KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SINGGAH ANAK JALANAN DI SURAKARTA Dengan Pendekatan Arsitektur Perilaku Studi Kasus Kecamatan Banjarsari

Rachman, Selviana (2010) KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SINGGAH ANAK JALANAN DI SURAKARTA Dengan Pendekatan Arsitektur Perilaku Studi Kasus Kecamatan Banjarsari. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (468Kb)

    Abstract

    1. Pengertian dan Tumbuh Kembang Anak Anak adalah anugerah tersendiri bagi setiap orang tua. Sebagai seorang anak ada tahap-tahap tumbuh dan berkembang yang seharusnya mereka terima. Menurut seorang psikolog yang bernama Elizabeth Hurlock “ Pertumbuhan adalah terjadinya pertambahan dalam ukuran, sedangkan berkembang adalah suatu seri perubahan yang progresif dalam pola yang bertautan dan berurutan. Perkembangan fisik secara langsung maupun tidak langsung akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak.” Anak-anak menurut Hurlock memiliki beberapa fase pertumbuhan dan perkembangan, antara lain : a. Usia 0-2 Tahun ( Periode Vital ), Masa bayi disebut juga masa vital karena kondisi fisik dan mental bayi merupakan pondasi bagi perkembangan dan pertumbuhan. b. Usia 1 -5 Tahun ( Periode estatis ), Pada periode ini hubungan sosial pada masa anak-anak terlihat pada usaha anak yang mulai belajar mengadakan hubungan diri secara emosional dengan orang lain. c. Usia 6-12 tahun ( periode intelektual ), pada fase ini anak-anak mengalami perkembangan yang sangat pesat sesuai dengan apa yang didapatkannya. d. Usia 13 – 19 Tahun ( Periode pueral / masa remaja ), fase ini merupakan fase penghubung antara masa peralihan, masa anak-anak dengan masa remaja. Fase-fase pada tumbuh kembang anak dapat menciptakan karakteristik anak yang sesungguhnya. Karakteristik inilah yang akan membuat seorang anak akan menjadi apa nantinya. Walaupun masih anak-anak dan masih tergantung pada orang tua anak-anak memiliki hak-hak dan kewajiban sendirisendiri sebagai manusia. Namun dikarenakan keadaan yang tidak memadai, maka ada anak-anak yang tidak mendapatkan hak-haknya tetapi harus melakukan kewajiban yang bukan milikinya. 2. Anak Jalanan dan Problematikanya Salah satu anak-anak yang kurang beruntung itu adalah anak-anak jalanan yang terpaksa bekerja di jalanan atau melarikan diri ke jalanan atas kemiskinan yang dialami keluarganya (Departemen Sosial RI tahun 2002). Mereka terpaksa bekerja atau bahkan dipaksa bekerja demi membantu kehidupan keluarganya. Bahkan, tak jarang dari mereka yang menjadi tulang punggung keluarga. Usia anak yang tergolong masih kecil terkadang justru dimanfaatkan untuk mencari penghidupan atau mencari uang di jalan, padahal seperti yang kita ketahui bahwa mereka (anak-anak Jalanan) seharusnya berada disekolah tetapi ternyata mereka berada di jalanan untuk mencari uang guna membayar biaya sekolah mereka namun terpaksa putus sekolah dan terpaksa tidak mendapatkan pendidikan yang seharusnya mereka terima. Adanya peraturan perundangan yang menyebutkan secara jelas mengenai hak-hak individu dah hak-hak anak, sepearti pasal 34 UUD 1945 (Pemeliharaan fakir miskin dan anak terlantar diatur oleh Negara), Pasal 31 UUD 1945 (tiap warga Negara berhak medapat pengajaran), Konvensi Hak anak (pelarangan eksploitasi anak), Konvensi ILO No.138 tahun 1973 ps.2 ayat 1 mengenai usia minimum anak diperbolehkan bekerja adalah 16 tahun, UU No.4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak serta peraturan perundang-undangan lainnya semakin meyakinkan untuk menciptakan sebuah wadah yang sesuai bagi anak, dalam hal ini anak-anak jalanan dimana mereka kurang atau bahkan tidak terpenuhi haknya karena harus bekerja di jalanan. Penciptaan wadah yang mampu memberikan perlindungan, menyediakan sarana pendidikan, pembinaan, pengembangan diri serta menawarkan diri serta menawarkan fasilitas yang membuat hak-hak mereka sebagai anak terpenuhi akan sangat membantu anakanak jalanan menuju arah kehidupan yang lebih baik lagi dan tertata, baik secara psikis maupun fisik. 