PENGARUH PERSEPSI POLITIK ORGANISASI PADA PENILAIAN KINERJA DENGAN MANAJEMEN KESAN SEBAGAI VARIABEL MODERASI

Y, Lugman Azhari (2009) PENGARUH PERSEPSI POLITIK ORGANISASI PADA PENILAIAN KINERJA DENGAN MANAJEMEN KESAN SEBAGAI VARIABEL MODERASI. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (737Kb)

    Abstract

    Politik organisasi digambarkan sebagai " tindakan yang tidak secara resmi disetujui oleh suatu organisasi untuk mempengaruhi orang lain guna mencapai tujuan” Greenberg & Baron, (dalam Chen & Fang 2008) akan nampak seperti suatu fakta hidup organisasi tidak bisa diacuhkan dalam kehidupan suatu organisasi. Perilaku politik dalam suatu organisasi seperti tempat berlindung dan tunduk kepada perbedaan di dalam sebuah persepsi. Mereka yang gagal untuk mengenal perilaku berpolitik mengabaikan kenyataan bahwa organisasi merupakan bagian dari sistem politik. Akan menjadi baik apabila semua organisasi atau kelompok – kelompok formal dalam organisasi dapat digambarkan saling mendukung, harmonis, saling percaya, bekerja sama, atau saling menyatu. Suatu wawasan yang nonpolitis dapat mempengaruhi seseorang untuk percaya bahwa pekerja akan berperilaku secara konsisten pada keinginan organisasi. Sebaliknya, suatu pandangan politik dapat menjelaskan banyak hal tentang perilaku yang tampaknya irasional dalam organisasi. Hal tersebut dapat membantu untuk menjelaskan, misalnya mengapa pekerja menahan informasi, membatasi output, mempublikasikan keberhasilan mereka, menyembunyikan kegagalan mereka dan terlibat dalam aktivitas serupa yang bertentangan dengan keinginan organisasi pada efektivitas dan efisiensi. Dalam Robbins (2003), ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku berpolitik yang pertama adalah faktor - faktor individu, para pekerja yang otoriter , cenderung berisiko tinggi, atau memiliki tempat pengaturan eksternal (menyakini bahwa tekanan dari luar diri mereka mengatur takdir mereka) berperilaku secara politis tanpa memperhatikan 1 konsekuensinya terhadap organisasi. Suatu kebutuhan yang tinggi terhadap kekuasaan otonomi, keamanan, atau status, juga merupakan pendukung utama terhadap kecenderungan pekerja untuk terlibat dalam berperilaku politik. Faktor kedua yang mempengaruhi perilaku berpolitik adalah faktor – faktor organisasi, aktivitas perilaku berpolitik lebih merupakan fungsi budaya organisasi karena kebanyakan organisasi yang memepunyai sejumlah besar pekerja dengan karakteristik yang berbeda – beda, masih menunjukkan perilaku berpolitik yang beragam secara luas. Budaya yang ditandai dengan kepercayaan yang rendah, kerancuan peraturan , sistem penilaian kinerja yang tidak jelas, kegiatan yang tanpa alokasi dana penghargaan, pembuatan keputusan secara demokratis, tekanan yang tinggi terhadap kinerja, dan manajer senior yang mandiri akan menciptakan kesempatan bagi terpeliharanya aktivitas – aktivitas politik. Semakin kecil kepercayaan dalam sebuah organisasi, semakin tinggi tingkat berperilaku politik. Jadi, kepercayan tinggi dapat menekan tingkat berpolitik. Membangun kepercayaan, kerjasama dan integritas bukan merupakan hal yang mudah. Proses untuk membangunnya dibutuhkan proses panjang apalagi jika kebohongan dalam proses politik sebelumnya terungkap dan berpengaruh negatif bagi organisasi. Untuk itu diperlukan kemampuan diplomasi dan taktik untuk memperbaiki kembali image yang tercoreng akibat kebohongan masa lalu agar kepercayaan, kerjasama dan integritas dapat dibangun kembali. Menurut Chen & Fang (2008) dalam penelitiannya terdapat tiga dimensi antara lain Organizational practices and policies (praktek dan kebijakan organisasi), Colleagues behavior ( perilaku rekan kerja) dan Go along to get ahead ( Untuk terus mencapai tujuan).

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HB Economic Theory
    Divisions: Fakultas Ekonomi
    Depositing User: Muhammad Yahya Kipti
    Date Deposited: 12 Jul 2013 18:09
    Last Modified: 12 Jul 2013 18:09
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2608

    Actions (login required)

    View Item