RESPON PENAWARAN WORTEL ( Daucus carota ) DI KABUPATEN BOYOLALI

Rini, Dyah Kartika (2010) RESPON PENAWARAN WORTEL ( Daucus carota ) DI KABUPATEN BOYOLALI. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (2317Kb)

    Abstract

    Indonesia merupakan negara agraris. Sektor pertanian memegang peranan penting dalam pembangunan perekonomian negara. Ini dikarenakan sektor pertanian menghasilkan berbagai produk pangan untuk konsumsi manusia. Pangan memiliki arti penting bagi manusia karena dari makanan diperoleh energi bagi manusia untuk melakukan aktivitasnya. Peran penting sektor pertanian selain sebagai penyedia pangan, yaitu sebagai penghasil devisa negara dari sektor non-migas serta sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Indonesia memiliki potensi alamiah yang dapat mendukung berkembangnya sektor pertanian. Menurut Winarno ( 1999 ) , Indonesia dikaruniai sumberdaya hortikultura tropika yang berlimpah berupa keanekaragaman genetik yang luas. Demikian pula, keanekaragaman sumberdaya lahan, iklim, dan cuaca, yang dapat dijadikan suatu kekuatan untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam agribisnis hortikultura di masa depan. Sektor pertanian terbagi menjadi lima sub-sektor, yaitu sub-sektor tanaman bahan pangan dan hortikultura, peternakan, perkebunan, perikanan, dan sub-sektor kehutanan. Salah satu sub-sektor pertanian adalah sub-sektor tanaman bahan pangan dan hortikultura. Produk-produk agribisnis hortikultura meliputi buah-buahan, sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat. Fungsi tanaman hortikultura selain sebagai penghasil bahan pangan tetapi juga memiliki fungsi yang lain. Secara sederhana fungsi lain tersebut dapat dibagi menjadi 4, yaitu sebagai fungsi penyedia pangan, fungsi ekonomi, fungsi kesehatan dan fungsi sosial budaya ( Bahar, 2008 ) . Kabupaten Boyolali merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang sebagian besar wilayahnya digunakan sebagai areal pertanian dan sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Kabupaten Boyolali memiliki potensi alamiah yang cukup bagus untuk mengembangkan sektor pertanian di daerahnya. Ketinggian wilayah yang bervariasi, menyebabkan hasil produksi sektor pertanian di Kabupaten Boyolali cukup beragam. Disamping itu, di Kabupaten Boyolali terdapat Gunung Merapi. Abu vulkanik dari Gunung Merapi inilah yang dapat menyuburkan tanah sekitar gunung tersebut, sehingga menyebabkan Kabupaten Boyolali berpotensi untuk mengembangkan tanaman agroindustri. Kabupaten Boyolali memiliki 19 kecamatan. Masing-masing kecamatan menghasilkan komoditas tanaman pangan yang berbeda beda. Salah satu komoditas yang dihasilkan di Kabupaten Boyolali adalah komoditas sayuran. Komoditas sayuran yang dihasilkan di Kabupaten Boyolali antara lain bawang merah, bawang daun, wortel, kubis, sawi, cabai, tomat, buncis, dan kangkung. Tabel 1. Jenis-jenis Komoditas Sayur-sayuran di Kabupaten Boyolali Tahun 2008 Sayuran Jumlah Produksi ( Ton ) Luas Panen ( Ha ) Produktivitas ( Ton/Ha ) Bawang Merah 378.02 512 0.7383 Bawang Daun 647.80 759 0.8534 Wortel 1192.53 1.158 1.0298 Kobis 1687.06 1.431 1.1789 Sawi 502.34 731 0.6871 Cabai 839.35 2.553 0.3287 Tomat 125.35 164 0.7643 Terung 58.39 53 1.1016 Buncis 120.07 256 0.4690 Mentimun 183.45 115 1.5952 Labu Siam 362.14 54 6.7062 Kangkung 250.20 147 1.7020 Bayam 124.04 253 0.4902 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali Tahun 2008 Berdasarkan data dari Tabel 1, dapat diketahui bahwa tanaman wortel memiliki hasil produksi tertinggi kedua setelah kobis, dengan hasil produksi sebesar 1.192,53 ton dengan luas areal panen sebesar 1.158 Ha. Di Kabupaten Boyolali, wortel dihasilkan di tiga kecamatan, yaitu Ampel, Cepogo, dan Selo. Ketiga kecamatan tersebut cocok digunakan untuk mengusahakan sayuran, termasuk wortel. Ini dikarenakan syarat tumbuh tanaman wortel yaitu ditanam pada dataran tinggi. Wortel merupakan tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu. Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya ( Wikipedia, 2010 ) . Menurut pengobatan tradisional Tiongkok, wortel dapat memperkuat pencernaan, bermanfaat bagi limpa, dapat memelihara usus dan lambung, menenangkan 5 organ dalam ( limpa, usus, lambung, mata dan alat reproduksi ) dan menambah nafsu makan. Karotena yang terkandung dalam wortel dapat berubah menjadi vitamin A. Selain itu juga dapat menyegarkan tubuh dan menerangkan mata, memperkuat daya tahan tubuh dan dapat mencegah penyakit saluran pernafasan ( Anonim, 2008 ) . Berikut adalah hasil produksi wortel di Kabupaten Boyolali tahun 2004-2008. Tabel 2. Luas Panen, Hasil Produksi, Produktivitas, dan Harga Wortel di Kabupaten Boyolali Tahun 2004-2008 Tahun Luas Panen ( Ha ) Hasil Produksi ( Ton ) Produktivitas ( ton/ha ) Harga Ratarata/tahun ( Rp/kg ) 2004 1.371 2.004,26 1,46 520,00 2005 749 992,31 1,32 2080,00 2006 1.189 1.334,92 1,13 2200,00 2007 1.348 1.190,64 0,88 5167,00 2008 1.158 1.192,53 1,03 1942,00 Rata-rata 1.163 1.342,93 1,16 2382,00 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali Tahun 2008 Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa hasil produksi tanaman wortel dalam kurun waktu 2004-2008 berfluktuatif dan cenderung menurun. Rata-rata produksi wortel dari tahun 2004-2208 adalah sebesar 1.342,93 ton dengan rata-rata produktivitas sebesar 1,16 ton per hektar. Produktivitas wortel tertinggi dicapai pada tahun 2004, yaitu sebesar 1,46 dengan hasil produksi sebesar 2.004,26 ton dan luas panen 1.371 Ha. Berdasarkan Tabel 2 juga dapat diketahui harga wortel pada tahun 2004-2008. Harga wortel di Kabupaten Boyolali pada tahun 2004-2008 berfluktuasi tajam. Menurut Rachman ( 1997 ) harga komoditas sayuran di Indonesia sangat berfluktuasi. Fluktuasi harga sayuran tidak saja terjadi pada periode tahunan atau bulanan, bahkan dalam satu hari dapat terjadi tiga kali fluktuasi harga. Harga wortel di Kabupaten Boyolali terendah terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar Rp 520,00. Hal ini dikarenakan produksi dan luas areal panen wortel terlalu besar sehingga harga wortel menjadi rendah. Sedangkan harga wortel tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp 5167,00. Hal ini dikarenakan pada tahun 2007 panen wortel di Kabupaten Boyolali tidak bersamaan dengan panen wortel dari daerah lain dan permintaan wortel dari daerah lain masih tinggi, sehingga harga jual wortel juga tinggi. Menurut Dewi ( 2009 ) , walaupun wortel termasuk komoditi berkembang di Kabupaten Boyolali, namun kisaran harga wortel yang cukup tinggi ini mampu memberikan kontribusi yang besar bagi pendapatan petani sayur di Kabupaten Boyolali. Keadaan tersebut mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran wortel di Kabupaten Boyolali dan elastisitas penawaran wortel sebagai akibat adanya perubahan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Fakultas Pertanian
    Fakultas Pertanian > D3 - Agribisnis
    Depositing User: Ardhi Permana Lukas
    Date Deposited: 13 Jul 2013 03:23
    Last Modified: 13 Jul 2013 03:23
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2937

    Actions (login required)

    View Item