3. Solusi Rumah Singgah Dalam Pandangan Arsitektur Arsitektur saat ini semakin berkembang dan sangat perlu diketahui dan disadari bahwa dunia arsitektur tidak bisa dilepaskan dari lingkungan dan masyarakat yang mengelilingi. Dalam mewujudkan suatu lingkungan binaan, arsitektur selalu menghubungkan antara manusia, masyarakat dan alam sekitarnya serta memenuhi kebutuhan manusia dari berbagai aspek antara lain aspek sosial, ekonomi, psikologis dan kebudayaan manusia itu sendiri. Dilihat dari keberadaannya, arsitektur mempunyai dua fungsi yaitu secara fisik dan perilaku. Secara fisik, fungsi arsitektur adalah mewadahi semua kebutuhan manusia yang terbentuk berdasarkan kebutuhannya akan ruang. Sedangkan secara perilaku, arsitektur berperan dalam terbentuknya program ruang yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan perilaku anak jalanan. Dalam kaitannya dengan kajian ini, arsitektur digunakan sebagai salah satu usaha yang dapat mewadahi dan mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan anak jalanan agar mereka dapat hidup yang anam, sehat, nyaman dan berkelanjutan sesuai karakter anak jalanan supaya mereka lebih dihargai oleh masyarakat luas. Salah satu wujud karya arsitektur yang dirasa sesuai sebagai usaha penanganan anak jalanan ini adalah pengadaan rumah singgah bagi anak jalanan. Munculnya rumah singgah anak jalanan merupakan “aksi kepedulian” dari segelintir orang yang selama ini melihat dan merasakan ketidakadilan dikalangan anak jalanan. Tapi sejauh ini keinginan keras untuk mengentaskan mereka dari jalanan dan mendapatkan hak-hak mereka justru belum direspon secara baik. Penolakan, pertentangan, tidak ada dukungan malah komentar yang memerahkan telinga dari para pakar justru diterima oleh beberapa rumah singgah yang sudah ada saat ini. Menurut temuan di lapangan, banyak rumah singgah yang tidak dimanfaatkan secara optimal oleh anak jalanan karena anak jalanan tidak tertarik dan tidak merasa membutuhkannya. Ini dikarenakan pengelola rumah singgah kurang kreaktif dan inovatif dalam menciptakan kegiatan sehingga anak-anak kurang tertarik bergabung dalam rumah singgah. Anak-anak jalanan cenderung menjadikan rumah singgah hanya sebagai tempat tinggal sementara, tanpa ada rasa memiliki dan tanggung jawab untuk mengikuti program-program yang ditawarkan sehingga mereka tidak termotivasi untuk memperbaiki dirinya sendiri. Kegagalan yang terjadi pada beberapa rumah singgah yang sudah ada ditangkap dan ditampung oleh beberapa kalangan yang kemudian kereka membuat metode dan wadah baru untuk menangani anak jalanan tersebut. Beberapa wadah baru yang dimunculkan yakni sanggar seni, sanggar belajar, dan pesantren kilat anak jalanan dirasa mampu dan dianggap lebih efektif karena bisa menampung masalah-masalah yang ada. Metode pendekatan personal dan kegiatan yang lebih menarik dirasa dapat hidup lebih baik. Apalagi jika semua fasilitas tersebut digabungkan pada satu wadah yang dikelola secara baik, maka wadah yang terbentuk akan lebih efektif dan optimal fungsinya. 4. Gambaran Surakarta sebagai Setting Rumah Singgah Ditengah dilema bagaimana konsep penanganan yang anak jalanan yang dirasa sesuai dan tepat, beberapa rumah singgah yang ada saat ini justru tidak berfungsi lagi. Padahal jumlah anak jalanan di Surakarta semakin meningkat. Pendataan terakhir yang berhasil dilakukan menyatakan bahwa terdapat sedikitnya ada 543 anak jalanan yang beroperasi di 5 kecamatan di Surakarta. Semakin banyak jumlah anak jalanan di Surakata memicu semakin bertambahnya resiko kekerasaan yang dialami mereka di jalan. Kasus kekerasan pada anak yang terjadi di Surakarta telah mencapai titik yang memprihatinkan (dra. Ismi Dwi Astuti,Msi ). Kasus kekerasaan tersebut berkaitan dengan masalah pelacuran anak, pelanggaran hukum dan perlakuan yang semena-mena