang yang berbeda bangsa, ras, bahasa, agama, tingkat pendidikan, status sosial atau bahkan jenis kelamin, komunikasi demikian disebut dengan Komunikasi Antar Budaya. Manusia bahwasanya memang diciptakan berbeda-beda oleh Tuhan. Perbedaan-perbedaan itu dapat dilihat baik dari segi negara, bahasa, budaya, agama, status ekonomi maupun yang lainnya. Tapi perbedaan itu tidak akan menjadi alasan matinya komunikasi antar manusia. Karena komunikasi telah menjadi bagian hidup dari manusia yang tak dapat dipisahkan. Sosial adalah ungkapan kebutuhan manusia untuk saling berkomunikasi satu dengan yang lain, dan budaya adalah sesuatu yang diciptakan manusia yang secara harfiah adalah suatu kebiasaan yang baku pada suatu komunitas sosial (suku/etnis). Di beberapa negara banyak ditemui masyarakatnya hidup dalam keanekaragaman, baik dari budaya maupun bahasanya. Contoh paling dekat adalah negara kita sendiri, Indonesia. Meskipun menjadi negara yang memiliki keragaman budaya, namun Indonesia dapat menunjukkan sikap toleransi dan persatuannya di dalam kehidupan yang sarat akan keberagaman budayanya. Komunikasi antar budaya merupakan bentuk interaksi yang terjadi di antara anggota-anggota budaya yang berbeda. Setiap interaksi antar budaya selalu menggambarkan hubungan antara tindakan individu dari satu kebudayaan dengan tindakan individu dari kebudayaan lain yang maknanya belum tentu disamakan. Dari hal tersebut, maka sebenarnya komunikasi antar budaya merupakan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh komunikator dan komunikan yang berbeda, bahkan dalam satu bangsa sekalipun. (Alo Liliweri, 2001:14) Para ilmuwan sosial mengakui bahwa budaya dan komunikasi itu mempunyai hubungan timbal balik. Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi pun sangat bergantung pada budaya kita, seperti pada bahasa, aturan, dan norma masing-masing. Perbedaan-perbedaan dalam ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, karena hal tersebut setidaknya dapat menyebabkan komunikasi tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau kesalahpahaman. Dewasa ini, kesalahpahaman seperti itu masih sering terjadi ketika kita bergaul dengan kelompok budaya yang berbeda, problem utamanya adalah kita cenderung menganggap budaya kita sebagai suatu kemestian, tanpa mempersoalkannya lagi, dan menggunakannya sebagai suatu standar untuk mengukur budaya-budaya lain. (Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, 2001:VI-VII) Kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh perbedaan ini pada akhirnya dapat menimbulkan konflik. Sumber dari konflik yang lazim terjadi antara lain salah satunya karena adanya stereotip-stereotip antar suku, yang merupakan penilaian negatif dan salah kaprah terhadap budaya atau suku lain. Tak sedikit pula orang-orang melihat sebelah mata pada kebudayaan tradisional yang dimiliki oleh kelompok masyarakat lain, kurang menerima dan bahkan menolak sama sekali akan sikap tradisional yang masih dipegang oleh beberapa orang. Dalam hal ini adapun upaya untuk menghindari perpecahan nasional dan mengusahakan terjadinya perdamaian, dapat dilakukan dengan kesediaan diri untuk mempelajari struktur, proses komunikasi maupun isi dan psikologi budaya lain. Semakin banyak pengetahuan yang diambil dan terbukanya pihak-pihak yang berbeda budaya tersebut, maka akan semakin berhasil pula mereka dalam melakukan proses komunikasi. Kedua belah pihak harus memiliki pengetahuan dan kesadaran multikultural yang sama serta pengertian terhadap yang lain tanpa prasangka, sehingga dapat membangun persamaan dalam berkomunikasi dan adanya sikap yang saling menghormati pula. Dari realitas kehidupan bermasyarakat seperti yang disebutkan di atas, kini banyak media massa yang tertarik untuk menampilkan sisi kehidupan bermasyarakat yang berada dalam keberagaman budaya, dan salah satunya melalui film. Film diciptakan berpangkal dari realitas masyarakat dan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan kekuatan film dalam merepresentasikan kehidupan, sehingga mampu memuat nilai budaya masyarakat. Menurut Graeme Turner, makna film sebagai representasi dari realitas masyarakat berbeda dengan film sekedar sebagai refleksi dari realitas. Sebagai refleksi dari realitas, film sekedar memindah realitas ke layar tanpa mengubah realitas itu. Sementara itu, sebagai representasi dari realitas, film membentuk dan menghadirkan kembali realitas berdasarkan kode-kode, konvensikonvensi, dan ideology dari kebudayaannya. (Alex Sobur, 2006:128) Film merupakan sebuah produksi yang membutuhkan kerja kolaboratif, yaitu melibatkan sejumlah tenaga kerja kreatif yang saling mendukung dan saling mengisi untuk membentuk totalitas film. Keahlian kreatif itu kemudian menghasilkan bahasa film yang harus dikenali dan dipahami oleh penontonnya. Kita harus mengenalinya karena film bercerita tentang kehidupan dan segala hal di dunia, maka penting untuk memhami teknik visual dan teknik filmis tersebut agar kita paham apa maksud dari film yang kita tonton. Melalui bahasa yang diucapkan kita dapat menungkapkan isi hati, gagasan, data, fakta dan kita mengadakan kontak dan hubungan dengan orang lain. Demikian halnya dengan film yang juga menghasilkan bahasa. Melalui gambar-gambar yang disajikan di layar, film mengungkapkan maksudnya, menyampaikan fakta dan mengajak penonton berhubungan dengannya. Serangkaian