TINJAUAN TEKNIS DAN ALTERNATIF PENANGANAN KELONGSORAN LERENG PADA RUAS JALAN TAWANGMANGU-CEMOROSEWU STA. 4+600

MUSTAKIM, ALIK (2016) TINJAUAN TEKNIS DAN ALTERNATIF PENANGANAN KELONGSORAN LERENG PADA RUAS JALAN TAWANGMANGU-CEMOROSEWU STA. 4+600. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (47Kb) | Preview

    Abstract

    ABSTRAK Jalan Tawangmangu-Sarangan adalah jalan strategis nasional yang menghubungkan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Topografi ruas jalan berupa bukit dan lembah dengan kemiringan lereng yang terjal dan tanah penyusun material lereng berupa batuan lapuk dan pasir berlanau. Permasalahan yang terjadi yaitu kelongsoran lereng beberapa titik di ruas jalan tersebut yang hampir selalu terjadi pada musim hujan. Pemakaian bor dalam untuk mengetahui stratifikasi lapisan dan parameter tanah tidak dimungkinkan karena bahaya longsor, sehingga sampel tanah diambil dengan cara hand boring. Penggunaan instrumen geolistrik diperlukan untuk mengetahui praduga lapisan tanah dan estimasi bidang gelincir. Penelitian difokuskan pada satu titik sampel di Sta. 4+600. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik tanah dan lapisan penyusun lereng yang mengalami kelongsoran, mengetahui penyebab dan mekanisme longsoran yang terjadi, serta mengetahui alternatif terbaik untuk stabilitas lereng menggunakan sistem pelandaian lereng yang dikombinasikan dengan penerapan terasering. Hipotesa awal penyebab kelongsoran adalah kemiringan lereng yang curam dan sifat material penyusun lereng yang merupakan batuan lapukan. Penelitian menggunakan metode deskriptif, dengan analisis stabilitas (Faktor Keamanan) menggunakan program Plaxis 8.2 dan ditinjau pada kondisi tanah jenuh. Berdasarkan hasil analisa, karakteristik tanah permukaan merupakan batuan lapuk endapan Gunung Lawu, klasifikasi tanahnya adalah pasir berlanau dengan gradasi buruk, dengan tebal sekitar 12m, dan lapisan lempung padat berada di bawahnya. Kondisi lereng awal sebelum mengalami digali memiliki SF=1,25, saat penggalian lereng SF=1 atau tepat sebelum longsor. Kondisi terkini lereng memiliki SF=1,14. Berdasarkan standar SF minimal untuk lereng galian terbuka sebesar minimal 1,5, maka lereng kondisi terkini tidak aman. Perbaikan geometri lereng yang paling optimal adalah dengan melandaikan lereng dengan sudut 380 dan membuat 2 buah trap terasering selebar 7,5m, yang menghasilkan SF=1,542. Kata Kunci: lereng, longsoran, karakteristik tanah, pelandaian, terasering, faktor keamanan

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
    Divisions: Pasca Sarjana
    Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Teknik Sipil - S2
    Depositing User: eky putri
    Date Deposited: 18 May 2016 22:14
    Last Modified: 18 May 2016 22:14
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/26224

    Actions (login required)

    View Item