BAHASA DAN IDENTITAS KULTURAL (Studi Kasus Kalangan Warga Masyarakat Tionghoa Yang Tergabung Dalam Paguyuban Perkumpulan Masyarakat Surakarta)

S, LUKAS MASERONA (2017) BAHASA DAN IDENTITAS KULTURAL (Studi Kasus Kalangan Warga Masyarakat Tionghoa Yang Tergabung Dalam Paguyuban Perkumpulan Masyarakat Surakarta). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (281Kb)

    Abstract

    Bahasa adalah manifestasi identitas. Kajian ini bertujuan melihat bagaimana identitas kultural komunitas Tionghoa di Perkumpulan Masyarakat Surakarta melalui manifestasi bahasa yang digunakan oleh komunitas tersebut. Latar belakang diperlukannya riset ini adalah semakin dibutuhkan potret identitas mengenai liyan (the other)yang dilakukan secara ilmiah dan tidak semata memperkuat stereotip peyoratif mengenai mereka yang liyan, dalam hal ini Komunitas Tionghoa PMS. Manfaat penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman yang ilmiah mengenai identitas Komunitas Tionghoa PMS sehingga tidak terjebak pada stereotip yang ada selama ini. Perspektif teoretis yang digunakan adalah perspektif komunikasi dari Fiske (2012), sedang konsep identitas kultural yang dipakai untuk mendeskripsikan data adalah konsep identitas kultural dari Hall (1990). Karena itu Kerangka pemikiran penelitian ini menggunakan model komunikasi Fiske, lengkap dengan konsep-konsep komunikator/kan, pesan, referensi dan makna. Sedangkan konsep-konsep identitas kultural, referensi, memori, dan narasi dari Hall digunakan sebagai lensa teoretisnya dengan tetap mengacu pada model Fiske. Metode studi kasus digunakan untuk mendapatkan data dan jawaban yang relevan terhadap rumusan masalah. Studi kasus yang digunakan adalah single case, dengan metode sampling convenience, data yang diambil adalah wawancara dan studi dokumen, dan analisa data menggunakan explanation building yang kesemuanya mengacu pada karangan Yin (2009). Hasil menunjukkan bahwa dalam berbahasa tidak ditemui pemakaian Bahasa Barat, maupun Mandarin, Bahasa Indonesia mendominasi dalam konteks formal, sedangkan Bahasa Jawa mendominasi situasi informal. Hal ini berlawanan dengan telaah pustaka mengenai akibat globalisasi yang mengkhawatirkan akan banyak Bahasa Barat yang menggerus pemakaian bahasa lokal. Begitu pula dengan pustaka mengenai re-sinicization yang seiring dengan kebangkitan Negara Tiongkok akan menimbulkan gairah untuk mempelajari kembali budaya leluhur di kalangan Tionghoa belum terlihat jelas dalam penelitian ini. Kesimpulan dari kajian ini: dari manifestasi bahasa yang digunakan maka identitas kultural komunitas Tionghoa PMS adalah Indonesia-Jawa. Penyebab utama identitas IndonesiaJawa Komunitas Tionghoa PMS adalah narasi yang disediakan (dipaksakan) oleh rezim Orde Baru mengenai asimilasi beserta larangan-larangan menggunakan dan mempelajari Bahasa dan simbol-simbol Tionghoa serta memori kolektif Komunitas Tionghoa PMS mengenai peristiwa 1965 dan 1998 yang menimbulkan trauma mengenai rentannya posisi komunitas Tionghoa sebagai middlemen minority hingga kini. Karena itu asimilasi/pembauran menjadi pilihan identitas untuk mencapai tujuan dasar semua makhluk hidup yaitu survival. Identitas Kultural, Komunikasi, Bahasa, Perkumpulan Masyarakat Surakarta, Studi Kasus

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Pasca Sarjana
    Pasca Sarjana > Magister
    Depositing User: Fransiska Meilani f
    Date Deposited: 15 Mar 2017 13:40
    Last Modified: 15 Mar 2017 13:40
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/31879

    Actions (login required)

    View Item