RESILIENSI KOMUNITAS DI KAWASAN RAWAN BENCANA DALAM PERSPEKTIF KONSTRUKSI RUANG-WAKTU HIDUP SELARAS BERSAMA RISIKO BENCANA.

Yusup, Yasin (2017) RESILIENSI KOMUNITAS DI KAWASAN RAWAN BENCANA DALAM PERSPEKTIF KONSTRUKSI RUANG-WAKTU HIDUP SELARAS BERSAMA RISIKO BENCANA. PhD thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (59Kb)

    Abstract

    Pemikiran resiliensi sejak kemunculannya 4 dekade lalu di bidang ekologi berevolusi mulai dari resiliensi berbasis equilibrium (resiliensi rekayasa dan ekologi) sampai dengan resiliensi berbasis non-equilibrium (resiliensi social-ekologi atau evolusioner). Resiliensi pada awalnya lebih dilihat sebagai atribut sistem, tetapi pada perkembangan berikutnya resiliensi dilihat sebagai hasil proses keagenan baik agensi manusia maupun bukan manusia, meskipun demikian ada keagenan lain yang belum sepenuhnya diperhitungkan yaitu agensi proses relasional dan aliran material serta agensi kewaktuan mencakup skala yang luas dan panjang. Di sisi lain ada kecenderungan pemikiran resiliensi terjebak ke dalam menaturalisasi proses sosial-ekologis, menanggalkan konten sosial, menyembunyikan mekanisme bagaimana sistem dibangun secara social, dan depolitisasi pilihan nilai, serta tidak bisa menangkap pengalaman hidup. Disinilah pentingnya Teori Produksi Ruang yang dilengkapi dengan perspektif rhythmanalysis dan Actor Network Theory untuk bisa mengisi celah teoritik tersebut. Penelitian ini bertujuan mengungkap penyebab yang mempengaruhi kecenderungan komunitas di Kawasan Rawan Bencana memilih hidup bersama risiko bencana dan menjelaskan proses konstruksi ruang-waktu hidup selaras bersama risiko bencana dari 3 komunitas di KRB Gunungapi Merapi dalam konteks politik-ekonomi, ekologi, sosial, budaya dan bahaya yang berubah dari waktu ke waktu. Menggunakan metode regressive-progressive penelitian ini fokus kepada letusan-letusan G. Merapi pada dekade terakhir Abad 20 dan dekade awal Abad 21 yang menjadi momen-momen penting bagi naik dan turunnya corak adaptasi tertentu, seperti transformasi adaptasi berbasis kepercayaan lokal ke adaptasi berbasis sains dan teknologi; transformasi adaptasi berbasis teknokratik ke adaptasi yang lebih bersifat community base; dan transformasi adaptasi yang bersaing menjadi adaptasi berbasis forum yang saling bekerja bersama-sama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan komunitas memilih hidup bersama risiko bencana disebabkan karena pertama; letusan dilihat lebih sebagai penyedia sumberdaya penghidupan daripada bencana; kedua, warga memiliki mekanisme adaptasi ‘empan papan-empan wektu’ untuk menyelaraskan diri dengan irama letusan Merapi. Sepanjang letusan dalam momen bahaya, warga KRB menyingkir sementara, tetapi begitu momen bahaya reda dan letusan beralih ke dalam momen sumberdaya, warga kembali ke kampung halamannya. Selama abad 20, keberadaan bukit di lereng selatan sebagai morfologi pelindung dan interaksinya dengan arah letusan ke barat dan letusan tipe Merapi memberikan keleluasaan bagi warga di lereng selatan untuk melakukan aktivitas sehari-harinya seperti biasa, bahkan di saat G. Merapi meletus sekalipun. Namun demikian disinilah letak jebakannya, ketika warga menjadi nyaman dengan kondisi tersebut dalam waktu yang cukup lama, sensitivitas terhadap bahaya menurun dan menjebak mereka ke dalam perasaan aman yang keliru. Saat terjadi dinamika letusan, terjadilah bencana. Penelitian ini menunjukkan bahwa ruang-waktu bahaya dan sumberdaya bersifat dinamis dan ritmik, bukan rigid dan fixed. [Kata Kunci: konstruksi ruang-waktu, hidup selaras dengan risiko bencana, resiliensi komunitas]

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
    Divisions: Pasca Sarjana
    Pasca Sarjana > Doktor
    Depositing User: Fransiska Meilani f
    Date Deposited: 19 Apr 2017 10:10
    Last Modified: 19 Apr 2017 10:10
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/33604

    Actions (login required)

    View Item