PENGARUH PROFITABILITY, TANGIBILITY, GROWTH OPPORTUNITY, CORPORATE TAX, NON-DEBT TAX SHIELD, DAN INFLATION RATE TERHADAP STRUKTUR MODAL PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR (Penelitian Pada Perusahaan Manufaktur yang listing di BEI tahun 2006 - 2009)

TOMMY KURNIAWAN ADMAJA, BONIFASIUS (2010) PENGARUH PROFITABILITY, TANGIBILITY, GROWTH OPPORTUNITY, CORPORATE TAX, NON-DEBT TAX SHIELD, DAN INFLATION RATE TERHADAP STRUKTUR MODAL PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR (Penelitian Pada Perusahaan Manufaktur yang listing di BEI tahun 2006 - 2009). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1303Kb)

    Abstract

    Perdagangan bebas dalam era globalisasi semakin menuntut perusahaan untuk mampu melakukan penyesuaian diri dan inovatif menghadapi perubahan yang terjadi didalam lingkungannya. Keadaan ini secara langsung atau tidak langsung, akan mendorong setiap perusahaan untuk menata diri agar dapat bertahan eksis bahkan tumbuh dan berkembang. Terdorong kondisi persaingan yang semakin tajam juga tuntutan kontinuitas aktivitas usaha untuk mencapai keuntungan yang diharapkan, perusahaan-perusahaan berskala besar ataupun kecil kembali menaruh perhatian pada masalah pendanaannya. Sebagai upaya menjaga stabilitas dan pertumbuhan perusahaan saat ini dan masa mendatang, perusahaan harus memperhatikan norma-norma pendanaan, dan teknik-teknik pembelanjaan yang baik, disamping masalah-masalah lainnya yang juga harus diperhatikan, seperti masalah produksi dan pemasaran. Aspek penting dalam rangka pemenuhan kebutuhan operasi sehari hari dan pengembangan adalah penyediaan dana oleh perusahaan. Kebutuhan dana tersebut berupa modal kerja maupun pembelian aktiva tetap. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, perusahaan harus mampu mencari sumber dana dengan komposisi yang optimal. Pemenuhan dana tersebut dapat berasal dari sumber intern maupun ekstern, pada umumnya perusahaan cenderung menggunakan sumber pendanaan yang berasal dari modal intern sedangkan sumber dari ekstern digunakan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan yang belum tercover. Oleh sebab itu seorang manajer keuangan dengan memperhatikan cost of capital, perlu menentukan struktur modal sebagai upaya menetapkan apakah kebutuhan dana perusahaan dipenuhi dengan modal sendiri atau dari modal eksternal. Kebijakan dalam menetapkan keputusan pendanaan, perusahaan juga harus mampu menganalisis dan mempertimbangkan kombinasi sumber-sumber dana ekonomis untuk melakukan pembelanjaan kegiatan usaha dan investasinya. Pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan dana, perusahaan perlu mempertimbangkan beberapa hal, antara lain ada tiga hal yang perlu dipikirkan, yaitu besarnya dana yang akan dibutuhkan, dan dimana dana tersebut nantinya akan dapat diperoleh serta berapa lama dana tersebut akan digunakan dalam membiayai kegiatan operasional perusahaan. Kebutuhan dana untuk pengeluaran operasional dibiayai dengan sumber dana jangka pendek. Sumber dana ini digunakan untuk membiayai operasi perusahaan sehari–hari, misalnya : biaya bahan baku, biaya produksi, membayar biaya administrasi dan lain – lain. Dana yang akan dikeluarkan ini diharapkan dapat kembali dalam jangka waktu yang relatif pendek (kurang dari satu tahun) melalui hasil penjualan. Sementara itu kebutuhan dana untuk pengeluaran kapital dibiayai dengan sumber dana jangka panjang seperti penerbitan saham, obligasi, dan laba ditahan. Dana itu digunakan untuk membelanjai investasi perusahaan dan hasil pengembaliannya dapat diterima kembali dalam jangka waktu relatif lama (lebih dari satu tahun). Penggunaan sumber dana jangka waktu panjang seperti hutang jangka panjang, saham (baik saham