PERBEDAAN KADAR OSTEOKALSIN PADA WANITA POSTMENOPAUSE RIWAYAT PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL INJEKSI DEPOT MEDROKSIPROGESTERON ASETAT (DEPO PROVERA ®) DENGAN KONTRASEPSI NON HORMONAL

PRASSIDDHA SUNU, WIDHI (2010) PERBEDAAN KADAR OSTEOKALSIN PADA WANITA POSTMENOPAUSE RIWAYAT PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL INJEKSI DEPOT MEDROKSIPROGESTERON ASETAT (DEPO PROVERA ®) DENGAN KONTRASEPSI NON HORMONAL. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1194Kb)

    Abstract

    Osteoporosis merupakan penyakit metabolisme tulang yang ditandai pengurangan massa tulang, kemunduran mikroarsitektur tulang dan fragilitas tulang yang meningkat, sehingga resiko fraktur menjadi lebih besar. Insiden osteoporosis meningkat sejalan dengan meningkatnya populasi usia lanjut Masa postmenopause adalah masa setelah menopause sampai senium yang dimulai setelah 12 bulan amenore. Menopause adalah saat dimana terjadi berhentinya menstruasi secara permanen akibat berkurang atau hilangnya aktifitas ovarium. Kehilangan densitas mineral tulang secara signifikan terjadi pada awal postmenopause terutama pada trabekular tulang Osteoporosis postmenopause merupakan osteoporosis tipe I pada wanita usia 51-65 tahun. Secara patogenesis terjadi ketidakseimbangan proses remodeling tulang antara resorpsi yang meningkat dengan cepat dan formasi tulang berjalan relatif lebih lambat. Masalah osteoporosis di Indonesia dihubungkan dengan masalah hormonal pada menopause. Menopause lebih cepat dicapai wanita Indonesia pada usia 48 tahun dibandingkan wanita barat yaitu usia 60 tahun. Dalam kondisi patologis kerapuhan tulang disebabkan oleh beberapa hal yaitu kegagalan mencapai massa tulang puncak optimal, resorpsi tulang berlebihan menyebabkan berkurangnya massa tulang, kerusakan mikroarsitektur sistem skeleton dan berkurangnya aktivitas osteoblas dalam merespon peningkatan resorpsi selama remodeling tulang. Penelitian menurut Roeshadi di Jawa Timur, didapatkan bahwa puncak masa tulang dicapai pada usia 30-34 tahun dan rata-rata kehilangan massa tulang pasca menopause adalah 1,4% per tahun. Tes laboratorik dapat berperan sebagai tes saring, pemantauan pengobatan, dan penentuan penyebab osteoporosis. Salah satu petanda proses membentuk tulang adalah osteokalsin atau bone-GLA (g-carboxyglutamil acid)-protein (BGP), yang merupakan protein non kolagen dalam matriks tulang, yang disintesis oleh osteoblas, dan disekresi ke dalam cairan jaringan penyokong utama tulang. Osteokalsin merupakan protein nonkolagen terbanyak dalam tulang dan diproduksi oleh sel osteoblas (sel yang berperan pada proses pembentukan tulang), suatu protein yang bersifat dependent terhadap vitamin K dan vitamin D. Fragmen osteokalsin juga akan dilepaskan ke dalam peredaran darah dan dapat diukur kadarnya. Dalam aliran darah terdapat bentuk osteokalsin utuh dan N-MID-fragment. Oleh karena itu pemeriksaan Osteokalsin merupakan parameter yang baik untuk menentukan gangguan metabolisme tulang dalam hal pembentukan tulang dan turn over tulang, dan dapat digunakan untuk memprediksi kecepatan penurunan densitas massa tulang dan keberhasilan pengobatan Penelitian di Polandia didapatkan remodeling tulang Osteokalsin dan CTx atau carboxy-terminal collagen crosslinks atau C-Telopeptides meningkat lebih tinggi pada wanita postmenopause dibandingkan dengan wanita belum menopause secara signifikan dan hal ini sesuai dengan beberapa penelitian cross-sectional pendahulunya. Semakin meningkat umur dan bone turnover atau remodeling tulang, semakin turun densitas tulang (BMD atau bone mineral density) dan menjadi rapuh Depo Profera® merupakan salah satu kontrasepsi hormonal yang beredar di Indonesia dan sampai sekarang masih banyak digunakan oleh wanita usia reproduktif. Depo Profera® mengandung depot medroksiprogesteron asetat (DMPA), dosis kontrasepsi 150 mg. Formulasi ini dalam bentuk suspensi injeksi yang diberikan secara intramuskuler setiap tiga bulan sekali. DMPA mulai dikenal sejak pertengahan tahun 1960 sampai sekarang yang cukup efektif terhadap mencegah ovulasi. DMPA juga memberikan keragaman efek salah satunya adalah kehilangan densitas mineral tulang. Peranan kontrasepsi hormonal sebagai suatu cara dalam pengendalian proses kehamilan ternyata memberikan pengaruh terhadap tulang Wanita premenopause dan postmenopause yang pernah menggunakan DMPA dosis kontrasepsi akan terjadi hambatan produksi estradiol ovarium yang secara teoritis meningkatkan resiko osteopeni dan osteoporosis. Wanita yang menghentikan pemakaian DMPA memperlihatkan densitas mineral tulang reversibel dalam 12 sampai 24 bulan Didapatkan permasalahan, bagaimanakah besarnya pengaruh kontrasepsi tersebut terhadap remodeling tulang dalam hal ini terhadap aktivitas formasi tulang yang diukur dengan menggunakan biomarker formasi tulang yaitu Osteokalsin pada wanita postmenopause yang pernah memakai kontrasepsi tersebut sebelumnya. