PRIMBON JAWA (KLASIFIKASI, MAKNA, DAN KEARIFAN LOKAL)

Hartono, Hartono (2017) PRIMBON JAWA (KLASIFIKASI, MAKNA, DAN KEARIFAN LOKAL). PhD thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (76Kb)

    Abstract

    Disertasi ini merupakan kajian deskriptif kualitatif mengenai primbon Jawa. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk: (1) mengklasifikasikan primbon Jawa; (2) menganalisis makna primbon Jawa, dan (3) menemukan kearifan lokal dalam primbon Jawa. Cara yang dilakukan untuk sampai pada tujuan tersebut, yaitu: dengan menetapkan sumber data penelitian berupa data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa dokumen kitab primbon Jawa dan data lisan berupa hasil wawancara. Hasil penelitian ini adalah: (1) Primbon yang diklasifikasikan dalam penelitian adalah primbon perkawinan, mendirikan rumah, dan primbon usaha yang meliputi 16 petung, kemudian dirinci lagi menjadi 57 jenis petung; (2) Makna yang terkandung dalam petung primbon Jawa adalah sebagian besar berupa makna konotatif atau makna kias. Bahasa yang digunakan dalam primbon adalah bahasa yang cenderung arkais (kawi). Bahasa itu tersusun dalam kalimat yang indah, berirama supaya mudah diingat. Kalimat indah itu berisikan leksikon arkais. Leksikon arkais tersebut dengan sendirinya dibantu oleh afiks arkais. Dalam primbon Jawa yang penting dicatat adalah perhitungan tentang watak hari-hari. Setiap hari, baik hari dengan sistem 7 hari (saptawara) ataupun dengan sistem 5 hari pasaran (pancawara) memiliki wataknya sendiri-sendiri. Di samping hari, yang mempunyai watak adalah keris atau wesi aji, membuat alat rumah tangga, orang meninggal, bercocok tanam, dan lain-lain; (3) Orang Jawa percaya bahwa ada kekuasaan Yang Maha Kuasa di luar kekuasaan dirinya. Kekuasaan ini menguasai nasib hidup orang. Nasib ini ditentukan oleh hari lahir, hari melangsungkan pernikahan, hari pada waktu akan mendirikan rumah, atau hari-hari pada waktu mengawali suatu kegiatan sehari-hari. Nasib baik atau buruk dicatat dalam primbon. Pada waktu dulu yang mencatat hal itu adalah orang-orang tua yang selalu memperhatikan perhitungan saat-saat kejadian dan akibatnya. Hal itu sering dinamakan dengan “Ilmu Titen”. Ilmu titen ini nantinya akan membangun sebuah sistem kognisi yang menghasilkan beberapa kearifan lokal yang sarat dengan nasihat bijak untuk generasi mendatang. Kearifan lokal yang ditemukan dalam primbon Jawa diuraikan berdasarkan keperluannya, yaitu: (1) petung salaki rabi ’perjodohan’, (2) petung gawe omah ’membuat rumah’, (3) petung bayi lair ’kelahiran bayi’, (4) petung lelungan ’bepergian’, (5) petung sa’at agung ’saat agung’, (6) petung boyongan ’pindah rumah’, (7) petung pamilihing desa kanggo gawe omah ’pemilihan desa untuk membuat rumah’, (8) petung sa’at dina lan pasaran ’saat hari dan pasaran’, (9) petung wataking wesi aji ’sifat besi bertuah’ atau ’keris’, (10) petung impen ’mimpi’, (11) petung kalamudheng ’kalamudheng’, (12) petung kelangan ’kehilangan’, (13) petung tuku kewan ’membeli hewan ternak’, (14) petung nenandur ’bercocok tanam’, (15) petung udan ’hujan’, dan (16) petung lelarane manungsa ’penyebab sakit manusia’. Hasil wawancara dengan informan ditemukan kearifan lokal yang berhubungan dengan: (17) menentukan pasangan hidup; (18) keturunan; dan (19) mistik. [Kata Kunci: primbon Jawa, makna petung, kearifan local]

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: D History General and Old World > D History (General)
    P Language and Literature > PI Oriental languages and literatures
    Divisions: Pasca Sarjana
    Pasca Sarjana > Doktor
    Depositing User: Fransiska Meilani f
    Date Deposited: 18 Apr 2017 16:43
    Last Modified: 18 Apr 2017 16:43
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/33588

    Actions (login required)

    View Item