PEMBELAJARAN IPS KAJIAN SEJARAH DENGAN PENDEKATAN DIALOG (Studi Kasus di Sekolah Dasar Negeri 1 Kauman Kelas V Kemusu Boyolali)

SUTRISNO, SUTRISNO (2010) PEMBELAJARAN IPS KAJIAN SEJARAH DENGAN PENDEKATAN DIALOG (Studi Kasus di Sekolah Dasar Negeri 1 Kauman Kelas V Kemusu Boyolali). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1852Kb)

    Abstract

    Kajian pendidikan sejarah di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) masuk kurikulum 2006 yang juga disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata pelajaran IPS memiliki kedudukan yang sama dengan mata pelajaran lain dalam lingkup program pendidikan. Hal ini ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, pasal 6 ayat (5) yang mengatakan bahwa “semua kelompok mata pelajaran sama pentingnya dalam menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah”. Oleh karena itu, mata pelajaran IPS dinyatakan sebagai salah satu mata pelajaran inti yang perlu diberikan kepada peserta didik untuk menunjang tercapainya fungsi dan tujuan umum pendidikan. Menurut Somantri seperti dikutip Sapriya (2009; 11), pendidikan IPS adalah suatu penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-imu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan. Perbedaan istilah IPS dan social studies, IPS adalah merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah atau nama program studi di perguruan tinggi, sedangkan social studies dalam kurikulum persekolahan di negara lain (Sapriya, 2009 : 31). IPS atau social studies, istilah ilmu-ilmu sosial adalah terjemahan dari social sciences. Di samping ilmu-ilmu sosial terdapat pula ilmu-ilmu alam (sciences) dan humanities/humaniora. Ilmu-ilmu alam mempunyai tiga bagian disiplin ilmu utama yaitu biologi, fisika, dan kimia. Sedangkan humanities terdiri sejarah dan sastra. Semua bidang keilmuan dan humaniora berakar pada suatu bidang yang disebut filsafat (Sapriya, 2009 : 20-21). Bisa dikatakan hubungan ilmu sosial dengan pendidikan IPS adalah ilmu sosial merupakan kontribusi pengembangan pendidikan IPS dalam kurikulum sekolah (Sapriya, 2009 : 22). Untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS dalam hal ini kajian sejarah (yang selanjutnya disingkat kajian sejarah), manusia Indonesia menjadi inti sejarah Indonesia, yang harus melukiskan dari segi (1) pertumbuhan sifat kebangsaan sebagai bangsa Indonesia; (2) perjuangannya untuk menjadi bangsa yang bersatu dan merdeka; (3) orang-orang besar serta aliran-aliran, dan paham yang mempengaruhi perjuangan itu, serta gerakan-gerakan massa yang menjadi dasar perjuangan; (4) perjuangan untuk mewujudkan cita-cita kehidupan sebagai bangsa yang bebas, adil, makmur, dan bahagia (Moh, R. Ali, 2005: 350). Untuk mencapai tujuan dan kegunaan sejarah tersebut, diperlukan pendekatan pembelajaran yang dialogis, maka untuk menciptakan kehidupan interaksi mengajar belajar perlu guru menimbulkan teknik tanya jawab atau dialog (Roestiyah, 2008: 129). Pernyataan ini mudah dimengerti, karena kegiatan pembelajaran sejarah (materi sejarah adalah peristiwa masa lalu) akan cenderung membosankan bagi peserta didik, apabila metode ceramah dan mencatat mendominasi pembelajaran. Untuk dapat membangkitkan keaktifan peserta didik, pendidik dituntut untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi aktualisasi peserta didik. Bahkan pendidik sendiri harus berupaya menjadikan aktivitas yang dilakukan sebagai bagian dari aktualisasi diri. Mengajar dan memberi umpan balik pada peserta didik tidak dianggap sebagai beban. Aktivitas kerja telah menjadi bagian bermain, sehingga peluang mengembangkan kreativitas bagi pendidik maupun peserta didik cukup besar. Situasi kondusif bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap kritis dan kreatif bukan hanya sekedar penyesuaian diri terhadap pendidik. Pendidik yang otoriter harus diubah menjadi pendidik yang demokratis. Peristiwa sejarah dijelaskan dan didialogkan dengan pelbagai faktor yang terkait dengan segala kerelatifan dan keunikannya, sehingga dapat menuju pemahaman bahwa tidak ada suatu peristiwa sejarah yang berdimensi tunggal. Sesuai dengan perkembangan arus teknologi dan informasi yang pesat, untuk mendorong peserta didik dalam belajar sejarah diperlukan penggalian dan mencari informasi secara aktif kepelbagai sumber. