DESAIN KOMUNIKASI VISUAL SEBAGAI SARANA PENDUKUNG PERANCANGAN KAMPANYE PENCEGAHAN AIDS DI SURAKARTA

ARUM RATRI, DEWANTI (2006) DESAIN KOMUNIKASI VISUAL SEBAGAI SARANA PENDUKUNG PERANCANGAN KAMPANYE PENCEGAHAN AIDS DI SURAKARTA. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (695Kb)

    Abstract

    AIDS merupakan suatu wabah besar yang muncul dalam kehidupan manusia yang mengancam keselamatan jiwa umat manusia selama beberapa dekade terakhir. AIDS merupakan penyakit pembunuh pertama yang menyerang seluruh dunia. AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah suatu kumpulan dari gejala-gejala penyakit (sindroma) yang diakibatkan oleh menurunnya atau rusaknya sistem daya tahan tubuh karena adanya infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit AIDS diduga pertama kali ditemukan pada tahun 1970-an dalam suatu wilayah kecil di Afrika yang masih belum tersebar kedaerah lain. Pada tahun 1979 mulai menyebar kewilayah lain, termasuk Amerika karena adanya penyebaran dan perpindahan penduduk ke negara lain. Dengan adanya laju pertumbuhan yang cepat maka penyebaran dan penularan AIDS semakin meningkat tajam. Penyakit AIDS sampai sekarang belum ditemukan obat untuk menanggulanginya. Selama bertahun-tahun para ahli dibidang kesehatan mencoba melakukan berbagai penelitian untuk mencari vaksin atau obat yang dapat menghindarkan penderita dari kematian. Tetapi sampai sekarang vaksin tersebut belum ditemukan, dan setiap penderita AIDS selalu berakhir pada kematian. Seluruh dunia sadar akan bahaya AIDS yang akan terus ada pada masa mendatang. WHO sebagai Organisasi Kesehatan Dunia, pada tahun 1987 mencanangkan usaha penanggulangan AIDS sedunia dengan nama Global Program on AIDS, dan resmilah penyakit AIDS sebagai penyakit mematikan yang harus diperangi bersama-sama. Kini lebih dari 23 juta baik pria, wanita, dan anak-anak yang tersebar diseluruh dunia ini telah terjangkit penyakit tersebut. Dengan perkiraan dari data terakhir 38 juta manusia dipelosok bumi hidup bersama virus HIV, dan penderita akan semakin bertambah seiring dengan kehidupan yang mengharuskan adanya kontak dalam social community. Berikut ini merupakan beberapa fakta mengenai penyebaran AIDS didunia : 1. 2,9 juta manusia meninggal dunia karena AIDS pada tahun 2003, dan hampir setengah juta adalah anak-anak dibawah usia 15 tahun. 2. 4,8 juta manusia terinfeksi virus HIV pada tahun 2003, dalam 1 hari diprediksi setiap 14.000 manusia mempunyai kemungkinan terjangkit virus ini. 3. 25 juta anak-anak akan kehilangan orang tua di tahun 2010 karena AIDS 4. 38 juta manusia sekarang ini tinggal berdampingan dengan HIV/AIDS 5. 70 juta kematian akibat AIDS diperkirakan akan terjadi dalam 20 tahun mendatang. Diakhir tahun 2004, 700 ribu orang yang hidup dengan HIV/AIDS dibanyak negara berkembang telah mendapatkan pengobatan antiretroviral (ART), berkat kepedulian pemerintah pada masing-masing negara, para lembaga donor, dan mitra lainnya untuk memperlambat kinerja virus tersebut dalam tubuh penderita. Indonesia sendiri telah kehilangan peluang untuk menangkal percepatan penularan HIV. Menurut UNAIDS, lembaga Internasional Program PBB mengenai HIV- AIDS, kerusakan yang diakibatkan wabah AIDS akan meningkat beberapa kali lipat dalam beberapa dasawarsa mendatang, kecuali perang melawan penyakit ini secepatnya dapat dimaksimalisasikan. Hal yang paling mengkhawatirkan, sekitar 21,5 juta anak remaja dan kaum muda didunia ini mempunyai resiko tertinggi tertular AIDS. Indonesia sebagai negara berkembang tergolong negara dengan epidemi terkonsentrasi. Tingkat penularan HIV/AIDS pada subpopulasi tertentu mengalami pertumbuhan cepat. Penemuan AIDS di Indonesia dimulai pada tahun 1987 di Bali, dimana AIDS dianggap sebagai penyakit asing yang dibawa oleh turis dari luar Indonesia dan bukan merupakan permasalahan yang serius jika ditinjau dengan jumlah penderita AIDS yang masih rendah dengan perbandingan penyakit lain seperti wabah penyakit kolera. Masyarakat pada saat itu merasa dalam situasi yang aman, hal ini dikuatkan