PEMANFAATAN SERAT SABUT KELAPA DENGAN TEKNIK ATBM SEBAGAI ARMATUR LAMPU

Faradina, (2010) PEMANFAATAN SERAT SABUT KELAPA DENGAN TEKNIK ATBM SEBAGAI ARMATUR LAMPU. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1214Kb)

    Abstract

    Tekstil adalah sebuah benda atau barang yang bahan bakunya berasal dari serat, baik serat alam maupun serat buatan; baik ditenun maupun tidak ditenun. Proses menganyam atau proses menenun dapat dilakukan dengan ATM (Alat Tenun Mesin) atau ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Kain tenun dibuat dari pengayaman antara pakan (lebar kain) dan lusi (panjang kain), bisa mengunakan serat yang sudah dipintal yang disebut dengan benang atau serat yang masih asli atau belum melalui proses pemintalan. Serat merupakan bahan baku yang paling utama untuk tekstil. ”Serat adalah benda padat yang mempunyai ciri atau bentuk khusus yaitu ukuran panjangnya relatif lebih besar dari diameternya, lembut, tipis, dan memiliki sifat tahan terhadap lenturan maupun tekanan dan pluntiran sehingga dapat dipilin dengan baik” (Hartanto & Watanabe, 1980: 2). Sifat pengolahan serat harus dilakukan berdasarkan pada sifat-sifat seratnya, karena bentuk dan sifat serat akan menentukan hasil dari tekstil tersebut. Serat dibagi menjadi dua macam, yaitu serat alam dan serat buatan. Serat alam terdiri dari serat nabati seperti kapas, linen, rami, kapok, rosela, jute, sisal, manila, coconut, daun, sabut dan serat hewani seperti wool, sutera, cashmere, llama, unta. Serat buatan seperti rayon, acetate, dan polyester. Coconut atau kelapa adalah salah satu serat alam yang kurang popular dibanding serat-serat alam lainnya. Bahkan sabut kelapa dikatakan sebagai limbah, padahal serat 2 ini memiliki potensi untuk dapat dikembangkan menjadi suatu produk tekstil yang memiliki nilai jual tinggi dan diminati. Sebagai negara kepulauan dan berada di daerah tropis, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa yang utama di dunia. ”Pada tahun 2007, luas areal tanaman kelapa di Indonesia mencapai 3,76 juta Ha, dengan total produksi diperkirakan sebanyak 14 milyar butir kelapa” (2008). Kelapa mempunyai nilai dan peran yang penting baik ditinjau dari aspek ekonomi maupun sosial. Peranan tanaman kelapa sebagai sub sektor perkebunan dalam menjaga kestabilan dan pemerataan pembangunan cukup signifikan di dalam perekonomian nasional dan sosial, yaitu sebagai penyedia lapangan pekerjaan, sumber pendapatan, dan devisa Negara (Soedijanto & Sianipar, 1991: 11). Kelapa merupakan produk industri yang mempunyai peluang pasar cukup besar, produk-produk olahan kelapa seperti santan awet, krim kelapa, gula kelapa, tepung kelapa, nata de coco, minyak kelapa, minyak goreng kelapa, kopra, bungkil kelapa, dan arang aktif adalah produk-produk yang sudah memiliki pangsa-pangsa pasar sendiri. Industri pengolahan kelapa umumnya masih terfokus kepada pengolahan hasil daging buah kelapa sebagai hasil utama, sedangkan industri yang mengolah hasil samping kelapa seperti: air , tempurung kelapa, dan sabut masih sangat minim. Sabut kelapa merupakan hasil samping, dan merupakan bagian yang terbesar dari buah kelapa, yaitu sekitar 35 persen dari bobot buah kelapa. ”Dengan demikian, apabila secara rata-rata produksi buah kelapa per tahun adalah sebesar 5,6 juta ton, maka berarti terdapat sekitar 1,7 juta ton sabut kelapa yang dihasilkan” (Soedijanto & Sianipar, 1991: 11). Potensi produksi sabut kelapa yang sedemikian besar belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan nilai 3 tambah. Karena itu pemanfaatan sabut kelapa dengan kreatif dinilai akan sangat efisien dan bisa memberikan image yang berbeda pada sabut kelapa. Serat sabut kelapa memiliki tekstur kasar dan kaku, sehingga serat sabut kelapa sangat kurang diminati. Secara tradisionil serat sabut kelapa hanya dimanfaatkan untuk bahan pembuat sapu, keset, tali dan alat-alat rumah tangga lain. Kurangnya pengetahuan sebagian orang tentang tenun ATBM juga merupakan kendala