biasa atau saham preferen), obligasi dan laba ditahan yang digunakan oleh perusahaan akan membentuk struktur modal perusahaan. Menurut Bambang Riyanto (2001) struktur modal merupakan pembelanjaan permanen dimana mencerminkan perimbangan antara hutang jangka panjang dengan total modal sendiri. Struktur modal lebih menggambarkan target komposisi hutang dan ekuitas dalam jangka panjang pada suatu perusahaan. Teori struktur modal dalam manajemen keuangan diantaranya terdiri dari Static trade off (STO) yang dikemukakan oleh Miller (1977) dan Pecking Order Theory (POT) yang pertama kali dikemukakan oleh Myers dan Majluf (1984). Pendanaan dengan dasar Static Trade Off dibentuk dengan menyeimbangkan manfaat dari penghematan pajak atas penggunaan hutang terhadap kos kebangkrutan (Sekar Mayangsari, 2001). Static Trade Off juga memprediksi suatu hubungan variabilitas pendapatan dan penggunaan hutang. Dalam Static trade off struktur modal akan optimal apabila ada keseimbangan antara manfaat dan biayanya. berdasarkan pada teori ini perusahaan berupaya mempertahankan struktur modal yang ditargetkan dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan. Sedangkan pendanaan berdasar Pecking Order Theory mendasarkan bahwa perusahaan lebih cenderung memilih pendanaan yang berasal dari internal daripada eksternal (Sekar Mayangsari, 2001). Penentuan struktur modal perusahaan dengan Pecking Order Theory didasarkan pada keputusan pendanaan secara hierarki dari pendanaan yang bersumber pada laba, hutang, sampai pada saham (dimulai dari sumber dana dengan biaya termurah) (Ari Christianti, 2006). Dana internal lebih disukai karena memungkinkan perusahaan untuk tidak perlu “membuka diri lagi” dari sorotan pemodal luar. Perusahaan berupaya memperoleh sumber dana yang diperlukan tanpa memperoleh “sorotan dan publisitas publik” sebagai akibat penerbitan saham baru. Dana eksternal lebih disukai dalam bentuk hutang daripada modal sendiri karena pertimbangan biaya emisi. Biaya emisi obligasi lebih murah dari biaya emisi saham baru (Saidi, 2004). Kebijakan mengenai struktur modal melibatkan trade off antara risiko dan tingkat pengembalian-penambahan hutang, dapat memperbesar risiko perusahaan tetapi sekaligus juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan (Weston dan Brigham,2006). Struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga memaksimumkan nilai perusahaan. Untuk itu, dalam penetapan struktur modal suatu perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhinya. Masalah struktur modal merupakan masalah penting bagi setiap perusahaan, karena baik buruknya struktur modal perusahaan akan mempunyai efek yang langsung terhadap posisi finansialnya. Suatu perusahaan yang mempunyai struktur modal yang tidak baik, dimana mempunyai hutang yang sangat besar akan memberikan beban yang berat kepada perusahaan tersebut. Keseimbangan finansial perusahaan dapat dicapai apabila perusahaan tersebut selama menjalankan fungsinya tidak menghadapi gangguan-gangguan finansial, yang ini disebabkan adanya keseimbangan antara jumlah modal yang tersedia dengan jumlah modal yang dibutuhkan (Riyanto, 2001). Dalam menentukan kebutuhan-kebutuhan sumber dana dapat digunakan pedoman struktur finansial baik yang vertikal maupun yang horizontal. (Riyanto,2001). Pedoman struktur finansial vertikal memberikan imbangan yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan mengenai besarnya jumlah modal pinjaman (hutang) dengan besarnya jumlah modal sendiri. Berdasarkan anggapan bahwa pembelanjaan yang sehat itu pertama-tama harus dibangun atas dasar modal sendiri, yaitu modal yang tahan risiko maka besarnya modal asing dalam keadaan apapun tidak boleh melebihi besarnya modal sendiri. Setiap