SUATMADJI:FENOMENA PROSES KREATIF ERA TAHUN 70,80

Rosita, Chori (2017) SUATMADJI:FENOMENA PROSES KREATIF ERA TAHUN 70,80. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (395Kb)

    Abstract

    Bagi Suatmadji, melukis adalah menampakkan jiwa, oleh sebab itu melukis harus bebas dari kekangan-kekangan yang berwujud perspektif, anatomi, teori-teori juga kekangan moral, politik dan tradisi. Lukisanya kontemporer, berisi pesan dan penuh makna secara tersirat. Semua gaya dan aliran ada dalam lukisan-lukisannya. Dan ia tidak pernah takut dicemooh karena kreativitasnya sering disebut sebagai sesuatu yang aneh bagi orang lain karena cara melukisnya tidak konvensional. Tidak sesuai dengan yang mereka anggap sebagai standart umum. Suatmadji adalah seniman yang gigih memperjuangkan jiwa kesenimananya. Tidak pernah merasa takut menjadi berbeda dan tidak takut untuk mengawali sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh orang lain. Suatmadji konsisten melukis dengan teknik mixed media, memadukan berbagai bahan yang sengaja ia bentuk maupun benda-benda remeh yang jarang dimanfaatkan oleh orang lain bahkan biasanya dibuang begitu saja. Di tangan Suatmadji, benda-benda tersebut menjadi sebuah material yang penting dalam karya-karyanya yang akan tersusun di atas media lukis beserta goresan garis-garis dengan warna-warna yang menyolok, kontras tetapi harmoni. Berbagai penghargaan tingkat Nasional maupun Internasional pernah diperolehnya. Suatmadji sangat mencintai seni tradisi terutama wayang. Ia aplikasikan wayang ke dalam lukisan-lukisannya sebagai padu padan yang harmoni, dalam karyanya wayang mempunyai makna baru, tanpa membawa makna wayang tersebut secara substansional. Galeri Nasional Indonesia menganugerahi Suatmadji gelar maestro seni rupa dan dua buah karyanya yaitu “wayang topeng” dan “Ki Narto Sabdo” dikoleksi oleh Galeri Nasional Indonesia melalui proses akuisisi mewakili angkatan 1970. Suatmadji tidak pernah membatasi penggunaan alat dan bahan dalam berkarya, bebas dalam gaya, aliran maupun teknik. Ia tidak suka stereotip, kemajuan teknologi dimanfaatkannya dalam berkarya seni rupa mixed media. Sebagai pelukis dan pendidik, Suatmadji merasa bertanggungjawab akan tercapainya tujuan untuk menumbuhkan kreativitas para siswa dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Bakat bisa diasah dan ditumbuhkan, melukispun bisa dipelajari, tidak mahir melukis realis bisa melukis abstrak, bisa melukis poster, bisa futurism, ataupun kolase. Semua kreativitas harus tersalurkan karena melukis tidak harus konvensional menggunakan kanvas, cat air, cat minyak ataupun pensil berwarna. Media untuk melukis adalah tak terbatas, juga gaya, aliran, alat maupun tempat. Yang diutamakan adalah setiap orang mempunyai kesempatan untuk berkreativitas tanpa terkendala karena merasa terbatas, tidak bebas, merasa tidak bisa melukis dan pada akhirnya diam saja tanpa melakukan apa-apa. Bukankah melukis tidak harus realis dan konvensional karena tidak ada batasan untuk kreativitas.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: N Fine Arts > N Visual arts (General) For photography, see TR
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa
    Pasca Sarjana > Magister
    Depositing User: Nanda Rahma Ananta
    Date Deposited: 23 Mar 2017 21:04
    Last Modified: 23 Mar 2017 21:04
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/32195

    Actions (login required)

    View Item