Pembuatan Zat Warna Alami dari Buah Mangrove Spesies Rhizophora stylosa Sebagai Pewarna Batik dalam Skala Pilot Plan

Damayanti, Wulan (2016) Pembuatan Zat Warna Alami dari Buah Mangrove Spesies Rhizophora stylosa Sebagai Pewarna Batik dalam Skala Pilot Plan. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (823Kb)

    Abstract

    Berdasarkan sumbernya, zat warna tekstil dapat dibagi menjadi dua macam yaitu zat warna alami dan zat warna sintetis. Zat warna alam diperoleh dari hewan atau tumbuhan, berasal dari akar, batang, daun, buah, dan bunga. Sedangkan zat warna sintetis adalah zat warna buatan yang dibuat dengan proses reaksi kimia. Indonesia memiliki lahan mangrove seluas 4,5 juta ha. Salah satu spesies yang banyak di lahan mangrove adalah Rhizophora stylosa. Saat ini buah mangrove belum banyak dimanfaatkan, padahal buah mangrove (Rhizophora stylosa) banyak mengandung tanin yang merupakan pigmen pewarna alami berupa zat pewarna coklat. Zat pewarna coklat banyak digunakan untuk pewarna batik. Pembuatan zat warna alami dari buah mangrove jenis Rhizophora stylosa dilakukan ekstraksi secara batch dalam skala pilot plan. Kondisi operasi dari percobaan adalah 1 kg buah mangrove di ekstrak dengan pelarut air 10 L pada suhu 100 ºC selama 60 menit. Hasil yang diperoleh dari proses tersebut adalah 6 L zat warna dalam konsentrat tinggi, kemudia dilakukan pencelupan kain ke dalam zat warna dengan waktu perendaman selama 2 jam, 4 jam, 6 jam. Setelah itu dilakukan fiksasi pada kain batik. Fiksator yang digunakan adalah tawas (mengubah warna pada kain batik menjadi lebih cerah), kapur ( mengubah warna pada kain batik menjadi lebih tua ), dan tunjung ( mengubah warna pada batik menjadi lebih gelap). Kain mori primisima yang telah di fiksasi dilakukan pengujian kelunturan terhadap cucian dengan launderometer dan terhadap gosokan dengan crockmeter. Hasil pengujian dianalisa dengan staining scale (skala penodaan) dan gray scale (skala abu-abu). Pengujian dengan skala penodaan dibagi menjadi 2 yaitu dengan gosokan basah dan gosokan kering, diperoleh hasil terbaik dengan menggunakan fiksator tawas pada perendaman 2 jam, sedangkan pada uji terhadap cucian dengan skala abu-abu diperoleh hasil terbaik dengan fiksator kapur pada waktu 2 jam. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil ketahanan luntur terbaik terhadap gosokan adalah dengan menggunakan fiksator tawas dan cucian menggunakan fiksator kapur.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
    Divisions: Fakultas Teknik
    Fakultas Teknik > D3 - Teknik Kimia
    Depositing User: Nanda Rahma Ananta
    Date Deposited: 17 Nov 2016 10:42
    Last Modified: 17 Nov 2016 10:42
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/29081

    Actions (login required)

    View Item