Media komunikasi visual Sebagai penunjang promosi Nasyid zukhruf

Mustaqim, Ahmad (2006) Media komunikasi visual Sebagai penunjang promosi Nasyid zukhruf. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (209Kb)

    Abstract

    Tahun 1990 merupakan tahun awal perkembangan nasyid di Indonesia. Nasyid berbentuk nyanyian bersama untuk melagukan beragam lagu bernuansa religius. Nasyid merupakan generasi yang datang setelah era hadrah, kasidah dan gambus jika dilihat dari sudut waktu populasinya di Indonesia, Indonesia mulai berkenalan dengan nasyid sejak kesenian tersebut digunakan rakyat Palestina sebagai alat perjuangan kemerdekaan negeri mereka. Ditambah lagi di saat kelompok pengajian Darul Arqam di Malaysia mendirikan grup Nadamurni dan The Zikr dalam gaya tanpa alat musik maupun dengan iringan musik perkusi minimalis. Pada awalnya pengaruh nasyid dari Palestina maupun dari Malaysia mulai ditumbuhkan di Indonesia melalui orang-orang Indonesia yang pernah langsung menyaksikan realitas perjuangan rakyat Palestina. Begitu pula yang membawa pengaruh nasyid Malaysia adalah orang-orang Indonesia yang pernah tinggal lama di Malaysia sekaligus sebagai aktivis gerakan Darul Arqam. Gaya nasyid dari Palestina saat itu rata-rata berirama mars tanpa iringan musik, yang sangat membangkitkan semangat perjuangan. Grup nasyid di Indonesia yang bisa diidentikan dengan corak di atas adalah Izzatul Islam, termasuk Snada pada awalnya menganut corak ini. Pada tahun 1996 karena alasan politis, kelompok Darul Arqam dibubarkan oleh Pemerintah Malaysia, yang diikuti dengan berpencarannya grup nasyid Nadamurni dan The Zikr. Sebagaian besar mantan anggota grup nasyid Nadamurni membentuk grup nasyid Rabbani dan The Zikr membentuk grup nasyid Raihan. Dalam waktu singkat model nyanyian “Raihan” akhirnya mampu lebih menghangatkan pertumbuhan nasyid di Indonesia, termasuk juga gaya dan performance-nya. Sekitar tahun 1999 hingga 2002 kebanyakan grup nasyid di Indonesia masih tampak mengidentikkan diri dengan Raihan, misalnya dalam pengucapan kata-kata yang berlogat Melayu. Dalam penggunaan instrumen pun nasyid di Indonesia saat itu tergolong masih sangat mengidentikkan diri dengan Raihan, yaitu hanya menggunakan iringan perkusi saja. Pada saat yang hampir bersamaan pula grup nasyid Snada yang lahir dari FISIP UI Jakarta dengan corak acapella-nya dan Izzatul Islam FMIPA UI dengan corak mars-nya ,mulai mendapat angin segar di negeri sendiri, walaupun bisa dikatakan kalah cepat oleh Raihan, namun grup ini sedikit banyak telah menjadi semacam patokan bagi terbentuknya grup-grup nasyid acapella yang berasal dari kalangan aktivis kerohanian kampus/sekolah hampir di seluruh Indonesia Setelah tahun 2002, sedikit demi sedikit corak nasyid di Indonesia mengalami perubahan. Alat musik kibor, drum, bahkan gitar mulai digunakan oleh beberapa grup nasyid. Dalam perjalanannya hingga saat ini banyak bermunculan grup nasyid di tanah air yang hadir dengan mengusung idealisme mereka masing-masing dalam bernasyid, sehingga terbentuk genre nasyid baru, seperti pop, akustik, acapella, orkestra, jazz, world music, R n B, rap, hip hop dan country. Dapat dikatakan bahwa nasyid berkembang pesat di Malaysia karena dekat dengan budaya melayu bahkan tidak sedikit yang mengadopsinya. Oleh karena itu ketika masuk ke Indonesia dengan mudah masyarakat menerimanya karena kesamaan rumpun budaya pula. Berbeda dengan nasyid Indonesia yang awal kemunculannya merupakan sebuah bentuk solidaritas sesama muslim Palestina, maka penerimaannya pun terbatas pada masyarakat yang memiliki kesamaan visi ideologis. Maka tidaklah mengherankan jika dalam benak sebagaian masyarakat Indonesia bahwa yang menjadi patokan dalam bernasyid adalah Raihan seperti yang dijelaskan di awal. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi grup nasyid dalam negeri untuk mencari identitas untuk dapat diterima oleh masyarakat dalam negeri Ironis memang, ketika dalam sebuah pertunjukan nasyid di tanah air, pihak panitia penyelenggara bersusah payah untuk menghadirkan satu grup nasyid dari luar negeri ( baca: Malaysia) dengan biaya yang tidak sedikit, sementara dengan biaya yang sama bisa untuk menghadirkan lebih dari satu grup nasyid dalam negeri dengan kualitas yang tidak jauh berbeda. Hal itulah yang mendorong penulis untuk ikut terlibat dalam pemberdayaan nasyid lokal, agar dapat mengangkat citra grup nasyid itu sendiri maupun membudayakan nasyid sampai ke pelosok paling kecil negeri ini. Zukhruf, merupakan satu diantara sekian banyak grup nasyid senior di kota Solo, yang berdiri pada tahun 1999 di Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo. Pada awal terbentuknya, semua personil merupakan santri dari pesantren di atas, namun dalam perjalannannya sampai saat ini telah mengalami dua kali re-formasi personil hingga sebagian besar personil yang ada sudah bukan lagi merupakan santri pesantren di atas, sehingga Zukhruf berani menamakan diri sebagai grup nasyid Solo. Dalam bernasyid, grup ini bercorak hybrid, yaitu segalanya bisa dimanfaatkan untuk menunjang keindahan bernasyid, terutama dalam hal instrument musik. Instrumen yang digunakan mulai dari perkusi klasik ( rebana ), perkusi etnik ( conga, bongo, djembe ) sampai alat musik modern ( kibor, gitar, violin ). Dalam perjalanannya yang tidak sebentar dalam bernasyid, telah banyak prestasi yang diraih grup ini baik dalam ajang festival nasyid tingkat regional maupun nasional, sehingga diperlukan usaha lebih lanjut untuk mempromosikan grup nasyid ini ke publik nasyid khususnya dan penikmat musik pada umumnya melalui media komunikasi visual yang terencana untuk meningkatkan citra atau image positif dari grup nasyid ini.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: N Fine Arts > NC Drawing Design Illustration
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa > Desain Komunikasi Visual
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:17
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:17
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2848

    Actions (login required)

    View Item