Community Relation dan Citra Lembaga Studi Mengenai Aktifitas Community Relation Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Dalam Membentuk Citra Positif Pada Komunitas Masyarakat Ngruki, Cemani, Sukoharjo Dalam Menghadapi Isu Terorisme di Indonesia

Nursidiq, Yusuf (2010) Community Relation dan Citra Lembaga Studi Mengenai Aktifitas Community Relation Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Dalam Membentuk Citra Positif Pada Komunitas Masyarakat Ngruki, Cemani, Sukoharjo Dalam Menghadapi Isu Terorisme di Indonesia. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (2024Kb)

    Abstract

    Agar suatu lembaga dapat dipercaya oleh masyarakat, maka suatu lembaga perlu mempertahankan citra atau image yang baik, yang akan membina dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut. Hubungan seperti ini disebut dengan community relation. Hubungan dengan komunitas (community relation) merupakan partisipasi suatu lembaga yang berencana, aktif dan sinambung dengan masyarakat di dalam suatu komunitas untuk memelihara dan membina lingkungannya demi keuntungan kedua belah pihak, lembaga dan komunitasnya.1 Community Relation adalah salah satu program Humas yang sangat mempengaruhi keberlangsungan suatu organisasi atau lembaga. Humas (Hubungan Masyarakat) merupakan salah satu aspek manajemen yang diperlukan oleh setiap organisasi, baik itu organisasi yang bersifat komersial maupun non komersial, mulai dari yayasan, perguruan tinggi, hingga lembaga-lembaga pemerintahan. Kehadiran humas sangat dibutuhkan karena humas merupakan salah satu elemen yang menentukan kelangsungan organisasi. Humas banyak dipraktekkan di berbagai organisasi atau lembaga, Pada dasarnya, humas selalu berkenaan dengan kegiatan penciptaan, pemahaman melalui pengetahuan dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan akan muncul suatu dampak, yakni perubahan positif. Salah satu obyek humas yang penting bagi keberlangsungan suatu organisasi atau lembaga adalah adanya hubungan dengan komunitas sekitar. Komunitas adalah sekelompok orang yang hidup di tempat yang sama, berpemerintahan sama dan mempunyai kebudayaan dan sejarah yang umumnya turun temurun. Orang-orang yang hidup dalam berkomunitas dengan lembagalembaganya membuat mereka saling bergantung satu dengan yang lainnya. 2 Begitu juga yang harusnya dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan seperti pondok pesantren. Institusi Pendidikan Agama Islam ini dituntut untuk menjaga hubungan baik dengan komunitas agar memperoleh dukungan dan citra positif di masyarakat. Salah satu cara untuk mengharmoniskan hubungan pondok pesantren dengan komnitas adalah melalui kegiatan community relation (hubungan dengan komunitas). Sebab pondok pesantren mempunyai tanggung jawab sosial terhadap komunitas masyarakat dimana pondok pesantren itu berdiri. Selain itu dengan adanya community relation akan menjadi jembatan komunikasi antara pondok pesantren dan masyarakat, sehingga akan berdampak pada pembentukan citra positif pada lembaga tersebut. Salah satu pondok pesantren yang harus mempertahankan hubungannya dengan komunitas adalah Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki. Pondok Pesantren ini memiliki para santri tidak hanya berasal dari Surakarta dan sekitarnya, namun mereka datang dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia dengan latar belakang yang sangat beragam. Para santri yang berjumlah kurang lebih 2.000 adalah terdiri dari santriwan (santri putra) ataupun santriwati (santri putri) yang berasal dari kalangan petani, nelayan, buruh, pedagang, pegawai negeri, TNI/Polri, swasta, pengusaha dan lain-lain. Pondok pesantren yang terletak di kelurahan Cemani, Sukoharjo ini sering mendapatkan isu yang negatif di media massa. Apalagi dengan maraknya isu terorisme pada tahun 2009. Seperti peristiwa ledakan bom di hotel JW. Marriott dan Ritz Cariton, Jakarta pada tanggal 17 juli 2009. Ngruki kembali disebut-sebut menyusul terjadinya ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz- Carlton, Mega