HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TINGKAT KECERDASAN INTELEKTUAL (INTELLIGENCE QUOTIENT – IQ) PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DITINJAU DARI STATUS SOSIAL-EKONOMI ORANG TUA DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU

NICKYTA SARI, PRIMADIATI (2010) HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TINGKAT KECERDASAN INTELEKTUAL (INTELLIGENCE QUOTIENT – IQ) PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DITINJAU DARI STATUS SOSIAL-EKONOMI ORANG TUA DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1275Kb)

    Abstract

    Kesehatan, pendidikan, dan ekonomi merupakan tiga pilar utama penentu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia. Laporan United Nations Development Programme (UNDP) menunjukkan bahwa pada tahun 2004, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menduduki peringkat 111 dari 177 negara, lebih rendah dibandingkan dengan peringkat IPM negaranegara di Asia Tenggara. Rendahnya IPM di Indonesia sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan kesehatan penduduk (Dinkes, 2009). Gizi yang baik adalah gizi yang seimbang, artinya asupan zat gizi harus sesuai dengan kebutuhan tubuh. Kebutuhan nutrisi pada setiap orang berbedabeda berdasarkan unsur metabolik dan genetikanya masing-masing (Supariasa, 2002). Keseimbangan zat gizi yang tidak terpenuhi dalam jangka waktu lama dapat membuat seseorang mempunyai status gizi yang buruk (severe malnutrition). Menurut Sediaoetama (2000), anak sekolah atau masa kanak-kanak pertengahan merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap ketidakcukupan gizi, sehingga anak sekolah harus dipantau agar ketidakcukupan gizi bisa dihindari. Anak sekolah adalah anak yang berusia 6- 12 tahun, memiliki fisik lebih kuat dibandingkan balita atau anak usia prasekolah, mempunyai sifat individual serta aktif dan tidak bergantung dengan orang tua. Biasanya pertumbuhan putri lebih cepat daripada putra. Kebutuhan gizi anak sebagian besar digunakan untuk aktivitas pembentukan dan pemeliharaan jaringan (Moehji, 1992). Kelompok anak sekolah pada umumnya mempunyai kondisi gizi yang lebih baik daripada kelompok balita. Meskipun demikian, masih terdapat berbagai kondisi gizi anak sekolah yang tidak memuaskan, misalnya: berat badan yang kurang, anemia defisiensi Fe, defisiensi vitamin C, dan di daerah-daerah tertentu juga dijumpai defisiensi Iodium (Sediaoetama, 2000). Tiga faktor yang mempengaruhi kejadian gizi buruk secara langsung, yaitu: anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang, anak tidak mendapat asupan gizi yang memadai dan anak mungkin menderita penyakit infeksi (Dinkes, 2009). Pada usia 7 tahun, seorang anak memasuki tahap operasional konkret, karena pada saat ini anak sudah mulai dapat berpikir lebih logis daripada tahap sebelumnya (praoperasional) sehingga telah dapat menggunakan logika untuk memecahkan masalah secara konkret (Papalia et al., 2008). Proses pematangan otak tidak terhenti pada usia 10 tahun, namun berlanjut hingga usia remaja, bahkan sampai usia 20 tahun (Giedd, 2002 cit. Spano, 2002). Pada usia 10 tahun, berat otak anak sudah mencapai 95% berat otak dewasa (Soetjiningsih, 1995). Salah satu cara untuk menilai perkembangan anak pada masa kanakkanak pertengahan (6-12 tahun) ini adalah dengan tes intelegensi individual (tes IQ) (Soetjiningsih, 1995). Intelegensi didefinisikan sebagai bentuk kemampuan seseorang dalam memperoleh pengetahuan (mempelajari dan memahami), mengaplikasikan pengetahuan (memecahkan masalah), serta berfikir abstrak. Sedangkan Intelligence Quotient atau IQ adalah skor yang diperoleh dari tes intelegensi. Kecerdasan ini diatur oleh bagian korteks otak yang dapat memberikan kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi (Boeree, 2003). Tinggi rendahnya tingkat inteligensi anak dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara garis besar, faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: (1) faktor genetik; (2) faktor gizi; dan (3) faktor lingkungan (Boeree, 2003). Skor tes IQ yang diambil pada masa kanak-kanak pertengahan merupakan prediktor prestasi sekolah yang cukup bagus, terutama bagi anak dengan tingkat verbal yang tinggi, dan skor yang dihasilkan jauh lebih dapat diandalkan dibanding skor yang didapat pada masa prasekolah (Papalia et al., 2008). Beberapa faktor lingkungan yang mempunyai efek positif terhadap kecerdasan anak antara lain: hubungan orang tua dan anak, tingkat pendidikan ibu, dan riwayat sosial-budaya (Wibowo, et al., 1995). Mc Wayne (2004) menjelaskan bahwa anak yang tumbuh dengan penghasilan orang tua yang rendah mempunyai risiko tertundanya perkembangan kognitif lebih tinggi dibandingkan anak yang tumbuh dengan penghasilan orang tua yang tinggi. Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa faktor gizi sangat esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. Keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi sangat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, kecerdasan, kesehatan, aktivitas anak, dan hal-hal lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan tingkat kecerdasan intelektual (IQ) pada anak usia sekolah dasar.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 13 Jul 2013 03:43
    Last Modified: 13 Jul 2013 03:43
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2949

    Actions (login required)

    View Item