INOVASI DAN PENINGKATANSLOW RELEASE-NITROGEN FERTILIZERDARI LIMBAH BULU AYAM TERHIDROLISIS DENGAN ZEOLIT

Ryan Yulianto, Erick and Dermawan, Saga and Dyah Mayasari, Oktaviana (2016) INOVASI DAN PENINGKATANSLOW RELEASE-NITROGEN FERTILIZERDARI LIMBAH BULU AYAM TERHIDROLISIS DENGAN ZEOLIT. Universitas Sebelas Maret, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF
Download (58Kb) | Preview

    Abstract

    Controlled Release System (CRS) merupakan suatu teknik untuk mengaturlaju pelepasan suatu senyawa pada suatu bahan aktif yang dikendalikan sesuai dengan kebutuhan molekul target dengan cara memperpanjang waktu pelepasan. Aplikasi CRS telah digunakan dalam berbagai bidang baik dalam bidang industri, farmasi maupun pertanian. Indonesia sebagai negara agraris, budidaya tanaman pertanian di Indonesia masih menggantungkan sepenuhnya pada pupuk. Namun demikian, pemakaian pupuk selama ini masih menggunakan pupuk secara konvensional yang dinilai memiliki beberapa kelemahan yaitu rendahnya efisiensi pemupukan dan menimbulkan masalah pada lingkungan. Oleh karena itu dibuat pupuk slow release dengan mencampurkan bulu ayam kering dan zeolit sebagai bahan aktif. Salah satu bahan untuk pembuatan SRF yang menggunakan teknologi matriks yaitu zeolit. Zeolit merupakan senyawa alumino silikat hidrat terhidrasi dari logam alkali dan alkali tanah dengan rumus umum Lm Alx Si O2nH2O (L=logam). Sifat umum zeolit adalah merupakan kristal yang agak lunak berwarna putih coklat atau kebiru-biruan. Berat jenisnya berkisar antara 2-2,4. Kristal zeolit berwujud dalam struktur tiga dimensi yang mempunyai rongga-rongga yang berhubungan satu sama lainnya membentuk saluran kesegala arah dengan ukuran saluran dipengaruhi oleh garis tengah logam alkali atau alkali tanah yang terdapat pada strukturnya. Di dalam saluran tersebut akan terisi oleh air yang disebut sebagai air kristal. Air kristal ini mudah dilepas dengan cara melakukan pemanasan, mudah melakukan pertukaran ion-ion dari logam alkali atau alkali tanah dengan elemen lainnya. Ada beberapa kelebihan yang dimiliki SRF dibandingkan dengan pupuk kimia konvensional. Pertama, SRF dapat mengurangi inefisiensi penggunaan pupuk yang dipakai oleh petani. Saat ini efisiensi penyerapan pupuk oleh tanaman hanya sekitar 40%. Dengan menggunakan pupuk SRF dapat meningkatkan efisiensi penyerapan pupuk oleh tanaman menjadi 65-70%, sehingga terjadi peningkatan efisiensi 25-30%. Selain itu SRF juga diberikan dengan dosis 40 - 50% dari yang biasa diberikan oleh petani. Kedua, aplikasi pemupukan SRF hanya satu kali dilakukan dalam satu musim tanam. Dibandingkan dengan urea pril yang diberikan 2-3 kali, maka pupuk SRF tersebut dapat menghemat biaya tenaga kerja. Ketiga, penggunaan zeolit dalam formula SRF dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah, karena zeolit mempunyai kapasitas tukar kation (KTK) yang cukup tinggi. Tanah yang mempunyai KTK tinggi merupakan salah satu indikator tanah yang subur. Keempat, SRF merupakan pupuk ramah lingkungan. SRF dibuat dengan memformulakan bahan pupuk kimia dengan metrik zeolit alam yang dibuat dalam bentuk granule dengan ukuran 3-5 mm dengan menggunakan binder yang mudah diurai oleh mikroorganisme (biodegradable). Tentunya pupuk SRF ini tidak akan berdampak negatif pada lingkungan karena semua bahan yang dipilih berasal dari alam.

    Item Type: Other
    Subjects: Q Science > QD Chemistry
    Divisions: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
    Depositing User: Ana Ana Ana
    Date Deposited: 28 Jun 2016 14:40
    Last Modified: 28 Jun 2016 14:40
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/27428

    Actions (login required)

    View Item