KANDUNGAN LOGAM DALAM TUBUH CACING LAUT Namalycastis abiuma (Polychaeta : Nereidae) DARI TELUK JAKARTA

Sawestri , Sevi (2006) KANDUNGAN LOGAM DALAM TUBUH CACING LAUT Namalycastis abiuma (Polychaeta : Nereidae) DARI TELUK JAKARTA. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (222Kb)

    Abstract

    Akhir-akhir ini, ekosistem perairan pesisir di Indonesia merupakan kawasan yang banyak mendapat perhatian cukup besar, khususnya berkaitan dengan permasalahan pencemaran logam. Di sisi lain wilayah tersebut memiliki beragam sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan utama, khususnya protein hewani. Dahuri dkk., (1996) menyatakan bahwa secara empiris wilayah pesisir merupakan tempat aktivitas ekonomi yang mencakup perikanan laut dan pesisir, transportasi dan pelabuhan, pertambangan, kawasan industri, agrobisnis dan agroindustri, rekreasi dan pariwisata, serta kawasan pemukiman, dan sekaligus tempat pembuangan limbah. Beragamnya aktivitas manusia di daratan dan di sekitar wilayah pesisir, serta masuknya limbah yang terus menerus dari berbagai kegiatan tersebut, baik limbah padat, gas, maupun cair menyebabkan terjadinya penurunan kualitas perairan pesisir. Hal ini akan mendatangkan masalah lingkungan seperti pencemaran dan kesehatan lingkungan, baik terhadap komunitas organisme perairan pesisir maupun masyarakat di sekitarnya. Bahan pencemar yang berbahaya umumnya berasal dari buangan industri, khususnya industri yang melibatkan logam dalam proses produksinya serta dari kegiatan pemukiman (Palar, 1994). Limbah dari industri kimia pada umumnya mengandung berbagai macam unsur logam tertentu yang mempunyai sifat akumulatif dan beracun (toxic), sehingga membahayakan bagi kehidupan organisme (Wijanto, 2005). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23, Tahun 1997 dalam Anonim (1997) tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, menyatakan bahwa logam berat termasuk salah satu dari komponen bahan beracun dan berbahaya (B3), sehingga dapat membahayakan kesehatan manusia dan kelangsungan mahluk hidup lainnya. Dalam keadaan lingkungan yang tercemar, baik logam esensial maupun nonesensial kadarnya akan meningkat dan menghambat kerja enzim (Darmono, 1995). Oleh karena itu pencemaran logam menjadi perhatian yang serius di berbagai kalangan berkaitan dengan dampak yang ditimbulkannya. Teluk Jakarta yang luasnya kurang dari 490 km2 dengan panjang pantai sekitar 78,3 km, adalah kawasan teluk yang memiliki aktivitas cukup sibuk, karena merupakan pintu gerbang laut DKI Jakarta. Selain sebagai jalur lalu lintas, kawasan Teluk Jakarta juga dimanfaatkan sebagai sarana budidaya hasil laut, rekreasi, dan olahraga, sehingga kawasan ini mempunyai peran penting bagi penduduk di sekitar pesisir Jakarta sebagai sumber perikanan. Pada saat ini, Teluk Jakarta diisukan telah tercemari oleh logam yang berasal dari limbah domestik, kegiatan industri, maupun limbah pertanian dan perkebunan dari kawasan hulu (Bogor dan sekitarnya). Sebanyak lebih kurang 2000 pabrik yang beroperasi di Jakarta dan sekitarnya, serta kegiatan domestiknya telah membuang limbahnya ke sungai-sungai yang bermuara di Teluk Jakarta (Syafei, 1986). Seperti diketahui, kajian kualitas perairan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu analisis fisika dan kimia air serta analisis biologi. Pada perairan yang bersifat dinamis, analisis fisika dan kimia air kurang memberikan gambaran sesungguhnya, hal ini karena adanya penyimpangan-penyimpangan yang disebabkan oleh nilai-nilai peubah yang sangat dipengaruhi oleh keadaaan sesaat. Oleh sebab itu, analisis biologi diharapkan mampu memberikan gambaran kondisi kualitas perairan yang sesungguhnya dan lebih akurat (Darmono, 1995). Dalam memantau pencemaran logam di perairan, maka analisis biota air sangat penting dibandingkan