Pengaruh Motif, Pola Penggunaan Flexi Milis Dan Kepuasan Pelanggan Di Kalangan Komunitas (Studi Korelasi Pengaruh Motif, Pola Penggunaan Flexi Milis sebagai Media Komunikasi Efektif dan Kepuasan Pelanggan di Kalangan Komunitas Solo Youth Heritage )

Pramita Maharani, Dian (2010) Pengaruh Motif, Pola Penggunaan Flexi Milis Dan Kepuasan Pelanggan Di Kalangan Komunitas (Studi Korelasi Pengaruh Motif, Pola Penggunaan Flexi Milis sebagai Media Komunikasi Efektif dan Kepuasan Pelanggan di Kalangan Komunitas Solo Youth Heritage ). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (2459Kb)

    Abstract

    Industri seluler memang memiliki peranan besar dalam penguasaan teknologi informasi di Indonesia. Hal ini dikarenakan industri seluler memiliki sifat massal dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Saat ini teknologi seluler tidak terbatas pada kalangan perusahaan, namun juga kalangan masyarakat. Siapapun dapat memiliki dan menggunakan akses teknologi komunikasi tersebut. Apabila dilihat dari segi penerapan teknologi, telepon genggam atau yang lebih dikenal dengan handphone membutuhkan biaya yang tidak terlalu mahal dibandingkan dengan teknologi telepon tetap. Hal ini membuat teknologi seluler dapat dipergunakan oleh siapapun. Dunia industri seluler cukup berperan besar dalam mempercepat penguasaan teknologi informasi di Indonesia. Hal ini memberikan kenyamanan yang dibutuhkan oleh pengguna telepon seluler, konsumen dapat menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Adanya kebebasan dalam menentukan pilihan tersebut dapat terlihat dari tidak adanya paksaan untuk tetap bertahan di satu operator, melainkan dapat berpindah operator semudah mungkin, khususnya pengguna kartu prabayar. Industri telepon seluler mengalami perkembangan yang pesat dalam dua dekade terakhir ini, baik di negara maju ataupun sedang berkembang. Di Indonesia pun telepon seluler telah mengubah peta industri telekomunikasi secara radikal. Dimana telepon yang dulunya merupakan barang mewah, sehingga hanya kelompok tertentu yang bisa menikmatinya, sekarang dengan mudah mendapatkannya, murah lagi, baik dalam sarana telekomunikasi fixedline wireline ataupunfixedline wireless serta seluler. Semua lapisan masyarakat memiliki akses untuk dapat menggunakan sarana telekomunikasi untuk berbagai keperluan, baik untuk urusan bisnis, keluarga, ataupun keperluan lainnya. Demikian juga semua lapisan masyarakat dari lapisan elit sampai pembantu rumah tangga dari kota besar ataupun pelosok-pelosok di seluruh Indonesia dapat mengakses sarana telekomunikasi yang ada. Apalagi program universal service obligation (USO) sudah menjadi program pemerintah dalam beberapa tahun terakhir ini. Sehingga pelayanan jasa telekomunikasi dibawa ke daerah-daerah terisolir, meskipun hasilnya masih belum memuaskan. Akhir-akhir ini kita melihat persaingan yang semakin ketat antar operator dalam menarik konsumen supaya tertarik untuk menggunakan produknya, khususnya untuk fixedline wireless ataupun seluler. Bahkan dalam beberapa media kita saksikan perang harga untuk menarik pelanggan dilakukan oleh berbagai operator, sampai-sampai ada yang menawarkan sms gratis ataupun percakapan gratis guna menarik konsumen. Sehingga masyarakat ataupun konsumen pun yang mulai cerdas juga banyak memanfaatkan perang harga tersebut untuk mendapatkan harga termurah dengan sering berganti operator ataupun memiliki beberapa jasa pelayanan dari beberapa operator. Oleh karena itu pasar telepon seluler di Indonesia diperkirakan memiliki tingkat perputaran pelanggan bulanan tertinggi di dunia. Pelanggan telepon seluler di Indonesia begitu mudah untuk berganti nomor telepon ke operator lain. Hal ini tidak terlepas dari persaingan antar operator telekomunikasi di Indonesia. Angka perputaran pelanggan telepon seluler di Indonesia diperkirakan mencapai 8,6 persen dalam sebulan. Sementara angka perputaran pelanggan di India