Konflik tokoh-tokoh dalam trilogi novel pada-Mu aku bersimpuh, biarkan aku jadi milik-Mu, dan tempatku di sisi-Mu karya gola gong: pendekatan psikologi sastra

Wati, Rianna (2004) Konflik tokoh-tokoh dalam trilogi novel pada-Mu aku bersimpuh, biarkan aku jadi milik-Mu, dan tempatku di sisi-Mu karya gola gong: pendekatan psikologi sastra. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (310Kb)

    Abstract

    Karya sastra sebagai bentuk dan hasil pekerjaan kreatif, pada hakikatnya adalah suatu media yang mendayagunakan bahasa untuk mengungkapkan tentang kehidupan manusia. Oleh karena itu, sebuah karya sastra pada umumnya berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan manusia. Setiap manusia merupakan individu yang berbeda dengan individu lainnya. Ia mempunyai watak, temperamen, pengalaman, pandangan, dan perasaan sendiri yang berbeda dengan lainnya. Namun demikian, manusia tidak dapat lepas dari manusia lain. Pertemuan antara manusia dengan manusia lain tak jarang menimbulkan konflik. Karena kompleksnya, manusia juga sering mengalami konflik dengan dirinya sendiri atau konflik batin. Dengan kata lain, manusia selalu dihadapkan dengan persoalan-persoalan hidup. Bagaimana manusia menghadapinya, tidak terlepas dari jiwa manusia itu sendiri. “Jiwa di sini diartikan sebagai kekuatan yang menjadi penggerak manusia” (Dewantoro dalam Walgito, 1997: 5). Sastra sebagai cermin masyarakat menggambarkan bagian-bagian kehidupan manusia lewat media bahasa. Sastrawan sebagai anggota masyarakat menampilkan kehidupan sekelilingnya serta menciptakan karya sastra untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat (Damono, 1979:1). Sebagai salah satu bentuk karya sastra, novel berasal dari imajinasi serta kreativitas pengarang dalam merespon dan menanggapi persoalan-persoalan yang ada di lingkungannya. Dalam novel, dapat dicermati berbagai hal yang menyangkut hubungan manusia dengan alam semesta, dengan penciptanya, dan hubungan antarmanusia. Sebagai sebuah alternatif, novel memberi ruang lapang pada pengarang untuk membangun sebuah bangunan penceritaan yang menyeluruh, sehingga misi pengarang dapat tersampaikan secara optimal. Karya sastra yang dihasilkan sastrawan selalu menampilkan tokoh yang memiliki karakter sehingga karya sastra juga menggambarkan tentang kejiwaan manusia, walaupun pengarang hanyalah menampilkan tokoh itu secara fiktif. Melihat kenyataan tersebut, karya sastra selalu terlibat dalam segala aspek hidup dan kehidupan, tidak terkecuali ilmu jiwa atau psikologi. Hal ini tidak terlepas dari pandangan dualisme yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya terdiri atas jiwa dan raga. Maka penelitian yang menggunakan psikologi terhadap karya sastra merupakan bentuk pemahaman dan penafsiran karya sastra dari sisi yang lain. “Orang dapat mengamati tingkah laku tokoh-tokoh dalam sebuah roman atau drama dengan memanfaatkan pertolongan psikologi” (Hardjana, 1994: 66). Hubungan antara sastra dengan psikologi adalah, bahwa di satu pihak karya sastra dianggap sebagai hasil aktivitas dan ekspresi manusia. Di pihak lain, psikologi sendiri dapat membantu pengarang dalam mengentalkan kepekaan dan memberi kesempatan untuk menjajaki pola-pola yang belum pernah terjamah sebelumnya. Sehingga hasilnya merupakan kebenaran yang mempunyai nilai-nilai artistik yang dapat menambah koherensi dan kompleksitas karya sastra tersebut (Wellek dan Warren, 1990: 108). Ilmu jiwa menelaah jiwa manusia secara mendalam dari segi sifat dan sikap manusia. Lewat tinjauan psikologis akan menampakkan bahwa fungsi dan peranan sastra adalah untuk menghidangkan citra manusia seadil-adilnya dan sehidup-hidupnya atau paling sedikit untuk memancarkan bahwa karya sastra pada hakikatnya bertujuan untuk melukiskan kehidupan manusia (Hardjana, 1994: 66). Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan, yaitu studi psikologi pengarang sebagai tipe/sebagai pribadi, studi proses kreatif, studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra, dan studi yang mempelajari dampak sastra pada pembaca/psikologi pembaca (Wellek dan Warren, 1990: 90). Berdasarkan pengertian ketiga, dalam studi tipe dan hukum- hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra ini, yang diuraikan di dalamnya bukanlah studi psikologi/eksposisi dari teori psikologi, melainkan peristiwa-peristiwa yang mencolok yang ditemukan pada karya sastra, di mana tokoh-tokoh dalam karya sastra itu dinilai benar-benar psikologi. Benar dalam arti bahwa ada teori psikologi yang cocok untuk menjelaskan tokoh dan situasi cerita. “Kebenaran psikologi baru mempunyai nilai artistik jika ia menambah koherensi dan kompleksitas karya” (Wellek dan Warren, 1990: 108). Jadi pendekatan psikologi adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk menganalisis hasil karya sastra dengan bertumpu pada aspek psikologi atau kejiwaan yang dialami tokoh-tokohnya. Gola Gong mempunyai nama asli Heri Hendrayana Harris, merupakan salah satu penulis muda yang potensial, mempunyai karakter yang kuat dalam penulisannya dan mampu menyampaikan ide-idenya dengan baik. Penggunaan bahasa yang