PEMANFAATAN BIJI DURIAN (Durio zibenthinus) SEBAGAI PENGHASIL BIOETANOL YANG MAMPU MENINGKATKAN BILANGAN OKTAN PADA BENSIN SERTA PENGURANGAN GAS EMISI PADA KENDARAAN BERMOTOR

Nuriyawan, Hepi and Madyani, Ida and Lisnawati, Ririn and Annisak , Siti Khoirun (2016) PEMANFAATAN BIJI DURIAN (Durio zibenthinus) SEBAGAI PENGHASIL BIOETANOL YANG MAMPU MENINGKATKAN BILANGAN OKTAN PADA BENSIN SERTA PENGURANGAN GAS EMISI PADA KENDARAAN BERMOTOR. Universitas Sebelas Maret .

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (350Kb) | Preview

    Abstract

    Akhir-akhir ini kita sering mengeluhkan adanya polutan di udara yang berasal dari kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor menggunakan bahan bakar fosil, diantaranya premium, pertamax, solar, dan pertamax plus. Masyarakat kebanyakan memilih menggunakan premium karena sesuai dengan isi dompet. Namun kelemahan dari penggunaan premium adalah adanya efek timbal yang dihasilkan ketika proses pembakaran dalam mesin. Timbal tersebut akan berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia karena bersifat karsinogenik (penyebab kanker). Itulah mengapa diperlukan suatu bahan yang mampu mengurangi efek timbal hasil pembakaran. Salah satunya dengan menggunakan bahan aditif yang dikenal dengan nama bioetanol. Bioetanol adalah etanol yang dihasilkan oleh alam, terutama tumbuhan yang memiliki kadar karbohidrat yang tinggi. Salah satu bagian dari tumbuhan yang memiliki kadar karbohidrat yang tinggi adalah biji dari buah durian (Durio zibenthinus). Menurut penelitan, setiap 100 gram biji durian memiliki 43,06 gram etanol yang dihasilkan. Sehingga sangat menguntungkan dan bermanfaat. Cara pembuatan bioetanol dari biji durian adalah pertama-tama kita mengumpulkan biji durian dari berbagai daerah. Kemudian mencuci bersih sambil dipotong kecil-kecil. Setelah itu, keringkan di bawah terik matahari hingga benar-benar kering. Lalu setelah kering, dihaluskan dengan menggunakan alat tumbuk hingga benar – benar halus. Kemudian dihidrolisis dengan cara hidrolisis asam, dengan menggunakan asam klorida. Melakukan fermentasi setelah selesai hidrolisis dengan berbagai macam variable berdasarkan jumlah hari fermentasi. Ada yang 3 hari, 4 hari, dan 5 hari. Setelah fermentasi selesai, kemudian melakukan destilasi untuk memisahkan antara etanol dengan air. Untuk menghasilkan etanol yang benar-benar murni, maka ditambahkan absorben zeolite sintesis 3A, dimana dapat menyerap air lebih banyak, sehingga etanol yang dihasilkan bisa lebih murni (mendekati 99,8%). Setelah itu, melakukan pencampuran dengan bensin dengan perbandingan bensin dan bioetanol masing-masing 90:10 ; 80 : 20 ; 70 :20. Untuk menghitung nilai oktan yang dihasilkan, campuran tersebut diuji pada alat bernama Kromatografi Gas – Spektrometer Massa (GC-MC). Setelah menemukan bilangan oktan, kemudian menguji emisi (gas buang) yang dihasilkan oleh mesin yang menggunakan bahan bakar campuran hasil penelitian. Hasil penelitian ini adalah adanya komposisi campuran pada bensin yang ramah lingkungan dan menghasilkan emisi yang baik bagi lingkungan. Dengan demikian, secara tidak langsung kita telah dapat menjaga bumi kita, salah satunya adalah mengurangi emisi. Campuran yang memiliki bilangan oktan akan berbanding lurus dengan penurunan emisi jahat. Masyarakat pun dengan mudah dapat membuat bioetanol tersebut sebagai bahan aditif pada bensin yang ramah lingkungan, bahkan bisa juga menjadi sumber energi pengganti selain bahan bakar fosil yang biasa digunakan. Dengan pembuatan bioetanol ini diharapkan akan mampu mengurangi dampak pemakaian premium atau bensin sebagai zat aditif yang ramah lingkungan, sehingga bumi kita akan terjaga dan mengurangi dampak pemanasan global.

    Item Type: Other
    Subjects: Q Science > Q Science (General)
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Kimia
    Depositing User: dina m
    Date Deposited: 28 May 2016 17:01
    Last Modified: 28 May 2016 17:01
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/26568

    Actions (login required)

    View Item