mencapai 4 persen per bulan, Malaysia 3,7 persen per bulan, Philipina 3,1 persen per bulan, Thailand 2,9 persen per bulan, Cina 2,7 persen per bulan, dan Bangladesh 2,1 persen per bulan (Tempo, 2007). Perkembangan yang pesat pada industri telekomunikasi akhir-akhir ini terutama didorong oleh pekembangan yang pesat dari pasar seluler. Dimana sejak awal perkembangannya produk seluler berbeda dengan telepon tetap dengan jaringan kabel yang dimonopoli oleh PT Telkom. Sementara telepon seluler sejak awal sudah tidak ada hambatan masuk pasar bagi operator yang berminat dalam bisnis ini, sehingga persaingan antar operator dalam pasar ini cukup sengit. Bahkan akhir-akhir ini sudah menjurus pada perang harga. Dalam penjelasan berikut akan kita lihat betapa perkembangan pasar seluler yang pesat juga diikuti dengan persaingan yang semakin ketat antar operator, sehingga pelayanan yang ada di pasar juga semakin beragam dengan berbagai fitur yang semakin menarik, jangkauan yang semakin luas, dan harga yang semakin murah. Sehingga manfaat yang diterima oleh masyarakat dengan semakin berkembangnya pasar seluler dapat dirasakan oleh masyarakat umum. Pada awalnya, teknologi CDMA digunakan untuk kalangan militer karena kebal terhadap gangguan (anti jamming) dan bebas penyadapan (anti-intercept). Pada tahun 1989 Qualcomm, sebuah vendor telekomunikasi Amerika Serikat, memperkenalkan teknologi ini untuk kepentingan sipil, tiga bulan setelah Celluler Telecommunications Industry Association (CTIA) atau asosiasi industri telekomunikasi seluler di Amerika Serikat berusaha mencari suatu sistem seluler baru untuk mengantisipasi peningkatan jumlah pelanggan seluler. Teknologi CDMA semakin matang dengan dirampungkannya standar CDMA 2000-1X pada bulan Maret 2000. Standar ini berhasil meningkatkan kapasitas suara dua kali lipat dan mampu mentransfer data berkecepatan tinggi (144 kbps) sehingga CDMA mulai diperhitungkan sebagai pesaing GSM yang lebih dulu mapan. Seiring perkembangan zaman, teknologi CDMA pun terus mengalami evolusi. Pada teknologi CDMA, selain kebal gangguan dan anti penyadapan, kualitas suara yang dimiliknya lebih jernih serta aman bagi kesehatan karena radiasi gelombang radio yang dipancarkan relatif lebih rendah dibandingkan GSM. Secara teknik CDMA berbeda dengan teknologi GSM, yang masih bermain di frekuensi sehingga bila mencapai kapasitas maksimal akan terjadi gagal panggilan (drop call). Pada teknologi GSM masih menerapkan konsep TDMA (Time Division Multiple Access). Percakapan dibagi berdasarkan time slot, atau pembagian waktu. Sedangkan teknologi CDMA sudah menerapkan Kode (Code Division Multiple Access). Dari aspek teknologi, baik GSM atau CDMA merupakan standar teknologi seluler digital, hanya bedanya GSM dikembangkan oleh negara-negara Eropa, sedangkan CDMA dari kubu Amerika dan Jepang. Tetapi perlu diperhatikan bahwa teknologi GSM dan CDMA berasal dari jalur yang berbeda sehingga perkembangan ke generasi berikutnya akan terus berbeda. Sayangnya, para vendor ponsel masih melakukan pertimbangan atas perkembangan pasarnya di Indonesia. Seperti perusahaan Nokia yang masih berkonsentrasi pada teknologi GSM menuju GPRS. Berbeda dengan Nokia, vendor Samsung merespon positif atas teknologi CDMA yang sedang berkembang di Indonesia. Hal ini disebabkan karena Samsung memang raja CDMA di Negara Korea, sehingga Samsung ingin memperluas penetrasi pasar ponsel di Indonesia. Tampaknya operator CDMA di Indonesia masih menggunakan jurus yang dipakai oleh operator GSM dengan memberikan porsi layanan suara lebih banyak daripada layanan content atau data. Memang hingga kini layanan suara masih mendominasi dan menjadi penyumbang utama pendapatan operator telekomunikasi. Tapi, jika operator CDMA dan content provider jeli, aplikasiaplikasi multimedia berbasis CDMA bisa menjadi produk yang digandrungi konsumen (killer application) yang akan menjadi mesin uang baru bagi operator