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan tingkat formasi tulang yaitu serum Osteokalsin pada wanita postmenopause riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal jenis injeksi depot medroksiprogesteron asetat (Depo Provera ®) dengan non kontrasepsi hormonal melalui analisa statistik. Dan untuk membuktikan hubungan antara lama mengikuti dan lama berhenti penggunaan kontrasepsi Depo Provera® tersebut dengan kadar Osteokalsin. Rancangan penelitian ini adalah jenis penelitian analitik observational dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah Wanita postmenopause usia 49 - 55 tahun riwayat pemakaian kontrasepsi hormonal mengandung depot medroxyprogesteron acetat / DMPA (Depo-Profera®) semasa usia reproduktif dan kelompok pembanding adalah wanita postmenopause usia sama tanpa riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal yang datang di poliklinik penyakit dalam RS dr moewardi Surakarta. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang rutin serum darah seperti kreatinin, GDP, kalsium, dan fosfat seta serum osteokalsin. Dengan kriteria eksklusi : Menderita penyakit gagal ginjal kronis, penyakit hati kronis, adanya riwayat gastrektomi, sindroma malabsorbsi, hiperprolaktinemia, klinis hiperparatiroid, hipoparatiroid, penyakit cushing, diabetes mellitus, tirotoksikosis, hiperadrenalisme, riwayat operasi ooforektomi, Penyakit Pagets, Multipel Myeloma. Mengalami patah tulang dan mengalami kelainan tulang sejak lahir, Pernah / sedang mendapatkan terapi hormon atau terapi sulih hormone, Mendapatkan pengobatan steroid, anti konvulsan, anti koagulan, furosemid, 1,25- dihydroxyvitamin D3, calcitriol, vitamin K, warfarin dan heparin, Adanya defisiensi kalsium, diet tinggi kalsium, merokok, riwayat peminum alkohol, BMI dinyatakan obesitas atau underweight. Teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling. diberikan surat kesediaan/ informed consent, ditanda tangani sebagai persetujuan sebagai responden dalam mengikuti penelitian ini setelah itu dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan selanjutnya diperiksakan serum darah dan Nilai serum Osteokalsin dengan Elecsys N-Mid Osteocalcin di Laboratorium Klinik Prodia Surakarta Besar sampel dihitung dengan rumus koefisien korelasi, didapatkan besar sampel minimal : 10. Data yang diperoleh sebelum dilakukan analisis perbedaan dilakukan terlebih dahulu uji normalitas data dengan uji Kolmogorov-Smirnov. Apabila didapatkan distribusi datanya normal maka uji perbedaan dilakukan dengan uji beda dua mean dengan t-test. Apabila distribusi datanya tidak normal diolah dengan uji Mann-Whitney menggunakan SPSS for Windows versi 16. Di dapatkan hasil penelitian ini berjumlah 24 orang dengan rincian sebanyak 14 orang sampel atau sebesar 58,3 persen menggunakan KB dengan DMPA dan sisanya sebanyak 10 orang atau sebesar 41,7 persen menggunakan KB nor hormonal. Dalam analisis korelasi tersebut diatas ternyata baik variable BMI, Umur, GDP, KOL-HDL, trigliserid, kreatinin, kalsium, fosfor anorganik, lama henti KB dan lama ikut KB-DMPA tidak ada satupun variable yang memiliki hubungan secara meyakinkan terhadap tingkat formasi tulang Osteokalsin pada kelompok sampel pengguna KB DMPA ini. Penelitian ini dapat ditarik kesimpulan, tidak didapatkan perbedaan signifikan dari kadar Osteokalsin tulang pada wanita postmenopause riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal injeksi Depo Provera® dengan kontrasepsi non hormonal. Riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal DMPA semasa usia reproduktif terhadap tingkat formasi tulang yang diukur dengan kadar Osteokalsin, didapatkan variabel lama memakai KB-DMPA dan lama berhenti KB-DMPA keduanya tidak berhubungan dengan kadar Osteokalsin.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: R Medicine > RC Internal medicine
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 13 Jul 2013 14:40
    Last Modified: 13 Jul 2013 14:40
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3020

    Actions (login required)

    View Item