dengan adanya laporan dari media dan pernyataan-pernyataan yang dibuat petugas kesehatan dan para ahli bahwa penyakit tersebut tidak terlalu berbahaya. Indonesia sebagai negara dengan wilayah nusantara yang luas dengan banyak pelabuhan memungkinkan warga Indonesia selalu berinteraksi dengan orang asing. Pergerakan masyarakat dari satu negara ke negara lain melalui pelabuhan serta meningkatnya industri sex terselubung memperluas dan meningkatkan penyebaran HIV kepada masyarakat umum sampai sekarang. Departemen Kesehatan RI telah menetapkan 25 rumah sakit (RS) diseluruh Indonesia sebagai pelaksana proyek percontohan Klinik VCT (Voluntary Counselling Test) atau konseling dan tes sukarela HIV/AIDS, tetapi jumlah tersebut tergolong masih kecil dan rata-rata berlokasi didaerah perkotaan, sehingga di daerah-daerah banyak yang tidak terjangkau karena mengingat luasnya wilayah Indonesia secara geografis. Jawa Tengah sebagai daerah dengan populasi cukup besar, sampai pada tahun 2004 tercatat proporsi HIV sebesar 67% untuk perempuan, dan 33% untuk laki-laki. Sedangkan untuk penderita AIDS, 8% perempuan, dan 92% laki-laki. Jumlah kasus yang terdeteksi dan terlapor pada akhir tahun 2004, jumlah penderita HIV positif sebanyak 308 kasus, dan AIDS sebanyak 29 kasus dengan tingkatan umur terbanyak usia 20-24 tahun. Daerah Surakarta sebagai kota budaya yang mulai mengalami perkembangan sangat beresiko terhadap penyebaran AIDS. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surakarta jumlah penderita AIDS dan HIV pada akhir tahun 2004 secara keseluruhan terdapat jumlah kasus 17 penderita HIV positif dan 2 penderita AIDS. Kasus terbanyak adalah para pelaku heteroseksual (berbeda lawan jenis ), dengan usia terbanyak penderita HIV dan AIDS adalah usia 25-30 tahun, tetapi ada juga kasus yang melibatkan para pelaku sesama lawan jenis. Jumlah tersebut merupakan jumlah minimal yang telah didata atas kerjasama dengan pihak Rumah Sakit, Lembaga Pemasyarakatan, PMI, dan lembaga lainnya. Jumlah tersebut diyakini akan terus bertambah, karena masih banyaknya industri sex terselubung dan maraknya penggunaan narkoba dikalangan para remaja usia sekolah dan Perguruan Tinggi, yang merupakan sarana penyebaran AIDS tercepat khususnya di wilayah Surakarta. Penyebaran AIDS yang begitu cepat dapat menghancurkan kehidupan manusia, khususnya para penderita walaupun masing-masing memiliki perbedaan usia, jenis kelamin, ras, agama, dan termasuk warga negara yang berperilaku kurang sesuai dengan aturan hukum. Perilaku yang tidak sesuai dengan norma, seperti penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, freesex, menjadi penyebab lain cara penularan virus HIV. Perilaku tersebut terkait dengan adanya proses akulturasi atau penyerapan budaya asing kedalam budaya pribumi yang lambat laun mempengaruhi sistem kehidupan sosial dalam masyarakat. Berbagai kampanye maupun penyuluhan-penyuluhan di kota Surakarta tentang HIV/AIDS beserta penyakit masyarakat yang menjadi media utama penyebarannya, belum efektif dan kurang mencapai sasaran yang diinginkan. Menyadari komponen terpenting adalah program pemberian informasi untuk menggugah kesadaran masyarakat dalam pengurangan laju penyebaran virus, maka diperlukan kerjasama antara individu, pemerintah, LSM, media, dan berbagai lembaga terkait lainnya untuk bersatu memerangi AIDS. Salah satu penunjang pemberian informasi adalah dengan melakukan kampanye secara berkala melalui media desain komunikasi visual, yaitu sarana komunikasi informatif yang mengajak dan memperingatkan masyarakat terhadap potensi AIDS dalam wilayah Surakarta.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: N Fine Arts > NC Drawing Design Illustration
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa > Desain Komunikasi Visual
    Depositing User: Users 834 not found.
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:17
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:17
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2832

    Actions (login required)

    View Item