utama kurang berkembangnya serat-serat alam seperti contohnya sabut kelapa. Perkembangan teknologi dan kesadaran konsumen untuk kembali ke bahan alami, kiranya akan membuat serat sabut kelapa dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dan akan diminati konsumen. Sabut kelapa memiliki potensi untuk dapat dikembangkan menjadi suatu produk tekstil yang memiliki nilai jual tinggi dan diminati. Produk tekstil adalah hasil pengolahan lebih lanjut dari tekstil, baik yang setengah jadi maupun yang telah jadi. Termasuk dalam produk tekstil adalah bahan untuk pakaian jadi (garment), bahan untuk kebutuhan rumah tangga, bahan untuk kebutuhan industri, dan juga bahan untuk kebutuhan-kebutuhan lain seperti misalnya bahan untuk kebutuhan interior. Bahan interior sendiri sebenarnya terbagi menjadi dua kelompok, yaitu interior dinamis seperti interior untuk alat transportasi; bus, kereta api, pesawat terbang, kapal laut dan sebagainya serta interior statis seperti rumah tinggal, kantor, rumah sakit dan seterusnya. Interior statis yaitu interior sebagai bagian dari bangunan langit-langit, dinding, lantai, termasuk jendela dan pintu serta pengisi interior seperti produk-produk yang berupa perabot dan perlengkapannya. Interior statis maupun dinamis senantiasa memerlukan produk pelengkap. Lampu adalah salah satu produk pelengkap interior yang memerlukan tekstil sebagai 4 bahan pelapisnya. Lampu tidak hanya memiliki fungsi sebagai media penerangan, pada siang hari ketika lampu tidak dinyalakan, lampu tetap memiliki fungsi estetis. Bentuk, ornament serta keunikan dari lampu tersebut dapat menjadi media penghias di suatu ruangan tanpa harus menyalakan lampunya. Pada malam hari dengan pemilihan jenis lampu dan penataan pencahayaan yang tepat, akan dapat menghadirkan efek cahaya yang bisa meningkatkan kualitas keindahan, estetis, dan menghadirkan suasana ruang yang menarik, hangat, dan dramatis. Selain itu, lampu juga dapat berfungsi sebagai salah satu elemen interior yang sangat berperan dalam menciptakan nuansa pada sebuah ruangan. Lampu bisa mempengaruhi desain atau tatanan rumah secara keseluruhan, terutama pada malam hari, yaitu pada saat dinyalakan. Saat berperan sebagai sumber penerangan, lampu bukan hanya menjadi elemen tambahan, namun juga pusat perhatian. Keistimewaan inilah yang membuat dunia desain lampu berkembang pesat dan menjadi pusat perhatian. Bentuk, motif, bahan, dan warna yang artistik, memungkinkan kita untuk dapat menyesuaikan lampu dengan ruangan yang ada. Kini, lampu bisa diibaratkan seperti fashion. “Jika dulu lampu fungsinya hanya sebagai alat penerang tanpa mempedulikan model dan bentuk, sejak tahun 90-an fungsi itu sudah bergeser. Orang mulai menganggap lampu sebagai pelengkap yang penting dalam sebuah rumah, bahkan lampu diibaratkan sebagai sebuah trend” (Susilowati, 2005: 43). Melihat pertimbangan-pertimbangan diatas, membuat penulis ingin melakukan sebuah perancangan untuk mengetahui proses tenun ATBM modifikasi serat alam dan memberi alternatif dalam dunia tekstil, khusunya tenun ATBM. Berdasarkan 5 karakteristik sabut kelapa yang kaku dan kasar maka visualisasi akan diarahkan pada tekstil interior, yaitu untuk armatur lampu hias. Disini penulis juga ingin mengubah image sabut kelapa dari yang tidak berguna menjadi suatu produk yang bernilai. Mengingat bahwa iklim di Indonesia adalah iklim tropis, sehingga pemanfaatan bahanbahan alam sebagai bahan baku dinilai akan sangat fleksibel. Selain itu kesadaran konsumen terhadap kelestarian lingkungan dan kecenderungan untuk kembali menggunakan produk alam, menyebabkan serat sabut kelapa mempunyai peluang pasar dan mampu bersaing dengan produk-produk sintetis.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa > Kriya Seni
    Depositing User: Isro'iyatul Mubarokah
    Date Deposited: 12 Jul 2013 21:54
    Last Modified: 12 Jul 2013 21:54
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2767

    Actions (login required)

    View Item