analisis fisika-kimia perairan tersebut. Hal ini disebabkan kandungan logam dalam air dapat berubah setiap saat dan sangat bergantung pada kondisi lingkungan serta iklim, sebaliknya penggunaan indikator biologi dapat bermanfaat untuk alat pemantau secara kontinyu (Darmono, 1995). Komunitas biota perairan menghabiskan seluruh hidupnya di habitatnya, sehingga kandungan logam dalam biota perairan biasanya akan selalu bertambah dari waktu ke waktu karena sifat logam yang “bioakumulatif” (Sastrawijaya, 1991). Melalui sistem metabolisme organisme hidup, maka logam akan terakumulasi secara periodik ke dalam jaringan tubuh. Kadar logam dalam biomassa organisme akan lebih besar dibandingkan kadar logam dalam air maupun sedimen (lumpur) tempat habitat organisme tersebut hidup (Anonim, 2005d). Penelitian tentang kajian kualitas perairan menggunakan biota atau organisme perairan telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Penelitian dari Bapedalda Jakarta (2001) dalam Anonim (2004) menggunakan biota kerang di Muara Ancol, menunjukkan bahwa telah ditemukan logam Cu 1,14 - 1,95 mg/g. Hasil penelitian P4L, DKI Jakarta (1983) dalam Rahmadi (1995), melaporkan bahwa dalam bentos (Onrus sp) mengandung Hg 3776 mg/g dan biota estuari lainnya 208 mg/g. Hasil penelitian Kurniasih (2002) melaporkan bahwa ikan mujair di muara Sungai Badung mengandung Pb 8,863 - 22,009 mg/g, dan Cu 0,292 - 2,273 mg/g. Hasil penelitian Pagoray (2001) melaporkan bahwa dalam daging gastropoda di Kali Donan Cilacap mengandung Hg 0,00128 - 0,03555 mg/g; Cd 0,11042-0,54748 mg/g; sedangkan dalam daging bivalvia mengandung Hg 0,00809 - 0,04019 mg/g dan Cd 0,20397 - 0,71496 mg/g. Polychaeta banyak ditemukan di pantai dan habitatnya cukup unik, yaitu pantai cadas, paparan lumpur, dan sangat umum ditemui di pasir pantai. Beberapa jenis diketahui hidup di bawah batu dan liang batu karang. Meskipun mereka adalah hewan bentik, tetapi beberapa jenis berenang bebas di dekat permukaan laut, terutama selama musim berpijah (Romimohtarto dan Sri Juwana, 2001). Hasil penelitian Kastoro et al. (1989) dalam Al Hakim (1994) menunjukkan bahwa polychaeta mempunyai nilai densitas dan keanekaragaman jenis tertinggi di perairan Teluk Jakarta. Banyak jenis dari anggota kelas polychaeta adalah deposit feeder, yang memanfaatkan partikel organik sebagai bahan makanannya (Day; 1967 dalam Al Hakim, 1994). Salah satu jenis cacing laut yang ditemukan di perairan Teluk Jakarta dan termasuk deposit feeder adalah N. abiuma. Berdasarkan alasan tersebut, maka dilakukanlah penelitian tentang kajian kandungan logam dalam tubuh N. abiuma dari perairan Teluk Jakarta. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang kemampuan cacing laut N. abiuma mengakumulasi sejumlah logam yang terkandung di perairan kawasan Teluk Jakarta. Informasi ini dianggap penting terkait dengan permasalahan pencemaran di perairan Teluk Jakarta. Data yang diperoleh diharapkan dapat digunakan untuk tindak lanjut dalam menangani masalah pencemaran serta tindakan preventif selanjutnya. Pemilihan lokasi pengambilan sampel didasarkan pada isu tentang kasus pencemaran di Jakarta. Selain itu, lokasi sampling (Teluk Jakarta) merupakan kawasan yang cukup padat penduduknya, merupakan daerah hilir dari berbagai kegiatan industri, domestik (rumah tangga), dan perkantoran di Jakarta yang diduga sangat potensial memperoleh cemaran logam yang relatif tinggi.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: Q Science > QH Natural history > QH301 Biology
    Divisions: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam > Biologi
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:17
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:17
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2839

    Actions (login required)

    View Item