Pengaruh gaya kepemimpinan transformasional, lingkungan kerja, dan tingkat pendidikan terhadap kepuasan kerja karyawan studi pada karyawan asuransi jiwa Adisarana Wanaartha Surakarta (wana artha life)

Intan Permata Sari, Sandra (2006) Pengaruh gaya kepemimpinan transformasional, lingkungan kerja, dan tingkat pendidikan terhadap kepuasan kerja karyawan studi pada karyawan asuransi jiwa Adisarana Wanaartha Surakarta (wana artha life). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1076Kb)

    Abstract

    Seiring dengan kemajuan jaman dan perkembangan teknologi, peranan manusia semakin tergeser dengan tenaga mesin. Akan tetapi satu hal yang tidak dapat tergantikan, bahwa manusia harus tetap menjadi pemimpin setidaknya bagi dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Kepemimpinan sudah ada sejak jaman dahulu kala, dan hingga sekarang tetap ada. Pemimpin adalah orang-orang yang memiliki kecakapan dan kemampuan untuk mempengaruhi dan mengajak, mengumpulkan dan menggerakkan orang lain untuk menanggani persoalan-persoalan yang ada pada waktu itu. Mereka mampu membina orang lain membentuk suatu kesatuan kerja dan bersama-sama mereka rela bekerja, bahkan terkadang berkorban demi terselesaikannya suatu persoalan. Dengan kepemimpinan maka manusia dapat memiliki pengaruh dan kekuasaan. Dan dengan kekuasaan tersebut maka banyak hal yang dapat diraih, baik untuk tujuan pribadi maupun untuk tujuan kelompok. Namun terkadang dengan kedudukannya sebagai pemimpin memungkinkan timbulnya nafsu kesewenangan dan keserakahan dikarenakan merasa menjadi pemenang. Dengan menjadi seorang pemimpin, seseorang mendapat kedudukan tertinggi dalam lingkungannya, berikut kekuasaan, fasilitas hidup, alat kerja dan keuntungan yang melekat pada jabatan kepemimpinannya. Secara teoritik kepemimpinan dapat ditelaah melalui teori-teori yang lahir di negara barat, seperti teori sifat, teori perilaku, teori kontigensi, teori transformasional dan kepemimpinan kharismatik. Akan tetapi dalam banyak hal teori-teori tersebut di dalam prakteknya perlu pertimbangan yang cermat, terutama bagi negara yang latar belakang budayanya berbeda dengan negara pencetus teori. Hal ini terutama disebabkan karena adanya perbedaan epistimologi. Bass dan Avolio (1990) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional tidak hanya mengakui kebutuhan bawahan, tetapi juga mencoba berusaha meningkatkan kebutuhan tersebut dari tingkatan yang rendah ke tingkatan yang lebih tinggi. Dengan demikian proses kepemimpinan transformasional dapat menghasilkan kemampuan bawahan untuk memimpin diri mereka sendiri, mengambil tanggung jawab bagi tindakannya sendiri dan memperoleh imbalan kemandirian yang kuat. Untuk mewujudkan karyawan dengan kinerja yang baik diperlukan adanya perhatian dari pihak manajemen, misalnya dengan progam pengembangan karyawan. Pengembangan karyawan yang ada di organisasi dapat diperoleh salah satunya dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan. Setiap orgainisasi yang menginginkan karyawannya dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien, sama sekali tidak boleh mengesampingkan masalah pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya pendidikan dan pelatihan yang diikuti diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan tersebut. Hani Handoko (2001: 93) mengungkapkan bahwa kepuasan kerja merupakan cermin perasaan terhadap pekerjaannya. Ini tampak pada sikap positif terhadap pekerjaannya serta segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya. Kepuasan kerja seseorang dapat diketahui dari sikap dan hasil kerja yang dilaksanakan. Sikap tersebut dapat positif atau negatif. Sikap positif ditunjukkan pada dukungan yang bersifat suka rela terhadap pelaksanaan kerja, mengalami perasaan senang dalam menghadapi lingkungannya. Ini berarti kemampuan kerja akan tercapai apabila karyawan merasa apa yang didapat dalam bekerja sudah memenuhi hal yang dianggap penting. Hal yang dianggap penting dalam hal ini adalah