gambar yang bergerak dan terangkai, serta suara dalam film merupakan suatu simbol-simbol yang harus dipahami dan dikuak maknanya oleh penonton sehingga dapat ditemui dan diketahui pesan-pesan yang ada dalam suatu film. Melalui film, pembuat film mengajak penontonnya menerima data, fakta, gagasan, pandangan, pikiran, cita-citanya dan saling berbicara tentangnya. (Mangunhardjana, 1995:109) Film dapat menceritakan kepada kita tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan. Baik tentang ekonomi, politik, sosial maupun ilmu pengetahuan lainnya. Melalui film pesan-pesan yang berhubungan dengan setiap segi kehidupan tersebut dapat dituturkan dengan bahasa audio visual yang menarik, sesuai dengan sifat film yang berfungsi sebagai media hiburan, informasi, promosi maupun sarana pelepas emosi khalayak. Sebagai salah satu bentuk media massa, film dapat difungsikan sebagai media dalam wujud ekspresi, yang berperan untuk mempresentasikan suatu budaya atau gambaran realitas dari suatu masyarakat. Dewasa ini film telah menjadi suatu objek pengamatan yang menarik untuk diteliti. Selain berfungsi sebagai media massa yang menjadi bagian dari komunikasi massa, film juga terdapat bahasa baik verbal maupun non verbal. Salah satu film yang menarik untuk diamati adalah Film Gran Torino. Film tersebut merupakan salah satu contoh refleksi dari realitas pada masyarakat yang mempresentasikan adanya tindakan komunikasi antar budaya. Film karya Clint Eastwood ini menjadi menarik untuk diteliti karena pada film tersebut terdapat representasi dari terjadinya Komunikasi Antar Budaya, yaitu antara warga Amerika dengan Suku Hmong imigran Vietnam. Meskipun era globalisasi semakin berkembang dan pengetahuan semakin maju, namun sebagai warga negara yang mempunyai adikuasa seperti Amerika, tak sedikit yang masih melihat sebelah mata dan memandang negatif terhadap bangsa atau suku lain, khususnya terhadap suku Hmong, sebuah suku kecil yang terbuang dari negaranya Vietnam. Dari dasar perbedaan tersebut yang kemudian menjadi awal dari kesalahpahaman muncul. Apalagi sebagai tuan rumah, warga Amerika ini lebih mempunyai hak dan menjadi lebih arogan terhadap suku Hmong yang notabene seorang imigran, baik secara martabat, pengetahuan maupun ekonomi. Dan dengan adanya persamaan dan kemauan untuk mau saling terbuka dan menerima menjadi buah usaha dalam menciptakan perdamaian dan keharmonisan dalam suatu lingkungan yang saling berbeda budayanya. Film ini menceritakan kehidupan suku Hmong yang tinggal di Amerika yang mau tak mau harus bergaul dengan orang-orang Amerika, bagaimana mereka diperlakukan dan bagaimana warga Amerika melihat suku Hmong ini. Bermula dari sebuah insiden di pihak keluarga Suku Hmong yang menimbulkan keributan sehingga membuat seorang warga Amerika tetangga sebelah mereka ini ikut terlibat alih-alih tidak ingin terganggu dengan keributan tersebut. Kejadian tersebut justru kemudian membantu pihak keluarga Suku Hmong terhindar masalah. Sebagai suatu golongan yang masih memegang nilai adatnya, mereka memberi berbagai makanan dan hadiah kepada orang Amerika yang telah menolongnya tersebut sebagai bentuk rasa terima kasih. Meski pada awalnya menolak, namun pada akhirnya orang Amerika tersebut mencoba menerima dan mulai membuka diri terhadap anggota keluarga dari Suku Hmong tersebut. Dan begitu pula sebaliknya, orang dari suku Hmong ini bisa lebih percaya diri dalam bergaul di lingkungannya. Dari cerita tersebut diatas, penulis merasa tertarik untuk mengangkat film ini menjadi bahan penelitian lebih lanjut, karena terdapat simbol-simbol tersembunyi tentang komunikasi antar budaya untuk diteliti. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan Metode Analisis Semiotika. Semiotika adalah suatu bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang. (Alex Sobur, 2006:11) Metode analisis semiotika digunakan sebagai pendekatan untuk mengalisis media dengan asumsi bahwa media itu sendiri dikomunikasikan melalui seperangkat tanda. Teks media yang tersusun atas seperangkat tanda tersebut tidak pernah membawa makna tunggal (Alex Sobur, 2002:95) Semiotika juga bertujuan untuk menggali sistem hakikat tanda yang beranjak keluar kaidah tata bahasa dan sintaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi, dan bergantung pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna tambahan (connotative) dan arti penunjukkan (denotative) atau kaitan dan kesan yang ditimbulkan dan diungkapkan melalui penggunaan dan kombinasi tanda. (Alex Sobur, 2002:126-127) Melalui film yang dipresentasikan lewat berbagai tanda seperti bahasa dan gambar tersebut, Clint Eastwood mencoba untuk menyisipkan dan mengkomunikasikan kepada publik bahwa di dalam lingkungan dengan budaya yang beragam, mampu tercipta keharmonisan hidup dengan saling menerima dan menghormati kebudayaan tradisional satu sama lain, tanpa harus menghilangkan budaya asli itu sendiri, khususnya dalam hal ini antara pribumi Amerika dengan imigran Suku Hmong, melalui komunikasi antar budaya yang baik.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    H Social Sciences > HS Societies secret benevolent etc
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 13 Jul 2013 21:28
    Last Modified: 13 Jul 2013 21:28
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3367

    Actions (login required)

    View Item