Respon Siswa Dalam Memecahkan Masalah Matematika pada Materi Geometri Berdasarkan Taksonomi Solo Ditinjau dari Tingkat Metakognisi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Cepu

, SALISTIYANI (2017) Respon Siswa Dalam Memecahkan Masalah Matematika pada Materi Geometri Berdasarkan Taksonomi Solo Ditinjau dari Tingkat Metakognisi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Cepu. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (866Kb)

    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan respon siswa kelas X SMA Negeri 1 Cepu dalam memecahkan masalah matematika pada materi geometri berdasarkan taksonomi SOLO pada siswa dengan tingkat metakognisi tinggi, sedang, dan rendah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan subjek penelitian sembilan siswa kelas X SMA Negeri 1 Cepu, yang terdiri dari tiga siswa dengan metakognisi tinggi, tiga siswa dengan metakognisi sedang, dan tiga siswa dengan metakognisi rendah. Penentuan subjek penelitian menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tertulis dan wawancara. Validitas data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan triangulasi waktu. Teknik analisis data yang digunakan meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon siswa dalam melakukan penyelesaian berdasarkan taksonomi SOLO untuk siswa pada metakognisi tinggi meliputi: (1) Siswa dapat mengerjakan soal jenis unistructural dengan benar sesuai dengan indikator unistructural. Siswa melakukan penyelesaian dalam menentukan jarak dengan menggunakan satu aspek yaitu dengan mengkaitkan Teorema Phytagoras. (2) Siswa juga dapat menyelesaikan soal jenis multistru-ctural dengan menggunakan dua aspek yang dalam pengerjaannya menggunakan strategi menemukan jarak sesuai dengan definisi jarak dan menggunakan Teorema Phytagoras. (3) Siswa juga dapat mengerjakan soal jenis relational dengan benar yaitu mampu menggunakan beberapa aspek dan mengkaitkan aspek-aspek tersebut sehingga diperoleh jawaban yang relevan. Namun, (4) Siswa tidak dapat menyelesaikan soal jenis extended abstract, siswa tidak mampu membuat simpulan dan generalisasi dari data-data yang ada bahkan siswa tidak mampu memberikan penyelesaian yang benar. Dari respon yang telah diberikan dapat sehingga disimpulkan bahwa siswa pada metakognisi tinggi menduduki tingkatan relational. Respon siswa metakognisi sedang meliputi: (1) Siswa dapat menger-jakan soal jenis unistructural dengan benar sesuai dengan indikator unistructural. Siswa melakukan penyelesaian dalam menentukan jarak dengan menggunakan satu aspek yaitu menggunakan menggunakan Phytagoras. Namun, (2) Siswa tidak dapat menyelesaikan soal jenis multistructural dengan menggunakan lebih dari satu aspek, siswa hanya terbatas pada kemampuan menggunakan Teorema Phytagoras untuk menentukan jaraknya tetapi tidak paham terhadap konsep definisi jarak. (3) Siswa juga tidak dapat mengerjakan jenis soal relational dengan benar, pada siswa metakognisi sedang hanya mampu menggunakan satu aspek saja sehingga tidak dapat melakukan hubungan dimana dalam malakukan hubungan tersebut diperlukan lebih dari satu aspek sehingga pada subjek metakognisi sedang ini tidak dapat membuat simpulan yang relevan. (4) Siswa juga tidak dapat melakukan penyelesaian pada soal jenis extended abstract dikarenakan keterbatasan aspek-aspek yang dimilki dan subjek tidak dapat menentukan jarak pada soal extended abstract ini, karena selain melakukan hubungan aspek-aspek tersebut juga dibutuhkan pemikiran yang lebih abstrak dalam melakukan penyelesaian soal tersebut sehingga tidak mampu membuat simpulan dan generalisasi dari data-data yang ada sehingga subjek tidak mampu memberikan penyelesaian dengan benar. Berdasarkan respon yang diberikan dapat disimpulkan bahwa siswa pada metakognisi sedang masih menduduki tingkatan unistructural. Respon siswa metakognisi rendah meliputi: (1) siswa dapat menger-jakan soal jenis unistructural dengan benar sesuai dengan indikator unistructural. Siswa mampu melakukan penyelesaian dalam mencari jarak dengan menggunakan satu aspek yaitu menggunakan menggunakan Phytagoras namun pada tingkatan metakognisi rendah masih terdapat siswa yang tidak mampu menjawab soal jenis unistructural, hal ini dikarenakan siswa tidak mempunyai satu bekal aspek pun dalam melakukan penyelesaian. (2) Siswa tidak dapat menyelesaikan soal jenis multistructural dengan menggunakan lebih dari satu aspek, siswa hanya terbatas pada kemampuan menggunakan Teorema Phytagoras dalam menentukan jaraknya, namun tidak paham terhadap konsep definisi jarak. (3) Siswa juga tidak dapat mengerjakan jenis soal relational dengan benar, pada siswa tingkatan metakognisi rendah hanya mampu menggunakan satu aspek saja sehingga tidak dapat melakukan hubungan dimana dalam malakukan hubungan tersebut diperlukan lebih dari satu aspek sehingga tidak dapat diperoleh simpulan yang relevan. (4) Siswa juga tidak dapat melakukan penyelesaian pada soal jenis extended abstract dikarenakan keterbatasan aspek-aspek yang dimilki dan subjek tidak dapat menentukan jarak pada soal extended abstract ini, karena selain melakukan hubungan aspek-aspek tersebut juga dibutuhkan pemikiran yang lebih abstrak dalam melakukan penyelesaian soal tersebut sehingga tidak mampu membuat simpulan dan generalisasi dari data-data yang ada bahkan subjek tidak mampu memberikan penyelesaian dengan benar. Berdasarkan respon yang diberikan dapat disimpulkan bahwa siswa pada ketegori metakognisi rendah menduduki tingkatan prestructural dan unistructural.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    L Education > LB Theory and practice of education
    Divisions: Pasca Sarjana
    Pasca Sarjana > Magister > Pendidikan Matematika - S2
    Depositing User: Agista Zulfa Dini
    Date Deposited: 01 Jan 2017 19:28
    Last Modified: 01 Jan 2017 19:28
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/31111

    Actions (login required)

    View Item