terhadap anak khususnya anak jalanan. Kasus ini bukan merupakan kasus kekerasan yang sebatas kriminalitas biasa atau medis. Namun lebih dari itu kasus yang terjadi menyangkut banyak aspek antara lain aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Penanganan terhadap kasus kekerasan pada anak jalanan ini sebenarnya telah mendapat sorotan dari pihak Pemkot. Dalam hal ini Pemkot telah menyediakan anggaran untuk berusaha mengatasi permasalahan tersebut dimana anggaran ini digunakan dalam mengatasi masalah yang terjadi. Hal ini disebabkan kareana cara tersebut dirasa tidak efektif dalam menyentuh permasalahan utamanya. Dalam prakteknya dana tersebut hanya digunakan dalan operasi penertiban dan tidak ada usaha penanganan pasca penertiban tersebut. Menindaklanjuti dari sikap yang diambil oleh pemkot mengenai usaha mengatasi masalah kekerasan pada anak jalanan ini diperlukan usaha lebih nyata daripada sekedar razia dan penertiban. Dimana diperlukan suatu tindakan penanganan anak jalanan setelah dilakukan razia. Langkah yang dirasa sesuai untuk mendukung usaha tersebut adalah dengan menghadirkan rumah singgah bagi anak jalanan yang difungsikan tidak hanya setelah dilakukan razia tetapi juga bisa dilakukan proses pendataan sebelum masuk ke rumah singgah. Tujuan dari disediakannya fasilitas rumah singgah ini adalah diharapkan anak-anak jalanan yang tertampung di dalamnya mendapatkan tempat perlindungan, pendidikan dan pelatihan yang mampu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi mereka yang tidak mereka dapatkan sebelumnya dijalanan. Selain itu fasilitas ini juga bertujuan untuk menyelamatkan masa depan anak-anak jalanan tersebut sehingga hidup merka tidak habiskan di jalanan dimana tidak ada jaminan untuk kearah hidup yang lebih baik. Dengan adanya rumah singgah ini nantinya diharapkan mereka mampu meningkatnya keterampilan dan menambah kemampuan serta kemahiran mereka agar dapat berguna nantinya jika mereka kembali hidup di dunia luar, karena nantinya pada fasilitas ini akan dilengkapi dengan berbagai pelatihan yang dibutuhkan untuk mengakomodasi kebutuhan dan pelatihan bagi anak jalanan. Tujuan lain dari disediakannya fasilitas rumah singgah ini adalah sebagai sarana penertiban anak jalanan yang semakin banyak jumlahnya saat ini, sehingga dapat dihindari adanya eksploitasi anak-anak jalanan dimana banyak diantara mereka yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadinya. 5. Kondisi Kampung Tempurejo, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. Kampung tempurejo sendiri termasuk salah satu kampung yang cukup luas dalam cakupan kelurahan Sumber kecamatan Banjarsari Surakarta. Kampung Tempurejo memiliki luas lahan sekitar kurang lebih 41.950 m² dengan 6 (enam) RT yang ada di dalamnya. Dari seluas lahan pada Kampung Tempurejo terdapat ±445 Kepala Keluarga dalam satu kampung. Dan tiap-tiap keluarga memiliki rata-rata 4 orang anggota keluarga, walaupun juga banyak yang memiliki jumlah anggota keluarga lebih dari itu. Dan rata-rata keluaga memiliki tempat tinggal dengan luas yang berkisar antara 72m² - 124 m². Dan maksimal bangunan pada kampung ini terdiri dari tiga lantai, tetapi sebagian besar bangunan di kampung ini memiliki ketinggian dua lantai. Masalah pendidikan di kampung Termpurejo cukup baik, indikatornya adalah pada kampung ini terdapat sebuah Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 4 yang membuktikan bahwa lokasi kampung ini merupakan lokasi yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar. Sedangkan untuk mata pencaharian sebagian besar penduduk Kampung Tempurejo merupakan pedagang dan pegawai, keadaan ini menjelaskan bahwa kampung ini memiliki kondisi ekonomi yang sangat baik walaupun tidak berlebih. Bisa dibilang kondisi ekonomi pada lingkungan ini menengah kebawah. Yang sesuai untuk anak jalanan agar mereka tidak merasa berbeda dengan masyarakat yang telah ada. 6. Keadaaan rumah