HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN PRAKTEK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 6 SAMPAI 12 BULAN (Di Puskesmas Karangmalang, Kabupaten Sragen)

Yulianti, Jatuningsih (2010) HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN PRAKTEK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 6 SAMPAI 12 BULAN (Di Puskesmas Karangmalang, Kabupaten Sragen). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (707Kb)

    Abstract

    Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik. Status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya dan politik. Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional . Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Selain itu, dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi (Bapenas, 2007 ). Nutrisi merupakan salah satu penentu kualitas Sumber Daya Manusia. Kekurangan nutrisi yang diperlukan tubuh akan mengakibatkan efek yang sangat serius, seperti kegagalan pertumbuhan fisik, menurunnya IQ, menurunnya produktivitas, menurunnya daya tahan terhadap infeksi dan penyakit, serta meningkatkan resiko terjangkit penyakit dan kematian ( Liaumalia, 2006). Sampai saat ini masih terdapat empat masalah gizi utama, salah satunya adalah masalah Kurang Energi Protein (KEP) yang banyak diderita oleh kelompok anak umur dibawah lima tahun (balita). Menurut berat ringannya KEP dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu : ringan, sedang dan buruk. Atau sering juga disebut gizi buruk, gizi kurang, gizi baik dan gizi lebih (Sihadi, 1999).Gizi buruk merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian yang serius, menurut hasil survey kesehatan nasional(susenas) pada tahun 1989 prevalensi gizi buruk anak balita adalah 6,3%. Prevalensi ini meningkat menjadi 11,56% pada tahun 1995 dan menurun menjadi 8,0% pada tahun 2002 (PERSAGI, 2004). Kurang gizi atau gizi buruk dinyatakan sebagai penyebab tewasnya 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun (balita) di dunia. Mayoritas kasus fatal gizi buruk berada di 20 negara, yang merupakan negara target bantuan untuk masalah pangan dan nutrisi. Negara tersebut meliputi wilayah Afrika, Asia Selatan, Myanmar, Korea Utara, dan Indonesia. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Inggris The Lanchet ini mengungkapkan, kebanyakan kasus fatal tersebut secara tidak langsung menimpa keluarga miskin yang tidak mampu atau lambat untuk berobat, kekurangan vitamin A dan zinc selama ibu mengandung balita, serta menimpa anak pada usia dua tahun pertama. Angka kematian balita karena gizi buruk ini terhitung lebih dari sepertiga kasus kematian anak di seluruh dunia (Malik, 2008). Berbagai penelitian membuktikan lebih dari separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi yang jelek. Resiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek (Irwandy, 2007). Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5,4% ; dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13,0%. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%), maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18,5%) telah tercapai pada 2007. Namun demikian, sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional (Depkes RI, 2008). Gizi kurang pada anak dapat terjadi karena tidak cukupnya makanan tambahan dan adanya penyakit infeksi. Penurunan kejadian kurang gizi dapat dicapai dengan peningkatan status gizi, yaitu dengan mencukupi kebutuhan bayi dan anak melalui pemberian Air Susu Ibu dan Makanan Pendamping Air Susu Ibu yang adekuat (Krisnatuti, 2000). Air Susu Ibu memenuhi seluruh kebutuhan bayi terhadap zat gizi untuk pertumbuhan dan kesehatan sampai bayi berumur enam bulan. Sesudah itu Air Susu Ibu tidak dapat lagi memenuhi seluruh kebutuhan, karena itu bayi memerlukan pula makanan tambahan. Dengan demikian makanan untuk bayi yang berumur enam bulan lebih terdiri dari dua unsur pokok yaitu Air Susu Ibu ( atau buat sejumlah ibu yang tidak dapat meneteki anaknya mempergunakan susu formula ) dan makanan tambahan. Komposisi dan konsistensi makanan tambahan bayi harus disesuaikan dengan perkembangan fisiologis dan psikomotor atau dengan kata lain disesuaikan dengan umurnya ( Suhardjo, 2009 ). Perlu diketahui weaning period ( periode penyapihan ) yang dimulai pada usia enam bulan merupakan masa rawan. Karena pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu yang tidak sesuai baik jenis maupun jumlahnya akan memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang bayi. Padahal pada periode ini bayi sedang dalam masa tumbuh kembang. Periode ini juga merupakan dasar bagi kemampuan anak untuk mengkonsumsi berbagai jenis makanan pada periode selanjutnya. Praktek pemberian makanan pada masa ini berkaitan erat dan harus disesuaikan dengan perkembangan ketrampilan makan anak. Ketidaksesuaian dalam pemberian makan pada anak dapat menimbulkan masalah kesulitan makan pada anak terutama di usia balita ( Dini Kasdu, 2004 ). Menurut SDKI 2007 pencapaian pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu usia 6-12 bulan di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 75%, sedangkan pemberian Air Susu Ibu pada bayi usia 0 – 6 bulan baru mencapai 32,4 %. Di Propinsi Jawa Tengah pencapaian pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu sudah mencapai 83,98%. Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen telah melakukan Penilaian Status Gizi (PSG) pada balita commit to user 5 tahun 2009 yang dilakukan secara acak pada 26 Puskesmas di Kabupaten Sragen. Dari hasil PSG (BB/U) tahun 2009 berdasarkan Puskesmas didapatkan hasil prosentasi gizi buruk 3,9 %, gizi kurang 5,0 % dan gizi baik 91,1 %. Dari hasil tersebut Puskesmas Karangmalang merupakan wilayah dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang tertinggi di Kabupaten Sragen . Berdasarkan survey yang dilakukan peneliti di Puskesmas Karangmalang Kabupaten Sragen dan menurut penyampaian ibu-ibu kader dan petugas gizi dari Puskesmas Karangmalang masih banyak ibu-ibu yang belum mengetahui tentang praktek cara memberikan Makanan Pendamping Air Susu Ibu pada anaknya yang meliputi jenis makanan, waktu dan porsi pemberiannya. Untuk itu peneliti merasa tertarik untuk meneliti hubungan tingkat pengetahuan ibu dan praktek pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu dengan status gizi pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Karangmalang Kabupaten Sragen.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister > Magister Kedokteran Keluarga
    Depositing User: Wibowo Anggita
    Date Deposited: 13 Jul 2013 06:29
    Last Modified: 13 Jul 2013 06:29
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2664

    Actions (login required)

    View Item