kepemimpinanan dan kondisi lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan sehingga karyawan terdorong untuk bekerja dengan baik. Menurut Nitisemito (1992: 2) apabila terjadi penurunan dan kegelisahan, merupakan indikasi menurunnya loyalitas karyawan. Bila kegelisahan karyawan dibiarkan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian maka akan menghambat kelangsungan perusahaan dan bila dalam suatu perusahaan mampu menumbuhkan kepuasan kerja maka kegelisahan dan tuntutan yang terjadi dapat ditekan. Ketidakpuasan dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi perusahaan secara langsung tenaga kerja sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu perusahaan dalam menjalankan fungsinya. Dengan demikian perusahaan harus bisa menciptakan kepuasan kerja bagi karyawannya. Melihat dari uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang analisis pengaruh gaya kepemimpinan transforamsional, lingkungan kerja, dan tingkat pendidikan terhadap kepuasan kerja karyawan dengan alasan bahwa penyebab penurunan kepuasan kerja dan maju mundurnya suatu perusahaan terletak pada pucuk pimpinan itu sendiri, bagaimana cara mengatur karyawannya sehingga karyawan merasa ikut memilki perusahaan. Sedangkan kondisi lingkungan kerja yang baik dan nyaman membuat karyawan dalam bekerja lebih produktif, sehingga akan meningkatkan kepuasan kerja karyawannya. Seorang pemimpin berhasil pada umumnya diukur dari produktivitas dan efektivitas pelaksanaan tugas yang dibebankan pada dirinya. Keberadaan pemimpin dalam perusahaan merupakan hal yang sangat penting karena tulang punggung dan memiliki peran strategis dalam mencapai tujuan organisasi. Gaya kepemimpinan yang tepat dapat menimbulkan motivasi karyawan untuk berprestasi, karena sukses tidaknya karyawan dalam mengukir prestasi kerja dapat dipengaruhi gaya kepemimpinan. Lingkungan kerja yaitu menyangkut segala sesuatu yang berada disekitar pekerjaan dan yang dapat mempengaruhi karyawan dalam melaksanakan tugas antara lain adalah pelayanan karyawan, kondisi kerja, hubungan karyawan di dalam perusahaan yang bersangkutan (Agus Ahyari, 1994:125). Lingkungan kerja yang baik yaitu lingkungan kerja yang menyenangkan dan dapat memberikan rasa aman. Lingkungan kerja seperti itulah yang didambakan oleh semua orang. Hal ini dapat memotivasi karyawan untuk bekerja lebih baik, sehingga akan meningkatkan kepuasan kerjanya. Seorang karyawan akan merasa puas dalam bekerja apabila oleh pimpinannya ditempatkan pada bidang yang sesuai dengan keahliannya, dihargai hasil karyanya, atau mendapat pujian dan balas jasa sesuai dengan hasil kerjanya. Selain itu karyawan merasa puas apabila kondisi lingkungan memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan. Tingkat pendidikan karyawan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka kebutuhannya semakin banyak sehingga tingkat pemenuhan terhadap kepuasan kerja juga semakin tinggi. Dalam setiap perusahaan kepuasan kerja karyawan harus diperhatikan. Kepuasan kerja merupakan perasaan sengan seseorang terhadap pekerjaan yang dilakukan. Apabila karyawan merasa puas maka karyawan akan cenderung untuk bekerja dengan baik sehingga produktivitas karyawan akan meningkat pula. Melihat betapa pentingnya faktor kepemimpinanan, lingkungan kerja, dan tingkat pendidikan bagi kepuasan kerja karyawan, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : “ Analisis Pengaruh Gaya Kepemimpinanan Transformasional,Lingkungan Kerja dan Tingkat Pendidikan Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Pada Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha Surakarta “(WANA ARTHA LIFE).

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD61 Risk Management
    Divisions: Fakultas Ekonomi > Manajemen
    Depositing User: Ferdintania Wendi
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:21
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:21
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2531

    Actions (login required)

    View Item