perluasan basis modal sendiri akan memperbesar kemampuan perusahaan dalam menanggung risiko usaha yang akan dibelanjainya, hal ini didasarkan pada prinsip keamanan dimana hal ini akan memberikan pengaruh yang baik terhadap kreditur maupun terhadap perusahaan sendiri (Riyanto, 2001). Namun secara kenyataan lebih banyak pengusaha sukses atau perusahaan besar di dunia ini yang menggunakan hutang sebagai cara yang efektif untuk dapat mengembangkan usaha secara cepat. Sebenarnya yang paling ideal adalah mengunakan hutang dalam batas tertentu di mana diperkirakan dalam berbagai situasi dan kondisi, baik dalam kondisi ekonomi sulit maupun menguntungkan, perusahaan tetap dapat mengembalikan pinjaman beserta bunganya. Semakin besar hutang akan menyebabkan semakin besar risiko yang harus dihadapi perusahaan, antara lain kesulitan keuangan, kegagalan membayar bunga dan pokok pinjaman sampai kebangkrutan. Namun, dalam kenyataan sulit bagi perusahaan untuk menentukan suatu struktur modal yang terbaik dalam suatu komposisi pembelanjaan yang tepat. Lebih mudah apabila perusahaan mencoba menaksir dalam suatu “range berapa tingkat leverage yang tepat bagi perusahaan” (Hartono, 2003). Datta dan Agarwal (2008) melakukan penelitian tentang Struktur modal yang determinan dari sektor perusahaan di India. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa India, terutama selama periode 2003-2007. Penelitian ini menggunakan beberapa variabel yang berpengaruh terhadap struktur modal yaitu, profitability, growth opportunity, non-debt tax shield, taxes, tangibility, cash and borrowing bank. Dalam penelitian Datta dan Agarwal (2008) Profitability dan growth berpengaruh negatif terhadap struktur modal, Size dan tangibility berpengaruh positif terhadap struktur modal, sedangkan NDT dan tax tidak signifikan terhadap struktur modal pada perilaku sektor industri di India. Berbagai literatur penelitian terdahulu mengenai struktur modal telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti dan menjadi dasar dilakukannya penelitian ini. Penelitian Shah dan Hijazi (2009), menguji beberapa variable yang determinan terhadap struktur modal untuk perusahaan yang listing di bursa saham Pakistan, dan hasilnya menunjukan tangibilitas asset berpengaruh terhadap leverage meskipun tidak signifikan, ukuran perusahaan dan profitabilitas memiliki pengaruh positif teradap struktur modal, sedangkan variabel growth oppotunity berpengaruh negatif terhadap struktur modal. Psilakia dan Daskalakis (2008) menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap struktur modal dengan membandingkan antara perusahaan dengan negara, dengan data dari SME’s. Faktor-faktor yang dianalisis meliputi ukuran perusahaan, struktur asset, risiko, profit dan growth. dari pengujian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara positif terhadap strutur modal, sedangkan struktur asset, risiko, profit berpengaruh secara positif terhadap struktur modal. Variabel Growth tidak berpengaruh secara signifikan terhadap struktur modal yang diproxikan dengan debt pada objek penelitian SME’s. Penelitian Setyabudi (2007) menguji hipotesis leverage yang diproxikan dengan TDA (Total Debt Asset), TDM (Total Debt Market Value), LDA (Long debt Asset), LDM (Long Debt Market Value) dan ICR (Interest Coverage Ratio) terhadap growth, profitabilitas, kebijakan devoden, collateral, size, inflasi dan median industri leverage, dengan hasil sebagai berikut: (1) kesempatan bertumbuh mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal dengan menggunakan pengukuran TDA (Total Debt/Assets), (2) profitabilitas perusahaan mempunyai pengaruh negatif dengan struktur modal dengan menggunakan model pengukuran LDA dan TDA, menunjukkan adanya