KESANTUNAN BERBAHASA K.H AHMAD DAHLAN DALAM NOVEL SANG PENCERAH

WINARNI, ISMU (2017) KESANTUNAN BERBAHASA K.H AHMAD DAHLAN DALAM NOVEL SANG PENCERAH. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (38Kb)

    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan kesantunan berbahasa dan 2) mendeskripsikan penerapan prinsip kesantunan berbahasa K.H. Ahmad Dahlan dalam novel Sang Pencerah. Penelitian ini berjenis deskriptif dan berpendekatan kualitatif dengan rancangn sosiopragmatik. Data penelitian ini ialah tuturan santun K.H. Ahmad Dahlan. Sumber datanya ialah novel Sang Pencerah karya Akmal Nasary Basral. Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik dokumentasi melalui empat tahap, yaitu pemahaman sumber data, pemisahan antarsatuan percakapan, pengidentifikasian satuan percakapan yang mengandung kesantunan berbahasa, pengelompokan satuan percakapan sesuai dengan kebutuhan analisis data. Prosedur analisis data dilakukan melalui empat tahap kegiatan, yaitu pengecekan data yang terkumpul, pereduksian data, penyusunan data, dan interpretasi data. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Bentuk tuturan yang merepresentasikan kesantunan berbahasa direalisasikan dalam sepuluh kategori ragam tindak tutur yaitu, tuturan berpagar, tuturan performatif lesap, tuturan performatif yang diperluas, tuturan oratio obliqua, tuturan hibrida, tuturan bereferensi dan beratribut, tuturan berdeiksis, tuturan berstruktur pilihan, tuturan berilokusi bersyarat ,dan tuturan bernegasi. Berdasarkan analisis data yang terkait dengan penerapan prinsip kesantunan berbahasa dapat direalisasikan ke dalam enam maksim kesantunan berbahasa sebagai berikut: Maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan, maksim kesepatan, dan maksim simpati. Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bhwa dari kesepuluh kategori bentuk tuturan santun diketahui yang terbanyak ialah yang berkategori tuturan hibrida. Tuturan tersebut mempersyaratkan kehadiran minimal dua konstruksi kalimat yang ciri-ciri gramatikalnya berbeda. Sedangkan bentuk tuturan bereferensi dan beratribut merupakan tuturan santun yang paling sedikit ditemukan. Berkaitan dengan penerapan prinsip kesantunan berbahasa, di antara keenam maksim atau prinsip kerjasama, maksim kesepakatan yang paling banyak digunakan. Sedangkan maksim yang paling rendah penggunaanya ialah maksim kedermawanan. Hal itu menunjukkan bahwa, K.H. Ahmad Dahlan (penutur) berusaha menjaga muka petutur sehingga dapat menghindari konflik dan dialog dapat berjalan dengan lancar. Di samping itu, penutur berusaha membangun kedekatan dan keakraban dengan petutur. Penutur menyadari adanya perbedaan status, kedudukan, dan kekuasaan yang dimiliki setiap interaktan. Dengan demikian, keseimbangan dan keharmonisan dalam berinteraksi tetap terjaga.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    P Language and Literature > P Philology. Linguistics
    P Language and Literature > PA Classical philology
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Pendidikan Bahasa Indonesia - S2
    Depositing User: faizah sarah yasarah
    Date Deposited: 24 Mar 2017 22:31
    Last Modified: 24 Mar 2017 22:31
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/32343

    Actions (login required)

    View Item