ANALISIS CAMEL RATING SYSTEM SEBAGAI ALAT PREDIKSI KEBANGKRUTAN BANK

PATRIANA DEWI, DIAH (2006) ANALISIS CAMEL RATING SYSTEM SEBAGAI ALAT PREDIKSI KEBANGKRUTAN BANK. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (156Kb)

    Abstract

    Salah satu dampak dari krisis moneter yang melanda Indonesia di sekitar penghujung abad 20 ini adalah gagalnya sejumlah bank karena tidak layak lagi untuk meneruskan bisnisnya. Bank – bank dimaksud terpaksa dilikuidasi oleh Pemerintah dan otoritas perbankan, karena bank – bank itu sudah tidak mampu lagi mempertahankan going concern-nya. Dengan keputusan Menteri Keuangan, sebanyak 16 bank umum telah dicabut izinnya pada tanggal 1 November 1997. Menyusul kemudian pada tanggal 13 Maret 1999 sebanyak 38 bank lain dinyatakan tidak boleh lagi meneruskan kegiatannya. Ada 2 macam kegagalan, yaitu kegagalan ekonomi dan kegagalan keuangan. Kegagalan ekonomi suatu perusahaan dikaitkan dengan ketidakseimbangan antara pendapatan dengan pengeluaran. Kegagalan ekonomi juga bisa disebabkan oleh biaya modal perusahaan yang lebih besar dari tingkat laba atas biaya historis investasi. Sementara itu, sebuah perusahaan dikategorikan gagal keuangannya jika perusahaan tersebut tidak mampu membayar kewajibannya pada waktu jatuh tempo, meskipun aktiva total melebihi kewajibannya. Keadaan ini sering didefinisikan sebagai insolvensi teknis (technical insolvency). Tentu saja, sebuah perusahaan juga akan dinyatakan pailit jika total kewajiban melebihi nilai wajar dari aktiva totalnya. 3 Salah satu sarana dalam mengelola bank adalah dengan menganalisis laporan keuangan yang berupa informasi – informasi yang menyangkut kegiatan keuangan sesuai dengan bidang kegiatan perbankan itu sendiri. Namun demikian, walaupun suatu bank telah memiliki informasi yang lengkap tetapi kalau tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan benar, informasi tersebut akan sia – sia saja. Dari laporan keuangan tersebut, dapat digunakan untuk menilai prestasi dan kondisi keuangan suatu perusahaan yang dalam hal ini adalah bank dengan menggunakan ukuran – ukuran tertentu, sehingga nantinya informasi tersebut dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Ukuran yang sering digunakan adalah rasio keuangan. Analisis dan penafsiran berbagai rasio akan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap prestasi dan kondisi keuangan daripada hanya analisis terhadap laporan keuangannya saja. Dalam UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan telah ditetapkan bahwa setiap bank harus menyerahkan kepada Bank Indonesia semua informasi akuntansi dan data yang berhubungan dengan setiap operasi bank selama jangka waktu 1 tahun dalam bentuk laporan keuangan. Untuk mendapat informasi yang dikehendaki maka laporan keuangan harus dianalisis. Analisis laporan keuangan meliputi penghitungan dan interpretasi rasio keuangan. Dari hasil analisis laporan keuangan akan memberikan gambaran mengenai kinerja perusahaan, posisi keuangan, aliran kas perusahaan, dan hasil – hasil yang telah dicapai oleh suatu entitas usaha. 4 Untuk menentukan sehat atau tidaknya sebuah bank, Pemerintah Republik Indonesia melalui Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai ketentuan yang telah dan akan terus disempurnakan, untuk menentukan tingkat kesehatan suatu bank. Setiap perbankan yang beroperasi di Indonesia baik bank BUMN, swasta nasional, swasta campuran, maupun bank asing harus memenuhi ketentuan yang telah digariskan dalam setiap unsur tingkat kesehatan bank tersebut. Penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan dengan pendekatan kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank. Aspek – aspek tersebut adalah permodalan (Capital),, kualitas aktiva produktif (Assets Quality), manajemen (Management), rentabilitas (Earnings), dan likuiditas (Liquidity) atau sering disebut CAMEL. Aspek – aspek kualitatif tersebut dikuantifikasi dan diberikan bobot, serta penilaian masing – masing dengan system kredit (reward system) yang dinyatakan dengan nilai 0 sampai dengan 100. Dalam dunia perbankan di Indonesia, Direksi Bank Indonesia telah mengeluarkan Surat Keputusan Direksi BI No.26/23/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1993 tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank dan Surat Edaran Gubernur BI No.26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993 tentang Tata Cara