PERANCANGAN SISTEM CONWIP PADA LANTAI PRODUKSI TIPE BUKU TULIS YANG MELINTASI MESIN 321 DI PT SOLO MURNI

NAZIKAH, AFLAKHATUL (2010) PERANCANGAN SISTEM CONWIP PADA LANTAI PRODUKSI TIPE BUKU TULIS YANG MELINTASI MESIN 321 DI PT SOLO MURNI. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (3043Kb)

    Abstract

    PT. Solo Murni merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang percetakan. Produk yang dihasilkan adalah produk stationery yang digolongkan menjadi enam kelompok, yaitu: school supplies, office supplies, writing papers, envelopes, gift wrapping set, dan others. Dengan produk unggulannya buku tulis (kategori school supplies). Sistem produksi yang digunakan adalah make to order untuk order jasa dan ekspor, sedangkan untuk produksi lokal dilaksanakan dengan sistem make to stock. Akan tetapi secara keseluruhan, sistem manufaktur produksi di PT.Solo Murni yaitu make to stock, mencapai nilai 95%, sedangkan yang 5% yaitu make to order. Proses produksi buku tulis dimulai dengan mencetak cover dan isi. Setelah cover dicetak kemudian di-vurnish, glitter/ embosh dan dipotong. Sedangkan untuk isi, setelah kertas isi dicetak kemudian dilipat sesuai ukuran yang diperlukan dilanjutkan proses assembly dengan cover. Waktu proses yang diperlukan untuk menyelesaikan 1 lot cover (3.500 lembar plano) adalah 150 menit untuk cetak, 165 menit untuk vurnish, 64 menit untuk embosh atau glitter dan 12 menit untuk potong cover. Sedangkan waktu proses untuk menyelesaikan 1 lot isi (64.200 lembar plano) adalah 163 menit pada stasiun cetak isi dan 165 pada stasiun lipat isi. Waktu assembly cover dengan isi untuk 1 lot adalah 151 menit. Waktu proses pada stasiun kerja vurnish cover lebih lama dibandingkan stasiun cetak dengan perbedaan yang cukup signifikan, hal ini menyebabkan terjadinya bottleneck pada stasiun vurnish cover. Adanya stasiun kerja yang bottleneck pada proses produksinya (stasiun vurnish cover) menyebabkan besarnya WIP tidak terkendali terutama pada area yang bottleneck. Besar WIP total untuk cover yaitu 38.500 lembar plano dan 216.000 lembar plano untuk isi. Akibatnya, ruang kerja menjadi sempit karena untuk menampung WIP, persediaan material menjadi tinggi, aktivitas material handling terganggu dan peningkatan penggunaan sumber daya (Monden, 1995). Sistem produksi yang lazim yaitu pull dan push system. Pada push system, sistem dikendalikan oleh demand. Sedangkan pada pull system, sistem dikendalikan oleh finished goods. Yang termasuk dalam push system yaitu Material Requarement Planning (MRP). Sedangkan yang termasuk pull system yaitu Just In Time (JIT). Selain sistem produksi tersebut, masih ada sistem produksi lain yaitu Optimum Process Technology (OPT) yang kemudian dikenal dengan Theory of Constrain (TOC) (Saleh, 2006). MRP dikontrol berdasarkan kapasitas kebutuhan dan pengendaliannya bersifat terpusat, JIT dikontrol menggunakan kartu kanban sehingga lebih mudah dan praktis serta pengendaliannya dilakukan oleh stasiun berikutnya. Sedangkan untuk TOC, sistemnya dikendalikan oleh bottleneck operation. Berdasarkan hasil beberapa penelitian, sistem JIT lebih baik dari sistem MRP dan TOC (Saleh, 2006). Sebab, sasaran utama yang ingin dicapai dari JIT adalah, mereduksi scrap atau rework, meningkatkan jumlah pemasok yang ikut JIT, meningkatkan kualitas proses produksi (zero defect), mengurangi inventory (orientasi zero inventory), reduksi penggunaan ruang pabrik, linearitas output pabrik (berproduksi pada tingkat yang konstan selama waktu tertentu), reduksi overhead dan meningkatkan produktivitas total industri secara keseluruhan. Pada sistem JIT ini, sistem dikendalikan oleh kanban sehingga sering disebut sistem kanban. Karena kanban yang biasa digunakan berupa kartu maka sering disebut kartu kanban. Kanban ini berisi informasi sederhana tentang nama barang yang diproduksi, jumlah yang diproduksi, jenis proses yang dikerjakan, jenis proses pekerjaan selanjutnya dan besar lot yang digunakan (Monden, 1995). Pada prakteknya, JIT tidak dapat diterapkan pada semua jenis kegiatan produksi jika order job dengan kegiatan produksi yang pendek, set up yang signifikan, menghilangkan scrap dan besarnya fluktuasi yang tidak terprediksi dari demand (Spearman dkk, 1990). Selain itu, syarat dari sistem JIT adalah lini produksi yang seimbang, pengurutan produksi lancar dan memenuhi prinsip autonomasi (Tejaasih dkk, 2003). Dalam pull system, selain JIT juga dikenal sistem Conwip. Keduanya sama-sama dikendalikan dengan kartu tetapi Conwip lebih fleksibel. Conwip adalah sistem produksi yang dikendalikan dengan satu kartu. Kartu yang digunakan dari awal hingga akhir proses sama. Cara kerja dari sistem ini yaitu ketika material bahan baku sudah diijinkan untuk memasuki Conwip “black box” bahan mengalir dengan bebas seolah–olah seperti sistem dorong (Marek dkk, 2001). Jadi, hanya mesin pertama di lini produksi yang dikendalikan dengan mekanisme pull system (Deuenyas dan Hopp, 1992). Setelah kartu terbebas tugas karena produk telah selesai dibuat maka kartu akan digunakan melepas material yang lain untuk produk yang berikutnya (Spearman, dkk, 1990). Pada kegiatan produksinya, sistem ini menitik beratkan pada area bottleneck. Jadi kapasitas produksinya didasarkan pada kapasitas bottleneck dan besarnya WIP konstan pada semua sistem (Marek dkk, 2001). Pada dasarnya, ketika Conwip diaplikasikan pada flow line serupa dengan TOC. Conwip berorientasi pada pengendalian WIP sedangkan TOC berorientasi pada pengendalian release rate (Spearman dkk, 1990).

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
    Divisions: Fakultas Teknik
    Fakultas Teknik > Teknik Industri
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 12 Jul 2013 20:01
    Last Modified: 12 Jul 2013 20:01
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2675

    Actions (login required)

    View Item