Babad PRACIMAHARJAKAPARINGAN nama serat Sri Udyana (suatu tinjauan filologis)

Rupadi, Eko (2006) Babad PRACIMAHARJAKAPARINGAN nama serat Sri Udyana (suatu tinjauan filologis). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (106Kb)

    Abstract

    Manusia dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat erat. Kebudayaan hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang di dalamnya terdiri dari individu-individu dengan beranekaragam ide dan gagasan. “Manusia dalam kehidupan masyarakat memerlukan kepuasan, baik spiritual maupun material dan kebutuhan tersebut pada dasarnya bersumber dari kebudayaan yang telah dibentuk oleh manusia sendiri”(Wahyu, 1986:43). Daya cipta, rasa, dan karya adalah kelebihan yang dimiliki manusia untuk menghasilkan berbagai wujud kebudayaan, antara lain ide, pola kelakuan dan hasil karya. Wujud kebudayaan yang berupa hasil karya manusia pada umumnya bersifat konkrit, seperti benda-benda hasil budaya yang diwariskan turun-temurun. Warisan budaya ini, di antaranya bangunan-bangunan megah yang dibangun untuk beragam kepentingan. Selain berwujud bangunan, peninggalan yang tidak kalah pentingnya adalah produk tulisan sebagai rekaman berbagai kondisi masa lampau yang disebut naskah. Naskah lama yang dimiliki bangsa kita merupakan dokumen budaya yang menarik untuk diteliti, karena di dalamnya menggambarkan keadaan masa lampau yang pantas digali, dilestarikan dan disebarluaskan kepada masyarakat. Menurut Sartono Kartodirjo (dalam Siti Chamamah Suratno, 2003:6), “dengan mengungkapkan berbagai peristiwa masa lampau, masayarakat akan mengetahui latar belakang historis persoalan-persoalan dewasa ini, karena masa sekarang ini tidak lain adalah kelanjutan dari masa lampau.” Sebagai salah satu peninggalan tertulis, naskah lama menyimpan informasi lampau lebih banyak jika dibandingkan dengan peninggalan yang berwujud bangunan. Haryati Soebadio (1975 : 1) menyatakan bahwa “naskah-naskah lama merupakan dokumen bangsa yang menarik bagi peneliti kebudayaan lama, karena memiliki kelebihan yaitu dapat memberikan informasi yang lebih luas dibanding puing bangunan megah seperti candi, istana raja dan pemandian suci yang tidak dapat berbicara dengan sendirinya, tapi harus ditafsirkan”. Mengingat begitu besarnya manfaat naskah terhadap pengembangan kebudayaan nasional, maka naskah-naskah lama di Nusantara ini harus segera mendapatkan penanganan. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan naskah dari kepunahan, karena untuk masa sekarang ini keberadaan naskah sudah langka. Kelangkaan ini salah satunya adalah disebabkan oleh adanya kesulitan masyarakat sekarang dalam membaca dan mempelajari naskah kuno tersebut, terutama kendala bahasa dan tulisannya. Kondisi semacam ini akan berakibat buruk dan tidak mustahil apabila sumber-sumber kebudayaan kita yang penting akan musnah tanpa terungkap isinya. Faktor lain yang mendorong untuk segera dilakukannya panyelamatan naskah adalah berkaitan dengan kondisi fisik naskah. Sebagian besar naskah lama menggunakan bahan dari kertas, dluwang, bambu, kulit binatang dan sebagainya. Bahan-bahan tersebut merupakan bahan yang mudah rusak dan rapuh serta tidak tahan terhadap udara yang lembab. Naskah-naskah lama yang seharusnya melimpah jumlahnya ternyata hanya sedikit yang sampai pada kita dan tidak terdeteksi keberadaannya. Hal ini disebabkan karena banyaknya naskah yang hilang akibat adanya perang, bencana alam atau sengaja dimusnahkan. Naskah lama tidak lepas dari tradisi salin-menyalin naskah. Tradisi ini ini terjadi karena penyalin ingin memiliki cerita itu atau naskah asli sudah rusak, sehingga perlu dibuat salinannya. Tradisi penyalinan naskah ini menimbulkan adanya kesalahan-kesalahan yang menyimpang dari naskah asli atau adanya varian-varian naskah, sehingga diperlukan adanya penanganan naskah. Bidang ilmu yang erat kaitannya dengan upaya-upaya penangan naskah adalah filologi. Cara kerja filologi dilakukan terlebih dahulu sebelum naskah disebarluaskan dan didayagunakan untuk beragam kepentingan. Dasar kerja filologi adalah prinsip bahwa teks berubah dalam penurunannya. Pekerjaan yang paling utama dalam penelitian filologi adalah mendapatkan kembali naskah yang bersih dari kesalahan, yang memberi perhatian sebaik-baiknya dan yang bisa dipertanggungjawabkan pula sebagai naskah yang paling mendekati aslinya (Siti Baroroh Baried,1994:5). Manfaat yang dapat diambil dari naskah lama amat besar dan begitu banyak kandungan isinya. Penulis dalam hal ini mengkaji salah satu khasanah naskah Nusantara yaitu naskah Jawa. Naskah Jawa sendiri secara spesifik berdasarkan isinya oleh Girardet-Sutanto (1983:143) diklasifikasikan menjadi empat kelompok, yaitu : 1. Kronik, legende dan mite Dalam kelompok ini termasuk naskah Babad, Pakem Wayang Purwa, Menak , Panji, Pustakaraja dan Silsilah. 2. Agama, filsafat dan etika Termasuk naskah-naskah yang mengandung unsur-unsur Hinduisme- Budhisme, Islam, Mistik Jawa, Kristen, Magi dan Ramalan, sastra wulang. 3. Peristiwa kraton, risalah, peraturan-peraturan 4. Buku teks dan penuntun, kamus dan ensiklopedia tentang linguistik, obat-obatan, masak-memasak dan sebagainya. Berdasarkan pada penjenisan naskah tersebut, penulis berusaha menggali khasanah naskah Jawa yang bernuansa sejarah. Jenis karya sastra yang berkaitan dengan sejarah disebut babad, dan dalam pengelompokan di atas termasuk dalam pengelompokan pertama.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: P Language and Literature > PI Oriental languages and literatures
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa > Sastra Daerah
    Depositing User: Users 834 not found.
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:15
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:15
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2976

    Actions (login required)

    View Item