komunikatif dan penyampaian sepenggal puisi di setiap awal episode merupakan salah satu ciri khas Gola Gong. Karyanya yang berupa serial Balada Si Roy sempat populer di kalangan remaja sekitar tahun 1990-an. Karya ini berupa cerita fiksi populer, yang di dalamnya berisi rangkaian cerita pendek (yang kemudian disebut episode). Episode-episode tersebut sebelumnya pernah dimuat secara bersambung di dalam majalah remaja HAI. Tulisannya yang lain berupa novel banyak diterbitkan oleh Gramedia dan Puspa Swara, sedangkan naskah skenarionya pernah ditayangkan di ANTEVE, Indosiar dan RCTI. Beberapa esai lepasnya juga dimuat di beberapa media massa seperti Jurnal Lingkaran, Anita Cemerlang, Tabloid Warta Pramuka, Kartini, HAI, dan Annida (Crisdiyana, 2000: 2). Trilogi novel yang pertama ini pernah diangkat ke layar kaca dengan judul yang sama: Pada-Mu Aku Bersimpuh, ditayangkan di RCTI pada Ramadhan bulan Desember tahun 2001. Helvy Tiana Rosa di sampul belakang Pada-Mu Aku Bersimpuh mengatakan bahwa Gola Gong adalah penulis serba bisa. Karya-karyanya kini tidak hanya berusaha menyajikan cerita yang menarik, tetapi jauh di atas segalanya, ada upaya serius untuk membangkitkan semangat spiritualitas pembacanya (dalam Gong, 2001). Nina M. Armando dari Media Ramah Keluarga (MARKA) di sampul belakang Biarkan Aku Jadi Milik-Mu juga memberikan komentarnya bahwa novel Gola Gong ini enak dibaca karena cerita mengalir lancar dengan bahasa yang bagus. Ada pesan yang dibawa sehingga selain membuat pembaca terhibur dengan cerita yang indah, juga bisa memetik makna dan belajar banyak (dalam Gong, 2001). Novel Pada-Mu Aku Bersimpuh (PAB), Biarkan Aku Jadi Milik-Mu (BAJM) dan Tempatku di Sisi-Mu (TDS) di sampul belakang disebut sebagai trilogi karena teksnya yang saling berkaitan. Hal ini bisa dilihat dari: a) kronologis urutan bulan dan tahun penerbitannya, b) cerita yang saling berkaitan antara ketiga novel tersebut, c) persamaan pada kronologi cerita, tokoh, dan tema yang ada pada ketiga novel tersebut. Alur yang digunakan adalah alur maju, artinya cerita ketiga novel tersebut berkembang dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya secara berurutan. Dalam trilogi novel ini peristiwa dalam PAB berkembang dalam BAJM, demikian juga peristiwa dalam BAJM berkembang dalam TDS. Tokoh- tokoh utama yang menggerakkan cerita dalam trilogi ini adalah Anah, Hakim dan Bashir. Gola Gong dalam trilogi novelnya PAB, BAJM, dan TDS banyak bercerita tentang kehidupan manusia dengan berbagai problema. Trilogi novel tersebut sarat dengan konflik, mengisahkan tentang seorang gadis cantik, Anah, yang kelahirannya tidak diinginkan lantaran lahir di luar pernikahan yang sah. Pada saat dewasa, dia dijodohkan oleh orangtua angkatnya dengan seseorang yang ternyata sudah mempunyai anak istri. Hakim, suami Anah, mengalami tekanan batin yang cukup berat karena ketidakterusterangannya perihal istrinya yang pertama. Konflik keduanya ditambah dengan kehadiran Bashir, adik kandung Hakim yang sejak remaja mencintai Anah, mengetahui kebohongan kakaknya. Konflik mereka terus berlanjut sampai suatu ketika Hakim meninggal karena serangan jantung. Penelitian ini akan menyelidiki konflik batin ketiga tokoh tersebut. Di Indonesia, pendekatan psikologis terhadap karya sastra sudah banyak dilakukan, baik melalui pendekatan ekspresif (menekankan intensi pengarang) maupun pendekatan secara psikologis terhadap karya sastra itu sendiri. Kajian psikologis yang bersifat mimetik banyak dilakukan karena dapat memberikan pemahaman karya sastra secara interdisipliner. Penelusuran yang dilakukan oleh peneliti lewat katalog di perpustakaan secara manual maupun lewat komputer di dua universitas negeri, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, penelitian terhadap trilogi novel PAB, BAJM, dan TDS karya Gola Gong ini belum pernah dilakukan. Hal itulah yang menggerakkan peneliti untuk menjadikan trilogi novel PAB, BAJM dan TDS sebagai objek penelitian. Di dalamnya dicoba mengungkap gerak kejiwaan dari tokoh-tokoh utamanya dalam menghadapi permasalahan yang melingkupinya, sehingga lewat penelitian ini pembaca dapat menangkap makna yang terkandung dalam trilogi novel tersebut secara lebih tuntas. Trilogi novel PAB, BAJM, dan TDS diterbitkan oleh penerbit Mizan Bandung pada waktu yang tidak bersamaan. PAB pada September 2001 setebal 276 halaman, BAJM pada November 2001 setebal 283 halaman, dan TdS pada Maret 2002 setebal 192 halaman. Berpijak dari beberapa hal tersebut, maka penulis mengambil kajian terhadap trilogi novel PAB, BAJM, dan TDS dengan judul : “Konflik Tokoh-Tokoh dalam Trilogi Novel Pada-Mu Aku Bersimpuh, Biarkan Aku Jadi Milik-Mu, dan Tempatku di Sisi-Mu Karya Gola Gong: Pendekatan Psikologi Sastra”.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: P Language and Literature > PK Indo-Iranian
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa > Sastra Indonesia
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:20
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:20
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2585

    Actions (login required)

    View Item