Morfofonemik Dalam Afiksasi Bahasa Melayu Dialek Betawi

ANGGARANI, ASIH (2016) Morfofonemik Dalam Afiksasi Bahasa Melayu Dialek Betawi. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (364Kb) | Preview

    Abstract

    ASIH ANGGARANI. NIM: S111008023. Morfofonemik Dalam Afiksasi Bahasa Melayu Dialek Betawi. Thesis. Pembimbing I: Prof. Dr. H. Sumarlam, M.S. Pembimbing II: Dr. Dwi Purnanto, M.Hum. Program Studi Linguistik. Peminatan Linguistik Deskriptif, Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Kajian morfofonemik, khususnya dengan objek penelitian bahasa daerah di Indonesia masih jarang dilakukan. Hal ini tentu saja membuka lebar kesempatan bagi linguis untuk meneliti. Alasan yang mendasar bahwa penelitian morfofonemik dengan objek penelitian bahasa daerah karena tidak semua peneliti memiliki kemampuan melafalkan dan memahami bahasa-bahasa daerah. Sulitnya perolehan data berupa tuturan dari narasumber atau penutur asli yang memenuhi syarat juga menjadi kendala penting minimnya penelitian morfofonemik bahasa-bahasa daerah. Hal inilah yang melatarbelakangi peneliti untuk meneliti morfofonemik bahasa Melayu dialek Betawi. Penelitian ini membahas morfofonemik dalam afiksasi dialek Betawi. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya pola khas morfofonemik afiksasi dalam bahasa Melayu dialek Betawi sebanyak 153 pola. Data penelitian berupa kosakata polimorfemik, khususnya kata berafiks, sebanyak 1. 416 kosakata yang diperoleh melalui rekaman tuturan penutur asli bahasa Betawi. Data dikumpulkan menggunakan metode simak libat cakap periode 2012-2013 di wilayah Jakarta meliputi Condet, Gandul, Matraman, dan Mester. Ada tiga tahap dalam penelitian ini, yaitu pertama tahap penyediaan data, penelitian ini menggunakan metode simak dengan menggunakan teknik catat dengan menggunakan transkripsi fonemis. Kedua tahap analisis data, penelitian ini menggunakan metode agih dengan menggunakan teknik urai unsur terkecil untuk mengetahui bentuk, jenis, dan kaidah perubahan morfofonemis akibat afiksasi bahasa Betawi. Dan ketiga tahap penyajian hasil analisis data, penelitian ini disajikan secara informal dan formal. Dengan mengacu pada teori morfofonemik Harimurti Kridalaksana yang mengelompokkan proses morfofonemik bahasa Indonesia ke dalam sepuluh proses morfofonemik, penelitian ini menghasilkan empat proses morfofonemik. Dari analisis tersebut dapat diketahui bahwa terdapat empat proses morfofonemik yaitu proses pengekalan fonem, proses peluluhan fonem, proses pelesapan fonem, dan proses pemunculan fonem. Proses pengekalan fonem merupakan proses morfofonemik yang dominan ditemukan pada penelitian ini. Selanjutnya, proses peluluhan fonem menempati urutan kedua, proses pelepasan fonem, dan terakhir proses pemunculan fonem. Yang menarik dalam penelitian ini adalah adanya perbedaan hasil pengelompokan proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia seperti yang dikemukakan Harimurti Kridalaksana dengan hasil penelitian yang peneliti lakukan. Menurut Harimurti Kridalaksana, Proses pemunculan fonem merupakan proses morfofonemik paling banyak ditemukan dalam kajian morfofonemik bahasa lain, tetapi tidak demikian halnya dengan penelitian ini justru menempati urutan terakhir dengan jumlah pola morfofonemik sebanyak 7 dari 153 pola yang ada. Kata Kunci: proses morfofonemik, afiksasi, dialek betawi, kata berafiks, pola morfofonemik

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
    Divisions: Pasca Sarjana
    Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Linguistik - S2
    Depositing User: eky putri
    Date Deposited: 25 Apr 2016 19:31
    Last Modified: 25 Apr 2016 19:31
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/25510

    Actions (login required)

    View Item