Kuningan. Nur Said alias Nur Hasbi, yang diduga kuat sebagai pelaku bom bunuh diri adalah alumnus Ngruki.3 Sebelumnya pemberitaan majalah Time edisi 23 September 2002, menyebutkan keterlibatan pendiri Al-Mukmin, Ustad Abu Bakar Ba‘asyir, dalam jaringan terorisme internasional dan Jamaah Islamiyah (walaupun tuduhan ini sama sekali tidak terbukti), Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki menjadi banyak dikunjungi wartawan. Sehingga Ngruki kemudian dianggap sebagai salah satu koneksi penting jaringan Jamaah Islamiyah. Isu itu berbunyi : mereka melatih santrinya dengan latihan militer sehingga tempat itu menjadi lokasi persemaian subur bagi gerakan Islam radikal di Asia Tenggara. Bahkan semenjak hari itu, siang malam puluhan kamera televise, video, foto menyisir setiap sudut dan pojok pondok. Dari pintu gerbang, ruang belajar, asrama, hingga dapur.4 Disadari atau tidak, pada dasarnya pengaitan isu terorisme dengan agama mempunyai tujuan untuk mendeskriditkan pemeluk agama tertentu. bahkan ajaran agama tersebut selalu dicurigai. Seperti yang diungkapkan Sekretaris Umum MUI Jateng, Ahmad Rofiq Jumat, 14 Agustus 2009. ―Menurutnya saat ini banyak pihak yang memandang teroris berasal dari pesantren. Padahal tidak semua tersangka atau pelaku aksi teror berlatarbelakang pesantren. Namun para pelakunya juga bisa berasal dari latar belakang yang lain. Tidak menutup kemungkinan dari perguruan tinggi. Namun setiap ada aksi teroris yang menjadi sasaran selalu ponpes.‖5 Isu terorisme telah membawa dampak negatif terhadap pondok pesantren secara luas seperti halnya Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki.. Institusi pendidikan Agama Islam ini mendapat setigma dan implikasi yang sangat merugikan eksistensi dan reputasinya sebagai lembaga pendidikan agama Islam. Salah satu implikasi yang paling dirasakan pondok pesantren adalah, semua gerak-gerik pondok pesantren selalu dicurigai karena takut akan menimbulkan kekerasan atau tindakan teror. Meskipun tuduhan pesantren sebagai sarang teroris tidak membuat pesantren ditingalkan masyarakat, namun tuduhan ini menimbulkan pandangan negatif terhadap pendidikan sebagian pondok pesantren di Indonesia, diantaranya pondok pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo. Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo, sudah selayaknya memberikan pelayanan dan komunikasi yang sebaik-baiknya kepada masyarakat agar citra positif selalu muncul di benak masyarakat. Seperti pernyataan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma`ruf Amin dalam acara Rapat Koordinasi Daerah MUI wilayah III (Jatim, Bali, NTB dan NTT), di Senggigi Lombok Barat, Selasa (21/7) malam, mengatakan, sebenarnya pelaku-pelaku peledakan bom yang terjadi selama ini dengan mengatasnamakan agama terprovokasi oleh orang luar bukan dari dalam pondok pesantren itu. Oleh sebab itu, pandangan masyarakat luas tentang pondok pesantren sebagai lembaga yang mencetak pelaku teror bom harus diluruskan. "Kita harus meluruskan pandangan itu, jangan pondok pesantren dicap sebagai pencetak santri peneror bom," tegasnya.6 Reputasi atau citra pondok pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo akan dipengaruhi oleh kegiatan humas atau community relation ini. Apalagi dengan maraknya isu terorisme yang telah membawa dampak negatif terhadap pondok pesantren. Peran humas dalam hal ini community relation dituntut harus mampu berperan aktif sebagai penghubung antara lembaga dalam hal ini Pondok Pesantren Al Mukmin dan masyarakat sekitar Pondok. Melalui komunikasi yang harmonis, humas diharapkan dapat membantu mengetahui sikap dan opini publik, sekaligus sebagai titik tolak antisipasi persepsi negatif terhadap lembaga yang mana dapat mengancam jatuhnya citra lembaga itu.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 12 Jul 2013 21:25
    Last Modified: 12 Jul 2013 21:25
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2744

    Actions (login required)

    View Item