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar perlu juga dikembangkan cara-cara mengajar yang baru. Diantaranya cara mengajar dengan mempergunakan komputer. Metode mengajar ini dikembangkan berdasarkan komputer merupakan suatu alat yang sangat penting. Dengan bantuan komputer dapat diajarkan cara-cara mencari informasi baru, menjelaskan dan kemudian mengolahnya, sehingga terdapat jawaban terhadap suatu pertanyaan (Roestiyah, 2008: 154). Proses pencarian dan penggalian informasi mendorong peserta didik terlibat dalam proses internalisasi yang terkait dengan kehidupan praktis, sehingga peserta didik semakin kenal dengan cara berdialog. Dialog dengan realitas akan menyadarkan peserta didik, bahwa kebebasan belajar merupakan sesuatu yang inheren dalam diri manusia untuk bertanggung jawab. Tanggung jawab diaktualisasikan dalam kehidupan praktis, sebagai konskuensi dari proses intersubjektif yang dinamis. Menyadari bahwa suatu kebebasan selalu menuntut tanggung jawab, menjadikan peserta didik memahami dirinya sebagai sosok yang “menjadi”, sosok yang belum selesai. Pengembangan potensi diri akan dapat dilakukan dengan mudah dalam proses belajar yang dialogis. Proses pembelajaran yang dialogis menghilangkan budaya indoktrinasi dan menggantikannya dengan proses pembelajaran yang kritis, sehingga tidak terjebak pada pembelajaran yang verbalistis. Pembelajaran sejarah tidak sematamata menekankan daya ingat, melainkan juga daya nalar, pemahaman, dan kemampuan merefleksi, sehingga terjadi proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik Pemikiran dialog ini merupakan pemikiran dialog yang mendalam. Pemikiran dialog yang mendalam bukan pemikiran monolog. Pemikiran monolog adalah pemikiran yang tidak memiliki alternatif, prosedur pembicaraan satu arah, tidak terjadi dialog. Misalnya pemikiran antara buruh dan majikan, pemikiran peserta debat yang saling mempertahankan pendapatnya. Atau persoalan apa saja yang melibatkan seseorang dengan orang atau pihak lain, maka peluang untuk berpolemik dan bahkan dapat berpeluang untuk konfrontasi. Pemikiran dialog, berbeda dengan monolong. Dialog bukanlah debat, atau bahkan negosiasi. Dialog atau komunikasi adalah memberitahukan pesan, pengetahuan, dan fikiran-fikiran dengan maksud mengikutsertakan peran siswa dalam proses pembelajaran, sehingga persoalan-persoalan yang dibicarakan milik bersama, dan tanggung jawab bersama (Martinis Yamin, 2007: 162-163). Pemikiran berkembang sejalan dengan pemikiran dialog. Disini bukan dialog yang dangkal, atau semata-mata mengenai teknik dialog, walaupun itu bermanfaat. Lebih daripada itu sebenarnya adalah berbicara tentang dialog mendalam, adalah cara menemukan dan memahami diri sendiri, orang lain, dan dunia pada tingkat yang dalam. Hal ini membuka kemungkinan memahami makna yang fundamental tentang kehidupan secara individu dan kelompok dengan berbagai dimensinya, yang pada gilirannya mentransformasikan cara menghadapi diri sendiri, orang lain, dan bahkan dunia. Di dalam pembelajaran sejarah, perubahan sikap untuk menanamkan nasionalisme, merupakan tujuan pokok mempelajari sejarah. Di SD materi sejarah yang dikemas pada mata pelajaran IPS, cocok sekali apabila dalam pembelajaran menggunakan metode simulasi. Simulasi sebagai metode, bisa dalam bentuk bermain peran (role playing), dan sosiodrama. Sampai sejauh ini belum ada sejarawan, ataupun teknolog pembelajaran yang memposisikan atau bahkan menjastifikasi bermain peran dan sosiodrama sebagai metode utama dalam belajar sejarah. Penerapan metode yang paling cocok dalam mempelajari sejarah adalah metode yang dikuasai oleh guru yang bersangkutan. Apabila bermain peran dan sosiodrama dikuasai oleh guru, tepat sekali apabila dalam pembelajaran sejarah menggunakan metode bermain peran ataupun sosiodrama. Pendekatan dialog dapat menggunakan berbagai metode, termasuk metode bermain peran, tanya jawab, dan sosiodrama. Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan dialog sebagai suatu pendekatan pembelajaran IPS di sekolah dasar telah dilaksanakan di SDN 1 Kauman Kecamatan Kemusu Kabupaten Boyolali. Hal ini didasarkan pada observasi dan wawancara awal terhadap guru di kelas V, bahwa mereka telah menerapkan pendekatan dialog dalam pembelajaran IPS. Oleh karena itu, penelitian ini ingin melihat fenomena strategi pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog. Selanjutnya akan dianalisis mendalam untuk menemukan perilaku, idea, dan makna yang hakiki dari strategi pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog tersebut. Untuk itu, perhatian diarahkan pada ruang lingkup strategi pembelajaran kajian sejarah yang menggunakan pendekatan dialog meliputi : strategi pengorganisasian materi, strategi penyampaian pembelajaran, strategi pengelolaan pembelajaran, dan faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembelajaran.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: D History General and Old World > D History (General)
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Pendidikan Sejarah - S2
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 13 Jul 2013 00:12
    Last Modified: 13 Jul 2013 00:12
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2882

    Actions (login required)

    View Item