hubungan yang negatif signifikan antara variabel profit dan struktur modal, (3) ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap struktur modal, variabel logaritma total asset (ukuran perusahaan) terbukti mempunyai pengaruh positif dan signifikan jika diukur dengan menggunakan model LDA dan TDA, Hasil yang berbeda terjadi pada pengukuran dengan menggunakan model LDM, TDM dan ICR yang menunjukkan adanya hubungan positif dan tidak signifikan antara ukuran perusahaan dengan struktur modal., (4) median industry leverage mempunyai pengaruh positif terhadap struktur modal, terbukti bahwa variabel tersebut mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan apabila diuji dengan menggunakan model pengukuran LDA dan TDA. Kesuma (2009), dalam penelitiannya menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, dimana dengan meningkatnya pertumbuhan penjualan akan mengurangi jumlah kewajiban dari perusahaan yang pada akhirnya struktur modal dari perusahaan akan berkurang, dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, berarti apabila profitabilitas meningkat maka struktur modal akan mengalami penurunan dimana dengan menurunnya struktur modal sebagai akibat dari berkurangnya hutang jangka panjang yang bisa diluansi dengan profit yang naik. Sedangkan hasil penelitian Anggraini (2007) memaparkan hasil sebagai berikut. Tangible Assets (FTA), Firm Size (SIZE), Liquidity (CR) dan Growth Sales (GS) berpengaruh negative terhadap Struktur Modal (DTA). Sedangkan Operating Leverage (DOL) dan Profitability (NPM) berpengaruh positif terhadap Struktur Modal (DTA). Dan hanya Tangible Assets (FTA), Operating Leverage (DOL), serta Liquidity (CR) yang berpengaruh secara signifikan terhadap Struktur Modal (DTA). Penelitian ini mengacu pada model penelitian yang dikembangkan Datta dan Agarwal (2008) dengan beberapa perbedaan. Datta dan Agarwal (2008) menggunakan profitability, growth opportunity, non-debt tax shield, taxes, tangibility, cash and borrowing bank dan ownership structure sebagai faktor yang mempengaruhi struktur modal. Adapun perbedaan penelitin ini dengan penelitian sebelumnya yaitu: 1. Tidak disertakannya cash and borrowing bank, serta ownership structure dan diganti dengan variabel makro yaitu tingkat inflasi yang merupakan pengujian kembali variabel yang tidak berpengaruh pada penelitian Setyabudi (2008). 2. Proxy dari variabel dependen yaitu leverage menggunakan total debt dibagi aset, dimana kebanyakan perusahaan hanya menggunakan Long term atau short term debt saja. 3. Sampel dan tempat penelitian, penelitian Datta dan Agarwal (2008) mengambil sampel perusahaan yang terdaftar di India (BSE 200 index), sementara penelitian ini mengambil sampel perusahaan manufaktur pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Penulis melakukan penelitian dengan mengambil data dari tahun 2006-2009, dimana dirasakan krisis global mulai merambah dunia perindustrian dan perdagangan di Indonesia. Atas dasar uraian di atas dan beberapa literatur penelitian terdahulu, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait struktur modal dengan judul: PENGARUH PROFITABILITY, TANGIBILITY, GROWTH OPPORTUNITY, NON-DEBT TAX SHIELD, CORPORATION TAX, DAN INFLATION RATE TERHADAP STRUKTUR MODAL PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR (Penelitian Pada Perusahaan Manufaktur yang listing di BEI tahun 2006 - 2009)

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HB Economic Theory
    Divisions: Fakultas Ekonomi
    Fakultas Ekonomi > Akuntansi
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 13 Jul 2013 03:36
    Last Modified: 13 Jul 2013 03:36
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2947

    Actions (login required)

    View Item