Pengembangan strategi pemasaran usaha kerajinan batik di kecamatan Laweyan kota Surakarta

Muliahandayani, Kunti (2005) Pengembangan strategi pemasaran usaha kerajinan batik di kecamatan Laweyan kota Surakarta. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (362Kb)

    Abstract

    Realitas menunjukkan bahwa keberadaan usaha kecil (small scale enterprises) merupakan salah satu motor penggerak yang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Pengalaman di negara-negara Asia Timur dan Tenggara yang dikenal dengan Newly Industrializing Countries (NICs) seperti Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan menunjukkan karakteristik dari dinamika dan kinerja ekonomi yang baik dengan laju pertumbuhan yang tinggi adalah berasal dari kinerja usaha kecil mereka yang sangat efisien, produktif, dan memiliki tingkat daya saing yang tinggi. Usaha kecil di negara-negara tersebut sangat responsif terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahannya dalam pembangunan sektor swasta dan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berorientasi ekspor (Tambunan, 2000). Di negara sedang berkembang seperti Indonesia, usaha kecil juga mempunyai peran yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Sebagai gambaran, kendati sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56,7% dan dalam ekspor nonmigas hanya 15%, namun usaha kecil dan menengah memberi kontribusi sekitar 99% dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99,6% dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas, 2001). Maka sangat logis, jika akhir-akhir ini pemerintah mulai menaruh perhatian pada sektor usaha kecil dan menengah. Setidak-tidaknya terdapat tiga alasan yang mendasar bagi pemerintah dalam memandang pentingnya keberadaan usaha kecil dan menengah (Aloysius, 2003). Alasan pertama adalah karena usaha kecil dan menengah cenderung lebih baik dalam hal penyerapan tenaga kerja produktif. Kedua, sebagai bagian dari dinamikanya, usaha kecil dan menengah sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa usaha kecil dan menengah memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar. Alasan-alasan inilah yang sangat relevan dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. Menurut Chuzaimah dan Wiyadi (2002), bahwa keberadaan usaha kecil di masa krisis menjadi semakin strategis, tidak saja karena perannya sebagai member penyerap tenaga kerja yang terlempar dari sektor usaha besar, tetapi sekaligus sebagai mesin pertumbuhan untuk pemulihan ekonomi. Secara umum usaha kecil menghadapi permasalahan di bidang manajemen, finansial, teknologi, bahan baku, pemasaran, infrastruktur, serta birokrasi dan pungutan. Namun, sebetulnya kunci dari permasalahan ini adalah terletak pada lemahnya posisi rebut tawar (bargaining position). Lemahnya bargaining position usaha kecil dihadapan para supplier maupun buyer serta tidak transparannya informasi telah menciptakan banyak spekulan yang semakin memperburuk situasi yang dihadapi oleh usaha kecil. Lemahnya bargaining position ini juga menyebabkan dalam kurun waktu yang relatif cukup lama usaha kecil praktis terabaikan. Dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan daya tumbuh dan daya saing usaha kecil, identifikasi kekuatan, kelemahan, serta peluang dan ancaman terhadap usaha kecil sangatlah penting, karena masalah utama yang dihadapi oleh pengusaha kecil adalah pemasaran bukan permodalan (Chuzaimah dan Wiyadi, 2002). Sesuai dengan visi dan misinya, Kota Solo dikenal sebagai Kota Budaya. Namun, pada umumnya masyarakat Indonesia lebih mengenal Kota Solo sebagai Kota Batik. Maka tidaklah mengherankan apabila sampai saat ini usaha kerajinan batik masih menjadi salah satu komoditas andalan Kota Solo. Diantara usaha kecil lainnya, usaha kerajinan batik mempunyai karakteristik yang sangat khusus dan merupakan Kebudayaan Indonesia yang tetap bertahan secara konsisten. Selain itu usaha ini banyak menyerap tenaga kerja dan produknya menggunakan bahan baku yang memiliki kandungan lokal yang menonjol, inovatif di sektor usaha kecil, jumlahnya cukup tersedia, memiliki daya saing tinggi dalam hal ciri, desain, kualitas, harga serta produksinya juga mempunyai nilai tambah yang paling tinggi diantara produk lain. Seiring dengan perkembangannya kini batik dapat dikonsumsi oleh semua kelompok golongan masyarakat, baik golongan masyarakat tradisional yang berada di daerah pedesaan, maupun golongan masyarakat modern yang berada di daerah perkotaan, yang mencakup semua kelompok umur dengan pendapatan yang bervariasi. Bahkan terjadi peningkatan permintaan yang datang dari masyarakat luar negeri terhadap produk batik, hal ini dapat dilihat dari adanya kenaikkan nilai ekspor produk batik asal Kota Solo tahun 2003 yang sebesar 41%. Bukan hanya itu, usaha kerajinan batik telah mendukung perekonomian daerah. Terbukti, sampai sekarang usaha kerajinan batik masih menjadi kontributor andalan bagi pendapatan asli daerah (PAD) Kota Solo sebesar Rp. 6,65 milyar. Disadari akan begitu besarnya peran usaha kerajinan batik dalam perekonomian daerah Kota Solo, maupun dalam penyerapan tenaga kerja. Maka pengembangan usaha kerajinan batik perlu mendapatkan perhatian yang besar baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat Kota Solo, agar dapat berkembang lebih kompetitif bersama pelaku ekonomi lainnya. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dalam penelitian ini peneliti mengambil judul: “PENGEMBANGAN STRATEGI PEMASARAN USAHA KERAJINAN BATIK DI KECAMATAN LAWEYAN KOTA SURAKARTA”.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28 Management. Industrial Management
    Divisions: Fakultas Ekonomi > Manajemen
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:21
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:21
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2545

    Actions (login required)

    View Item