MEDIA DAN PENANAMAN NILAI-NILAI SOSIAL BUDAYA PONORAGAN (Studi Kasus Penanaman Nilai-Nilai Sosial Tentang Karakter Warok Di Acara Dangdut Ponoragan Di Radio Duta Nusantara Ponorogo)

PURWANTI, ELI (2017) MEDIA DAN PENANAMAN NILAI-NILAI SOSIAL BUDAYA PONORAGAN (Studi Kasus Penanaman Nilai-Nilai Sosial Tentang Karakter Warok Di Acara Dangdut Ponoragan Di Radio Duta Nusantara Ponorogo). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (605Kb)

    Abstract

    ABSTRAK Eli Purwati - S221008005 – 2016 - Media Dan Penanaman Nilai-Nilai Sosial Budaya Ponoragan (Studi Kasus Penanaman Nilai-Nilai Sosial Tentang Karakter Warok Di Acara Dangdut Ponoragan Di Radio Duta Nusantara Ponorogo). Komisi Pembimbing I : Dra. Prahastiwi Utari, M.Si,Ph.D. Komisi Pembimbing II : Dr. Mahendra Wijaya, M.S, Tesis Program Studi Ilmu Komunikasi, Program Pascasarjana. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Reog merupakan budaya lokal yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal. Menurut Astra, kearifan lokal (local genius) pertama kali digunakan oleh Wales dalam tulisannya berjudul “ Culture Change in Greater India” yang kemudian diperluas lagi dalam bukunya berjudul The Making of Greater India: a Study in Southeast Asian Culture. Kearifan lokal atau local wisdom menurut pemahaman lain sering dikacaukan dengan kebudayaan lokal (local culture). Di samping itu istilah lain yang juga sering timbul adalah pengetahuan lokal (local knowledge). (Ratna 2011, 91). Didalam pagelaran Reog ada peran tokoh Warok atau yang disajikan dan di gambarkan dengan wajah seram. Bagi masyarakat luas Ponorogo, warok merupakan gelar yang disandang masyarakat pada seseorang berdasarkan kriteria tertentu. Kriteria utamanya bersifat fisik, yakni kesaktian atau kekebalan. Peran media dalam mempengaruhi keberlangsungan sebuah budaya sangatlah dominan. Kekuatan media mampu meng infiltrasi sebuah budaya yang ada bahkan membentuk karakter tersendiri. Media televisi, suratkabar bahkan radio punya konsumen mereka masing. Seperti yang terjadi di Ponorogo, kota yang terkenal dengan budaya reognya tersebut karakter budayanya juga di pengaruhi oleh media. Media yang paling dominan mempengaruhi adalah media radio. Media radio Duta Nusantara mengkonstruksikan atau menginformasikan karakter warok berbeda dengan karakter warok yang ada. Dalam membandingkan relitas social dan penggemar kelas berat dan kelas ringan, dominasi yang muncul adalah bahwa program siaran tersebut telah melahirkan komunitas media social yang memahami karakter warok berdasarkan informasi dari penyiar. Maka dari itu menjadi sangat penting untuk mengembalikan dan meluruskan citra warok yag tergeser oleh bigkai media. Penelitian ini menggunakan studi kasus. Dengan pendekatan teori kultivasi menarik untuk dikaji bagaimana media radio telah mengkultivasi keyakinan tertentu mengenai kenyataan yang dianggap sesuatu yang umum oleh konsumen komunikasi massa. Asumsi analisis kultivasi, radio secara esensi dan fundamental, berbeda dengan bentuk – bentuk media massa lainnya yaitu radio mudah diakses dan tersedia bagi siapa saja, radio telah membentuk cara berpikir dan membuat kaitan ke masyarakat Proses Kultivasi pada Analisis sistem pesan, terdiri atas analisis isi mendetail dari pemrogaman radio untuk menunjukkan tema, nilai dan penggambaran tentang tokoh warok yang paling sering berulang dan konsisten dalam program siaran dangdut Ponoragan tersebut. Realitas objektif warok vi Karakter Warok dalam perspektif Masyarakat Ponorogo adalah sosok yang sangat sederhana, santun, andap asor, elegan, tegas serta memiliki kemampuan olah kanuragan maupun olah batin yang sangat tinggi. Nilai Warok yang ditampilkan adalah nilai-nilai Kejujuran, Kesederhanaan, Kerendahan Hati dan Ketegasan dalam berprinsip. Perilaku Warok bukanlah sosok yang Adigang, Adigung dan Adiguno meskipun memiliki kemampuan keilmuan yang tinggi baik ilmu kanuragan maupun ilmu kebatinan tapi Perilaku Warok justru mencerminkan Falsafah Padi, semakin berilmu sosok seorang Warok adalah semakin tawadu. Bahasa warok Karakter warok yang dianggapa sesepuh dialeg atau penggunaan bahasa yang keras itu sebenarnya tidak ada. Dan dialeg yang dikembangkan oleh media merupakan stressing suara berharap bias menimbulkan aura kewibawaan warok. Realitas Objektif media. Acara ini sebagai upaya untuk mencirikan kehidupan atau perilaku warok, dalam bentuk siaran yang dilambangkan dengan gaya siaran. warok hanya sebagai simbol , seperti apa kondisi warok yang sebenarnya kita tidak mengetahuinya. Namun paling tidak karakter warok dengan kekhasannya tersendiri seperti yang sering ditampilkan di pagelaran reog. Realitas Objektif pendengar, Persepsi Pendengar radio pada program radio dangdut ponoragan lebih cenderung mempersepsikan warok lebih terlihat pada watak yg keras kepala., Karakter Warok yang dikemas oleh media sangat bertolak belakang dengan kondisi sebenarnya. Sebagai salah satu contoh penggunaan logat Warok KATA KUNCI : NILAI-NILAI SOSIAL, PONORAGAN, DAN KARAKTER WAROK

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Pasca Sarjana
    Pasca Sarjana > Magister
    Depositing User: Fransiska Meilani f
    Date Deposited: 11 Jan 2017 13:51
    Last Modified: 11 Jan 2017 13:51
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/31282

    Actions (login required)

    View Item