CDMA. Meski sekarang beberapa operator CDMA sudah mulai mencoba menggarap content, namun masih kurang inovatif dibandingkan pesaingnya dari seluler GSM. Kini, dunia telekomunikasi di Indonesia bertambah marak dengan hadirnya beberapa operator berbasis CDMA (Code Division Multiple Access). Pilihan konsumen untuk mendapatkan alternatif layanan telekomunikasi semakin beragam tidak hanya seluler GSM atau PSTN yang lebih dulu dikenal. Meski belum sebanyak GSM, pelanggan CDMA di Indonesia diperkirakan akan semakin tumbuh mengikuti tren. Hal ini karena CDMA menawarkan konsep layanan komunikasi nirkabel masa depan dengan kualitas suara jernih dan koneksi data berkecepatan tinggi. Hingga saat ini di Indonesia telah hadir 10 operator baik GSM maupun CDMA. Mereka adalah Telkom (Flexi), Telkomsel, Indosat, Excelcomindo (XL), Hutchison (3), Sinar Mas Telecom (Smart), Sampoerna Telecommunication (Ceria), Bakrie Telecom (Esia), Mobile-8 (Fren), dan Natrindo Telepon Selular (Axis). Kalau dibagi berdasarkan platform yang digunakan, pemakai GSM selular sebanyak 88%, CDMA selular 3%, dan CDMA fixed wireless access (FWA) 9% (berdasarkan data tahun 2006). Namun dari sepuluh operator itu hanya 3 operator yang memiliki pangsa pasar lebih dari 5% yaitu Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo. PT Telkomsel dan PT. Indosat memiliki cakupan nasional, sedangkan Exelcomindo memiliki cakupan hampir di seluruh wilayah kecuali Maluku. Hal ini menyebabkan tingkat persaingan antar operator di Indonesia mengalami peningkatan. Pada akhirnya, para pelanggan telepon seluler juga yang menikmati manfaat dari persaingan tersebut. Saat ini tercatat ada 5 operator selular yang menggunakan teknologi CDMA. Fren), dan MSI/Mandara Seluler Indonesia. Berbekal Keputusan Menteri Perhubungan/ KM No. 35 Tahun 2004 maka Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom menggunakan teknologi CDMA ini sebagai solusi telepon tetap tanpa kabel (fixed wireless access/FWA) dengan mobilitas terbatas sebagai pengganti jaringan telepon tetap berbasis kabel tembaga (fixed wireline). Mobile-8 dan MSI lebih memilih menjadi operator seluler seperti operator GSM. Dalam perkembangannya, masyarakat ternyata tetap memandang FWA tak ubahnya sebagai telepon seluler sehingga kompetisi telekomunikasi nirkabel di Indonesia semakin ketat. Undang-undang RI no.36/1999 tentang Telekomunikasi memberikan pondasi bagi kompetisi pasar telekomunikasi di Indonesia. Meskipun belum merubah posisi dominan PT Telkom untuk penyelenggaraan jasa telepon tetap, baik untuk domestik maupun SLJJ sampai sekarang. Namun demikian sampai saat ini ada 3 operator yang melayani jasa telepon tetap, tetapi hanya PT Telkom yang dapat melayani seluruh wilayah Indonesia. PT Indosat (“Star One”) hanya beroperasi di Jakarta dan sekitarnya, Surabaya dan sekitarnya, dan wilayah Joglosemar (Jogjakarta, Solo dan Semarang). Sementara pendatang baru seperti PT. Bakrie Telecom, yang menyediakan layanan jasa telepon tetap nirkabel memiliki pangsa pasar yang kecil dan terbatas (layanan daerah Jakarta, Banten dan sekitarnya, namun telah memiliki lisensi FWA untuk seluruh Indonesia pada akhir 2006) meskipun sangat agresif dalam memasarkan produknya. Fren dari Mobile-8 hanya terdapat di pulau Jawa, Madura dan Bali. (http://persaingantelekomunikasi.wordpress.com/). Berikut merupakan hasil survei Frontier tentang Top Brand simcard CDMA Pascabayar dan Prabayar. Dari data tersebut tampak bahwa Esia dan Telkom Flexi merupakan dua operator yang meraih peringkat tertinggi menurut survey Frontier. Telkom flexi menduduki sekitar lebih dari 30% dari pangsa pasar di kedua kategori. Sedangkan untuk Esia menduduki lebih dari 45% pasar operator CDMA.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 12 Jul 2013 20:37
    Last Modified: 12 Jul 2013 20:37
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2692

    Actions (login required)

    View Item