Penilaian Kesehatan Bank Umum. Ketentuan – ketentuan tersebut dikeluarkan sebagai tolok ukur : (1) bagi manajemen untuk menilai pengelolaan bank telah sejalan dengan asas – asas perbankan yang sehat dan sesuai dengan ketentuan yang 5 berlaku, dan (2) untuk menetapkan arah pembinaan dan pengembangan bank baik secara individual maupun perbankan secara keseluruhan. Ukuran yang ditetapkan Bank Indonesia untuk menilai tingkat kesehatan bank di Indonesia adalah sama dengan ukuran kinerja yang sering digunakan untuk memprediksi kebangkrutan bank yang dilakukan dengan bank rating system dengan model CAMEL, yaitu merangking kinerja bank dengan mendasarkan pada : (1) Capital Adequacy, (2) Assets Quality, (3) Management, (4) Earnings, dan (5) Liquidity. Hasil pengujian dengan model CAMEL untuk rating kinerja bank bermanfaat untuk memprediksi kebangkrutan dan mendorong usaha – usaha pemasaran bank. Thomson dan Whalen dalam Aryati dan Hekinus (2002) menggunakan data keuangan untuk mengidentifikasi kondisi bank. Penggunaan model CAMEL untuk menganalisis data keuangan akan bermanfaat untuk mengidentifikasi kondisi bank. Model ini tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada data yang dipublikasikan, seperti laporan keuangan. Hasil analisis model CAMEL memberikan informasi dalam membuat klasifikasi bank – bank komersial menurut perbedaan kelas risikonya. Penggunaan data sekunder untuk evaluasi kinerja industri perbankan dapat dibenarkan. Analisis terhadap indikator – indikator keuangan biasanya dimaksudkan sebagai alat untuk pengambilan keputusan – keputusan manajemen perusahaan agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Mulyono dalam Veronica (2003) menyatakan bahwa indikator – indikator keuangan berupa rasio – rasio keuangan dapat dijadikan sebagai sistem 6 peringatan awal (early warning system) terhadap kemunduran kondisi finansial dari suatu perusahaan. Penerapan riset semacam ini di Indonesia tampaknya baru mulai dirasakan, terutama setelah munculnya perusahaan – perusahaan bermasalah akibat krisis ekonomi dan moneter 1990-an. Pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.524 – 539/KMK/017/1997 tanggal 1 November 1997 memutuskan untuk mencabut izin usaha terhadap 16 bank umum, kemudian menyusul pada tanggal 13 Maret 1999 Pemerintah kembali melikuidasi terhadap 38 bank umum lainnya dalam rangka penyehatan perbankan swasta nasional. Umumnya kesulitan keuangan perusahaan tidak datang dalam waktu tiba – tiba, tetapi merupakan cerminan dari serangkaian keputusan keuangan yang tidak benar (Husnan, 1990). Perusahaan mungkin menghadapi kesulitan keuangan karena alasan operasi dan karena alas n kesulitan keuangan karena beban tetap yang terlalu besar (Brigham, 1996), kondisi keuangan dan hasil operasi akan tercermin pada laporan keuangan. Prediksi tentang perusahaan yang kesulitan keuangan (financial distress), yang kemudian mengalami kebangkrutan, dapat diamati dengan mencermati memburuknya rasio – rasio keuangan dari tahun ke tahun. Penelitian tentang manfaat laporan keuangan sudah banyak dilakukan di berbagai bidang, misalnya laporan keuangan untuk prediksi return, prediksi pertumbuhan laba, dan penilaian kinerja perusahaan. Salah satu manfaat dari 7 laporan keuangan tersebut adalah laporan keuangan untuk memprediksi kegagalan / kebangkrutan perusahaan. Penelitian ini ingin mengetahui apakah laporan keuangan yang diterima oleh Bank Indonesia dari bank – bank swasta dapat digunakan untuk memprediksi kesulitan keuangan yang dialami oleh bank. Kebangkrutan bisa disebabkan oleh faktor non ekonomi, tetapi dalam penelitian ini perhatian dipusatkan pada indikator – indikator keuangan yang tercantum dalam laporan keuangan. Apabila hasil penelitian menunjukkan bahwa laporan keuangan dari bank yang mengalami kesulitan keuangan bisa digunakan untuk prediksi kegagalan / kebangkrutan, maka Bank Indonesia dapat lebih mengoptimalkan penggunaan laporan keuangan bank – bank yang berada dalam wewenangnya sebagai alat pengawasan atau sebagai alat pendeteksi dini.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28 Management. Industrial Management
    Divisions: Fakultas Ekonomi > Manajemen
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:13
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:13
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3066

    Actions (login required)

    View Item