singgah yang telah ada Setelah melakukan survei langsung keadaan dari beberapa rumah singgah yang ada di dua kota yakni di kota Jakarta dan Surakarta, terdapat perbedaan persepsi yang mencolok mengenai rumah singgah. Jika di Jakarta rumah singgah hanya diperuntukan bagi anak jalanan yang berguna sebagai wadah pembinaan, pelatihan dan pendidikan anak jalanan, sedangkan di Surakarta rumah singgah yakni rumah/tempat yang dibuat oleh pemerintah sebagai tempal tinggal bagi seseorang yang berasal dari luar kota Surakarta dan ingin menentap sementara. Adapun beberapa rumah singgah yang diperuntukkan untuk anak jalanan khususnya, pada beberapa tahun belakangan ini kurang beroperasi sebagaimana seharusnya. Selain itu rumah singgah di kota Surakarta disewakan berbeda dengan yang ada di Jakarta yang diciptakan cuma-cuma untuk anak jalanan. Adapun rumah singgah anak jalanan yanng dapat digunakan untuk preseden antara lain : a) Rumah Singgah Kampung Jembatan dan DILTS Rumah singgah yang dikunjungi di Jakarta yakni rumah singgah DILTS dan Kampung Jembatan. Di kedua rumah singgah ini memiliki kegiatan yang hampir sama pada setiap rumah singgah yang berfungsi utama untuk membina. Namun terdapat kekurangan arsitektur yang terlihat dari keterbatasannya ruangan sbagai wadah dari kegiatan yang dilakukan. Kedua rumah singgah ini hanya berupa rumah tinggal biasa yang disewa oleh LSM tersebut untuk kegiatan belajar, bermain, bersosialisasi dan berkarya. Karena keterbatasan ruang ini maka kegiatan dilakukan dalam 1 ruang yang menimbulkan ketidaknyamanan anak-anak jalanan untuk menerima pelajaran yang diajarkan. Selain itu walaupun mereka berkarya mereka masih sulit menemukan tempat untuk menjual karya mereka ke masyarakat umum, kalaupun ada letaknya jauh dan sedikit merugikan anak jalanan karena sistem bagi hasil dari penjualan tersebut. Rumah singgah kampung jembatan dan DILTS memiliki konsep pembinaan yang sama dikarenakan dua rumah singgah ini dikelola oleh satu lembaga masyarakat yang sama yaitu DILTS foundation. Adapun konsep pengajaran dan pengembangan pendidikan serta bakat anak jalanan di rumah singgah ini yakni dengan memberikan pelajaran dan pendidikkan yang dijadwalkan setiap minggunya. Sehingga sebagian anak-anak jalanan yang tidak tinggal dirumah singgah ini sudah mengetahui waktu berkumpul untuk belajar. Konsep pembelajaran ini sayangnya hanya dilakukan 1 kali dalam seminggu dalam waktu 2 jam. Hal ini sangat disayangkan karena pendidikan anak-anak jalanan menjadi kurang mendapatkan ilmu. Sedangkan untuk pembinaan anak jalanan kebanyakan dari anggota DILTS foundation melakukan penyuluhan ditempat-tempat anak jalanan beroperasi seperti di perempatan jalanan, pinggir jalanan, pasar, terminal, dll untuk mengajak mereka belajar bersama pada waktu yang sudah ditentukan. Untuk bangunannya sangat disayangkan karena bangunan ini hanya berupa rumah tinggal yang ruangannya digunakan multifungsi, yakni satu ruangan dapat digunakan sebagai beberapa ruang. Seperti ruang tamu yang digunakan juga sebagai ruang makan, belajar dan tidur. Untuk tidur tetap dipisahkan antara anak jalanan laki-laki dan perempuan. b) Rumah Singgah The Bamboe’S Rumah singgah the bamboe’s ini terletak di jalan Stella III no.88, Medan, Sumatera Utara. Lokasi rumah singgah ini sangat amat mudah dicapai dari titik lokasi anak jalanan Medan. Karena bangunan ini tidak terlalu jauh dari pasar umum Medan, Terminal antar kota dan pusat kota. Rumah singgah ini awalnya merupakan kantor KKSP (Yayasan Kelompok Kerja Sosial Perkotaan) yang dipimpin oleh Bapak Ahmad Taufan Damanik.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
    Divisions: Fakultas Teknik
    Fakultas Teknik > Arsitektur
    Depositing User: Ardhi Permana Lukas
    Date Deposited: 13 Jul 2013 17:45
    Last Modified: 13 Jul 2013 19:42
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3140

    Actions (login required)

    View Item