Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Rendah Emisi di Lahan Gambut Melalui Pengaturan Muka Air dan Tanaman Penutup Tanah

ARIFIN, (2016) Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Rendah Emisi di Lahan Gambut Melalui Pengaturan Muka Air dan Tanaman Penutup Tanah. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (13Kb) | Preview

    Abstract

    Perubahan tegakan lahan yang lebih terbuka pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dan penerapan sistem drainase merupakan faktor-faktor utama penyebab meningkatnya emisi CO2 heterotropik. Pengaturan kedalaman muka air gambut yang optimum dan upaya mengembalikan tutupan lahan perlu dilakukan untuk menurunkan emisi CO2 heterotropik gambut. Penelitian ini untuk menguji dan menganalisis kecepatan emisi CO2 dari dekomposisi bahan organik tanah ke atmosfer (fluks CO2 heterotropik) aktual di perkebunan kelapa sawit lahan gambut berdasarkan umur kelapa sawit, kedalaman muka air gambut pada berbagai umur tanaman kelapa sawit, bentuk dan keeratan hubungan antara kedalaman muka air gambut dengan fluks CO2 heterotropik di lapang dan laboratorium, perbandingan fluks CO2 heterotropik di perkebunan kelapa sawit di lahan gambut apabila ditanam Mucuna bracteata dan Calopogonium mucunoides, dan merumuskan model pengelolaan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut rendah emisi CO2 heterotropik dengan pengaturan kedalaman muka air optimum dan penerapan tanaman penutup tanah Mucuna bracteata dan Calopogonium mucunoides. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuantitatif yang terdiri atas penelitian lapang, percobaan lapangan, dan percobaan laboratorium. Hasil temuan mendapatkan bahwa umur kelapa sawit berpengaruh besar terhadap fluks CO2 heterotropik. Semakin tua umur kelapa sawit maka fluks CO2 heterotropik yang dilepaskan semakin tinggi. Umur kelapa sawit semakin tua kedalaman muka air semakin dalam. Kedalaman muka air gambut merupakan penentu terhadap fluks CO2 heterotropik di perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dengan mengikuti persamaan polinomial. Pengaturan kedalaman muka air gambut berdasarkan kedalaman akar yang ditentukan oleh umur kelapa sawit diprediksi dapat menurunkan fluks CO2 heterotropik antara 21,24-42,64%. Penanaman Mucuna bracteata dan Calopogonium mucunoides di perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dapat menekan fluks CO2 heterotropik sebesar 70,65%. Kemampuan memitigasi emisi CO2 heterotropik antara Mucuna bracteata dan Calopogonium mucunoides menunjukan hasil sama baik. Mucuna bracteata mampu menurunkan fluks CO2 heterotropik sebesar 70,73% dan Calopogonium mucunoides sebesar 70,58%. Model pengelolaan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut sebagai upaya memitigasi emisi CO2 heterotropik adalah dengan melakukan pengaturan kedalaman muka air gambut optimum melalui pengaturan kedalaman muka air saluran dan penanaman Mucuna bracteata dan/atau Calopogonium mucunoides secara bersamaan sehingga mampu menekan fluks CO2 heterotropik sebesar 72,49-83,17%. Kata Kunci: kedalaman muka air, lahan gambut, perkebunan kelapa sawit, fluks CO2 heterotropik, Mucuna bracteata dan Calopogonium mucunoides

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister > Ilmu Lingkungan
    Depositing User: bibid widodo
    Date Deposited: 09 May 2016 17:01
    Last Modified: 09 May 2016 17:01
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/25787

    Actions (login required)

    View Item