Hubungan kestabilan emosi dan kemandirian terhadap prestasi belajar keterampilan siswa SLTP SLB - C YSSD Surakarta Tahun ajaran 2002/2003

Astuti, Apri (2003) Hubungan kestabilan emosi dan kemandirian terhadap prestasi belajar keterampilan siswa SLTP SLB - C YSSD Surakarta Tahun ajaran 2002/2003. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (357Kb)

    Abstract

    Pada hakekatnya tujuan pendidikan sebagaimana tercantum dalam GBHN TAP MPR Nomer : II/MPR/1999 (1999 : 23) adalah membangun dan mengembangkan manusia Indonesia yang berkualitas dan mandiri. Tercapainya tujuan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor dari dalam diri anak, keluarga dan masyarakat. Faktor-faktor tersebut sangat menentukan keberhasilan siswa dalam mewujudkan diri menjadi individu yang mandiri. Untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan tersebut baik anak normal ataupun anak luar biasa haruslah mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Anak tunagrahita menurut Dra. Munzayanah (1997 : 13) adalah anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan daya pikir serta seluruh kepribadiannya sehingga mereka tidak mampu hidup dengan kekuatan sendiri dalam masyarakat meskipun dengan cara hidup yang sederhana. Oleh karena keterbatasan yang dimiliki anak tunagrahita maka seringkali kita melihat orang tua yang mempunyai anak tuna grahita selalu melindungi selalu memenuhi segala kebutuhannya bahkan segala keperluan bagi anaknya juga selalu disediakan. Hal ini menyebabkan anak menjadi kurang mandiri, karena seringkali kita jumpai anak tunagrahita yang sudah bersekolah tingkat SLTP tidak bisa menjaga kebersihan badannya sendiri ataupun menentukan pilihan-pilihan bagi dirinya sendiri, mereka selalu tergantung pada orang tuanya. Menurut Soeharto (1980 : 49) “Kemandirian adalah menumbuhkan kemampuan yang dimiliki, meningkatkan peranan yang lebih besar dalam segala bidang dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam peningkatan kegiatan.” Dari pengertian tersebut dapat kita artikan bahwa kemandirian adalah kemampuan individu untuk dapat menempatkan diri dan melakukan kegiatan untuk mengurus diri kita sendiri. Bagi anak tunagrahita menumbuhkan kemandirian dapat dilakukan oleh orang tua di rumah misalnya untuk anak yang sudah remaja diajak untuk senantiasa merawat dan mengurus dirinya sendiri serta dapat menjaga kebersihan lingkungannya, membantu pekerjaan orang tua dirumah seperti membantu memasak, membersihkan tempat tidur, kamar, menyapu atau merawat tanaman di halaman rumah. Selain itu guru juga mempunyai peranan yang penting dalam menumbuhkan kemandirian anak didiknya karena selain di rumah anak juga hidup di sekolah. Guru harus selalu mengajarkan kepada anak didiknya untuk dapat hidup mandiri misalnya mengerjakan tugas atau pekerjaan yang diberikan secara baik, mengajak anak untuk bekerja bakti membersihkan kelas dan selalu menjaga kebersihan kelas. Bahkan kemandirian bagi anak dapat juga ditumbuhkan melalui mata pelajaran pendidikan keterampilan di sekolah. Kondisi anak tunagrahita pada umumnya adalah mempunyai intellegensi di bawah rata-rata anak normal, maka dalam menerima materi pelajaran mereka mengalami kesulitan. Oleh karena itu Sekolah Luar Biasa bagian C menitikberatkan pada pelajaran keterampilan bagi siswa-siswanya. Keterampilan menurut S. T. Vembrianto (1984 : 52) dapat diartikan secara luas dan sempit. Keterampilan dalam arti sempit adalah kemudahan, kecepatan dan ketetapan dalam tingkah laku motorik, dalam arti luas keterampilan meliputi aspek manual skill dan sosial skill. Dengan demikian pemberian pendidikan keterampilan di sekolah dapat digunakan untuk menumbuhkan kemandirian dalam diri anak dan dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam diri anak. Karena dalam pendidikan keterampilan diajarkan bagaimana anak dapat mengurus dirinya, membuat berbagai macam bentuk kerajinan, bagaimana cara beternak, bagaimana cara bercocok tanah dan memelihara tanaman serta diajarkan bagaimana cara memasak. Materi pelajaran pendidikan keterampilan ini juga dapat diterapkan di rumah untuk membantu orang tua ataupun untuk diri sendiri. Diharap dengan diberikannya pendidikan keterampilan bagi anak tunagrahita di SLB bagian C dapat menjadikan anak tunagrahita hidup lebih mandiri lagi dan diharapkan mereka juga dapat mencari nafkah dengan kemampuan yang telah dimilikinya. Materi pelajaran pendidikan keterampilan juga berguna dalam melatih kestabilan emosi bagi anak, karena dalam mengerjakan tugas keterampilan atau dalam membuat sesuatu diperlukan kesabaran, kecekatan dan ketekunan agar hasil yang dibuat benar-benar selesai dengan baik dan memuaskan. Anak tunagrahita pada umumnya kestabilan emosinya sangat kurang stabil, mereka sering mengalami kemarahan tanpa sebab, perasaan malu yang berlebihan, ketakutan, kecemasan dan frustasi. Bahkan kehidupan sehari-hari baik di rumah ataupun di sekolah mereka kurang dapat menahan emosinya sehingga sering juga kita jumpai anak tiba-tiba memukul temannya ataupun tiba-tiba marah-marah. Menurut Bimo Walgito (1980 : 146) "perasaan atau emosi adalah suatu keadaan diri individu pada suatu waktu sebagai akibat dari stimulus yang mengenainya". Emosi seseorang yang tidak terkendali pada umumnya individu tersebut kurang dapat atau tidak dapat menguasai dirinya, sehingga tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan sering kali tidak sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat. Namun sering kali kita jumpai anak tunagrahita disekolah merasa malas dalam mengikuti pelajaran pendidikan keterampilan, mereka sering merasa bosan terhadap materi pelajaran yang diberikan oleh gurunya, karena materi yang diberikan sering kali diulang-ulang dan anak juga sering kali menyepelekan karena mereka merasa sudah bisa membuat atau mengerjakan. Tetapi sebagai seorang guru yang baik seharusnya dapat menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi anak didiknya, sehingga tujuan dari pendidikan keterampilan dapat tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan. Bertolak dari latar belakang anak tunagrahita dan perlunya pendidikan keterampilan bagi anak tunagrahita sehingga anak dapat meningkatkan kestabilan emosi dan kemandirian anak tunagrahita. Penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang HUBUNGAN KESTABILAN EMOSI DAN KEMANDIRIAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KETERAMPILAN SISWA SLTP SLB C YSSD SURAKARTA.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: L Education > LB Theory and practice of education > LB1603 Secondary Education. High schools
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:13
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:13
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/3011

    Actions (login required)

    View Item